Mittwoch, November 24, 2004

Today, ULTAH Fathur yang kedua

Dua tahun sudah umur ananda Fathur yang bernama lengkap Ahmad Fathurrahman Rosyadi. Braunschweiger ini lahir di Klinikum Cellerstrasse 38, yang kurang lebih 5 menit dari appartment kami tinggal.

Teringat waktu itu, sehabis berbuka puasa hari yang ke-19 dan memasuki malam ke-20 Ramadhan 1423H, mamanya sudah mulai sakit2-an pertanda bayi mau keluar, sekitar jam 19.00. Akhirnya saya telphon Pak Wo Rayandra yang tinggal satu appartment dengan kita. Alhamdulillah ternyata ada brother Nadeem disana yang bersedia mengantarkan kita ke Klinikum dengan mobil sedan putihnya (danke noch mal mein Brueder).


Ini dia yang lagi ULTAH, hallo bos lagi lihat apa tu? Posted by Hello


Eh ada satu lagi, Dzakiyyah waktu itu sudah tidur malam. Pikir punya pikir, akhirnya kita telphon teman baik kita Pak Hendarko dan istrinya Mbak Susi. Alhamdulillah mereka segera datang ke apartement kita walau jaraknya cukup jauh. Sementara Dzakiyyah tidur di tunggui kel. Pak Hendarko, kita meluncur ke Klinikum Cellerstrasse. Terima kasih juga sekali lagi buat Pak Hendarko dan Mbak Susi yang telah berjasa buat kami, thanks. Padahal waktu itu Mbak Susi juga lagi hamil 7 bulan.

Alhamdulillah lahirlah si ganteng Fathur sekitar jam 22.30. Alhamdulillah, malam Ramadhan yang penuh berkah bagi kami sekeluarga. Ya Allah, semoga kami sanggup memegang amanah yang Engkau titipkan kepada kami. Dan berikanlah kami petunjuk untuk mendidiknya dijalan yang Engkau ridhoi.


Di Klinikum ini Fathur lahir Posted by Hello


Dan selamat ulang tahun buat ananda Fathur, walau saat ini kita berjauhan, doa ayahanda selalu buatmu, buat Dzakiyyah dan Mama kalian. Semoga ananda tumbuh menjadi anak yang sholeh, hidup penuh barokah buat keluarga, ummat dan agama serta masa depan yang cemerlang. Selalu dilimpah rezki oleh Allah SWT hendaknya, amien.

Peluk cium dari ayahandamu,
Braunschweig, Mittwoch, 24. November 2004

Samstag, November 20, 2004

Kami Dengar juga Takbir itu

Braunschweig bukanlah sebuah kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Penduduknya pun cuma sekitar 240 ribu orang. Walau demikian, kota Loewe (Lion) ini adalah kota terbesar kedua setelah Hannover (IbuKota) di negara bagian Niedersachsen, Jerman. Di kota kembar Bandung ini “terdampar” lah kami, ada yang sedang doktor arbeit, student (diplom/master), sprachkurs, special project, pekerja dan yang sudah menetap lama disini. Berapa orang jumlahnya? Mungkin sekitar 30 orang lah.

Nah, inilah sekelumit CerBer (Cerita Bergambar) kami saat memeriahkan Hari Raya Idul Fitri 1425H. Selamat menikmati kebersamaan dari kami, keluarga besar muslim (Indonesia dan Malaysia) Braunschweig tentunya tak lupa juga mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri, dan Mohon Maaf Lahir dan Bathin”. Oh ya, sebelum lihat foto, alangkah baiknya kita renungkan makna hadist di bawah ini.

"Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasul pada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR Bukhari Muslim).

Oleh sebab itu mulai saat ini, Hari Raya Idul Fitri, kita jadikan moment untuk meningkatkan tali silatuhrahmi, membuang jauh? rasa permusuhan dan kebencian. Marilah kita tingkatkan rasa sayang kita, rasa cinta kita buat Ibunda, Ayahanda, Istri, Suami, anak? dan saudara? kita, saudara dekat, saudara jauh serta ummat, bahkan makhluk Allah lainnya. Mulailah dari lingkungan keluarga, sebagai lingkup terkecil dalam masyarakat. Kemudian tetangga, handau taulan, masyarakat dan negara. Semoga kita selalu dirahmati oleh Allah SWT hendaknya, amien.

