Jum’at pagi pukul 06.00 tgl 24 Juni 2004 sebuah minibus dari FAL telah menunggu di pelataran appartment Rebenring 63 untuk mengantarkan keluarga kecil kami menuju pintu penerbangan Frankfurt yang berjarak sekitar 3 jam dari Braunschweig. Terlalu pagi untuk ukuran anak2 bangun pada jam segini, dengan susah payah saya beserta istri tercinta memasang pakaian Dzakiyyah dan Fathur yang masih terlena dengan mimpi2 mereka, mungkin mimpi bermain dengan teman2nya. Karena waktu yang sedikit tak sempat pula kami berdiskusi tentang mimpi putra-putri kami ini. Padahal kalau waktu sedikit luang kita selalu berdiskusi dan terkadang ketawa dan tersenyum melihat mereka terlelap dan apa lagi saat bahagia menunggu mereka bangun dengan wajah tersenyum. Tapi tidak untuk pagi itu, semua harus serba cepat karena minibus yang sudah dipesan sebulan lalu sudah menunggu dibawah, begitu kata salah seorang teman yang sedang membantu membawa barang dari lt. 8 appartment kami tepatnya zimmer no. 30. Ada juga salah seorang teman baik dan sekalian tetangga dari Mesir yang sejak setengah jam lalu dengan setia membantu segala sesuatunya, namun tidak dengan istri dan anak2nya. Padahal istri dia adalah sohib istri saya yang setiap hari ketemu saat sama2 mengantarkan anak2 ke Kindergarten yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari appartment kami tinggal. Sambil kecapean mengangkut barang ke pintu lift teman tersebut bercerita bahwa istrinya ngga bisa ngantarin lantaran dia sekarang sedang sedih dan menangis. Yang menurut dia juga dia merasa kehilangan salah seorang teman baik yang akan pulang ke Indonesia dan entah kapan ketemu lagi, begitu tuturnya. Saya hanya tersenyum dan sambil berucap, semoga Allah bisa mempertemukan keluarga kita kembali. Segala kesan dan pesan dari istrinya tersebut langsung juga dceritakan pada kita yang membuat kita terharu dan kami juga menyampaikan ucapan terima kasih atas pertemanan baik yang selama ini terjalin. Tentunya tukar-menukar alamat kita lakukan sebagai alternatif silaturrahmi tentunya, walau itu nantinya hanya lewat internet.
Dzakiyyah bersama Frau Tifach dan Frau Gabe saat hari terakhir di KinderGarten
Fathur pun sempat berpose di KinderGartennya Dzakiyyah dengan latar belakang tempat tas dan Jacke
Empat koper besar ditambah 2 tas jinjing dan 2 tas ransel semua telah tersusun rapi di bagian belakang minibus. Setelah berdoa bersama keluarga demi keselamatan di perjalanan saya kembali melihat semua ruangan yang akan ditinggalkan, melihat apakah sudah semua barang terangkut dan kondisi rumah serta lampu dan juga untuk mengamati sudut2 rumah ukuran 33 meter kuadrat ini yang penuh dengan kenangan kita ber-empat. Tak ada secuil sudutpun terhindar dari tatapan, dan mereka hanya membisu melihat kepergian kami. Dalam hati kami bergejolak dan berusaha menahan rasa haru sambil melangkah dan terus melangkah meninggalkan ruangan dan pintu serta berlalu menuju lift. Tak ada kata diantara kita berempat, semua terhenyak dalam pikiran masing2. Dan sebelum sampai ke lantai dasar, Dzakiyyah terbangun dalam pelukan dan langsung tersenyum. Entah apa arti senyumnya itu, atau dia sudah paham arti pulang ke Indonesia yang sudah jauh2 hari kita katakan ini atau tidak. Namun dari mulut mungilnya dia berkata, ke Indonesia...pulang ke Indonesia...! Dari raut wajah yang belum 100% bangun dari tidur ini saya tatap dalam2 dan mencoba merasakan dan mencoba membayangkan apa yang dia bayangkan. Entahlah, sama atau tidak...Sementara si kecil Fathur masih melanjutkan mimpinya didalam gendongan mamanya sampai ke dalam mobil.
Setelah menyalami dan memeluk erat teman2 yang turut mengatar kami masuk ke dalam minibus sebagai tanda akan mengakhiri tapak kenangan di Braunschweig yang telah kami jalani bersama2 lebih dari 3 tahun lamanya. Baik dalam duka maupun dalam suka. Lambaian tangan masih juga mengantarkan sampai ke titik dimana kita tak bisa memandang teman2 setia tadi karena terhalang tembok appartment yang menjulang tinggi. Tak sempat saya melihat raut wajah istri saat detik2 terakhir meninggalkan Braunschweig karena saya pun larut dalam perasaan sedih dan sedih yang mendalam. Dan melajulah minibus menuju arah Frankfurt.