Sonntag, September 26, 2004

Jalan di mata Dzakiyyah

Ada kisah sedikit lucu dan menarik waktu baru di Indonesia dengan iklim yang tentu saja jauh berbeda dengan yang ada di Jerman. Sewaktu kita berkunjung ke rumah saudara di Riau (Kuansing) yang jaraknya tidak berapa jauh dari rumah orang tua sekitar 300 m, kita pergi dengan jalan kaki. Tidak seperti biasanya Dzakiyyah kalau lagi berjalan paling ngga mau di pegang tangannya dan dia lebih asyik berjalan sendiri. Tapi waktu itu Dzakiyyah berusaha menarik tangan saya untuk berjalan di pinggir jalan yang tidak beraspal. Semakin saya tarik ke jalan, tangan dia semakin kencang menarik saya ke pinggir jalan (ke saluran air, yang kebetulan lagi kering). Saya jadi penasaran, akhirnya dia menangis dan berucap, "Ayah, Mama!! Itu bukan jalan kita, itu jalan mobil....jangan disitu!!", ucapnya sambil berteriak ketakutan.
Baru kita sadar, ternyata dia mau mengikutin kebiasaan di Jerman, dimana kalau jalan mobil, sepeda dan jalan orang itu ada pemisahannya. Dan yang namanya jalan mobil yaa..jalan mobil. Dan sedikitpun dia ngga mau dan bahkan melarang kita untuk menginjakkan aspal. Akhirnya, saya gendong Dzakiyyah yang memang sangat ketakutan dan berjalan di saluran air tersebut. Dalam hati saya, ternyata susah juga memperkenalkan iklim baru ini buat anak seumur dia. Mungkin suatu saat semua jalan di Indonesia dipisahkan antara mobil, sepeda dan untuk orang berjalan. Jadi kita ngga perlu lagi berjalan di saluran air. Kapan yaa???

Donnerstag, September 23, 2004

DAA-DBL (bagian terakhir)

Dua bulan sudah saya tak mengupdate blog kesayangan ini dengan berbagai alasan (he..he..). Sejak keluarga "mondok" di Bandung dan saya balik kembali ke Braunschweig untuk melanjutkan draf dissertation yang kudu selesai secepatnya. Alhamdulillah hari ini dissertation tsb sudah saya hantarkan ke fakultas, alhamdulillah dan tinggal menunggu kabar dari universitas dan mempersiapkan ujian yang insyAllah dijadwalkan awal Desember ini. Semoga semuanya berjalan lancar, amien.

By the way, tulisan ini mencoba melanjutkan perjalanan pulang pada akhir Juni yang lalu. Setelah kita menunggu dua jam di Bandara International KL, akhirnya perjalanan menuju Cengkareng, Jakarta yang ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam 45 menit dengan pesawat airbus 330 (kalau ngga salah) mendaratlah di tanah air tercinta. Bertemulah kita dengan keluarga yang sejak pagi menuggu di Bandara. Alhamdulillah, langkah demi langkah dilalui. Mau kemana lagi? Nah, perjalanan domestik kita diteruskan menuju Pekanbaru dengan pesawat GIA. Dan kalau Dzakiyyah ditanya mau kemana? Dia mau menjawab mau ke Indonesia. Indonesia? Ngga tau kalau Jakarta itu juga Indonesia. Letih dan cape terasa hilang saat bertemu dengan keluarga. Sore harinya penerbangan menuju Pekanbaru kita lanjutkan. Welcome to Indonesia.....Panasnya bukan main....!!!