Kelompok cilik, teman2 Dzakiyyah. Dari kiri-kanan; Sheila, Evelyn, Masyitha dan Mahdi (adeknya Masyita). Di paling kanan udah ngga cilik lagi... Posted by Hello

Brother David (kiri) dan brother Nadeem (kanan). Yang tengah sih bukan bule he..he.. Posted by Hello

Makan sih makan, photo jalan teruuuus. Lihat paling belakang siAbang Hussen pake kopiah dan baju batik (hallo Bang!).  Posted by Hello

Salah satu Pojok Gosip....(tetaaap) he..he..(kiri-kanan): Ibu Susi, Manda lagi gendong Nayla (adeknya Layyina), Mbak Helmi, Ibu Betty, Mbak Tutty dan Feza (nah ini juga pertama kali lebaran diJerman, sedih ngga yaa?). Posted by Hello

Beginilah suasana Halal Bihalal, habis lapar sih. Menu?? Waw semuanya ada....(made in Indonesia). Makasih Ibu2 yang sudah menyiapkan menu lebaran kita ini, danke. Posted by Hello

Ini "pasukan basah kuyup" dari negeri Jiran plus Imron (tengah) dan siDio jongkok (mau sungkem ya Mas? he..he..) Posted by Hello

Suasana dingin tak mengurangi minat berphoto di depan Masjid. Mbak Aida (Istri Pak Wan), Ibu Susi plus Pak Hendarko yang lagi gendong Layyina, Idhil (jangan cedihhh yaa, lebaran pertama di Braunschweig), Bang Ricky (Si Akang yang kalem tea, damang Kang? he..he..), Ibu Ushe (soal masak enak, ya Ibu ini jagonya) disampingnya si Misua Ibu Ushe (Pak Marsin, si Juragan) dan saya (lagi..lagi..saya, sorry) Posted by Hello

Rebutan berphoto sehabis sholat Ied (kiri-kanan); Bang Ricky yang lagi kehausan, Mas Heru baru pertama x lebaran di Jerman, SiKumis (handsome ya he..he..), Dio (pake baju Haji), Pak Hendarko (takut cameranya jatuh x ye). Dibelakang siapa aja? SikacaMata Feza, Popeye, GusDur dan Mahadi (kelihatan dikit). Posted by Hello

Beginilah suasananya H-2, senyuman terpaksa bujang2 dan bulog yang rindu balik kampong. Siapa aja mereka (Searah jarum jam); Saya, Dio, Robby, GusDur, Idhil, Ricky, Popeye dan Peza. Posted by Hello

Donnerstag, November 11, 2004

Sonntag, November 07, 2004

GarudaEuro tak bersayap lagi....


GarudaIndonesia Posted by Hello

Seiring dengan pergantian waktu dari musim gugur ke dingin, disaat itu pula Garuda Indonesia tak mengepakkan sayapnya lagi tujuan Amsterdam-Jakarta. Penutupan jalur ini pula (1/11/2004) sebagaimana yang dirilis DetikCom, menandai berakhir pula keperkasaan Garuda Indonesia menjelajahi Eropa. Frankfurt-Jakarta dan London-Jakarta sudah lebih duluan tutup buku. Sedih, sediiih..bangeet. Masih teringat cerita teman yang mau pulang, dengan nasionalisme yang tinggi untuk naik Garuda, rela transit di Amsterdam (dari Hannover-Jerman). Tapi sekarang tak ada lagi kepak-an "Burung Garuda" di benua Eropa. Tak ada lagi. Mau pulang kampung pake apa ya? Ya terpaksa numpang pesawat negara tetangga. Oh Garuda...Oh Garuda....

Untuk sedikit menghibur diri, mari kita nikmati LAGU INI...KLIK, Please

Samstag, November 06, 2004

Oleh2 dan doa dimata Dzakiyyah

Pagi ini saya menelfon keluarga, Dzakiyyah yang pertama mengambil telfon sambil halo..haloo! Maklum pake karte terkadang bagus, kadang juga ngga jelas. Maklum harganya billig; Jakarta 3 ct dan kota lainnya 6 ct per menit.

InsyaAllah tak lama lagi pulang, maka pagi ini saya tanya Dzakiyyah, mau oleh-oleh apa dari Jerman. "Dzakiyyah mau oleh-oleh apa", tanya saya. Dengan sigap dia menjawab, "Ayuk mau boneka, boneka yang banyak, truss baju yang ada bonekanya juga truss apa lagi yaa? Pokoknya Ayah harus banyak bawa oleh-oleh buat Ayuk!"
"Lho, kok oleh-olehnya banyak banget Dzakiyyah, ntar uang kita kan habis buat oleh-oleh".
Dengan santai dia menjawab, ya ngga apa-apa uang kita habis, disinikan ada Allah, nanti Ayuk berdoa pada Allah biar kita diberi rezki yang banyak", celetuknya. Semoga doa Dzakiyyah diterima oleh Allah SWT, amien.

Mittwoch, Oktober 27, 2004

Mama, apa Ayah lihat bulan itu?

Hampir empat bulan sudah Dzakiyyah dan Fathur tak melihat Ayahnya yang sedang menyelesaikan pendidikannya di Jerman. Hanya suara sayup2 dan terkadang terputus via telefon saja yang kerap tiap hari menyapa mereka disana, di Bandung. Terkadang mereka bersemangat mengangkat telefon dan kadang juga nggak mau bicara sama sekali, mogok. Kalau lagi ingin bicara dengan Ayahnya, setiap dering telefon dari siapapun mereka berdua berlari, sambil berteriak “Ayah...Ayah...Ayah!”. Lalu bila tidak Ayahnya yang diseberang sana, wajah mereka sedikit suram dan gagang telefon diberikan sama Mamanya. Dengan siapapun mereka akan “tutup mulut”. Yah, begitu lah terkadang hari2 mereka lalui.

Namun dunia anak2 tak selamanya mereka terhenyak memikirkan dimana Ayahnya berada, entah mereka lupa, atau asyik bermain atau memang tak mau membicarakannya. Apalagi umur Dzakiyyah yang baru mau menginjak 4 tahun dan Fathur November ini 2 tahun. Barangkali hanya suasananya saja yang memang total berubah dari kehidupan sekitar 3 tahun di Jerman dan pindah ke Indonesia yang “asing” bagi mereka.

Pernah sewaktu hari2 pertama di Indonesia, Dzakiyyah menangis tersedu-sedu. Ternyata dia mau naik pesawat (kembali ke Jerman) dan mau naik lift. Memang setiap hari dia naik lift ke appartment yang terletak dilantai 8, di Braunschweig. “Ayuk mau pulang, ayuk mau naik pesawat, naik lift....! Ini bukan rumah kita, ayuk ngga mau..ngga mau!!!”, segudang kata2 yang terucap sehari sampai di Indonesia. Tak terasa air mata kita juga mengalir mendengar ucapan lugu dia. Sambil memeluknya kita berusaha menghibur biar dia bisa tidur, karena capek dalam perjalanan.

Kemaren menjelang tengah malam Dzakiyyah berucap saat dia duduk bersama Mamanya dan adik kesayangannya Fathur, diberanda rumah “Mama..Mama...itu ada bulan Mama...! Oh bulan, sampaikan salam ayuk buat Ayah tersayang...”. Sambil membuka dua tangannya dia berdoa, “Ya Allah, mudahkan rezki Ayah, biar bisa beli susu buat ayuk dan adek”. Mamanya hanya menatap tertegun, seakan tak percaya. Trus Dzakiyyah bertanya, “Mama, apa Ayah lihat bulan? Apa Ayah ada di bulan, Mama?.......

Sonntag, Oktober 24, 2004

Harimau Sumatra di Halte bus


Sumatra-Tiger Posted by Hello

Kemaren kaget juga lihat werbung (iklan) di halte bus, yang biasanya menampilkan photo2 setengah bugil (maaf) yang kagak nyambung dengan yang diiklankan, ternyata iklan kali ini benar2 bugil (maaf lagi dong!!). Seekor harimau Sumatra (Sumatra-Tiger) dengan gagah menghiasi dinding halte bus di depan institut saya. Kalau lihat iklan ini di Indonesia sih kagak kaget, ini di Jerman yang sangat jauh dari habitat Si Raja Hutan ini (Sumatra). Iklannya layanan ini isinya begini
"3 Euro stoppen die Säge
Retten Sie seine Heimet
wwf.de"
Trus dibawahnya tertulis, Mit Ihren 3 Euro im Monat hat der lebensraum der Letzten 500 Sumatra-Tiger noch eine Change
Cerita selengkapnya bisa dilihat di WWF.DE.

Ternyata orang lain pun peduli dengan kekayaan hayati kita, bagaimana dengan kita sendiri???

Samstag, Oktober 23, 2004

Bagaimana Ramadhan di negeri orang?

Sudah tahun ke-5 saya melaksanakan Ramadhan di German, sejak tahun 2000 M (1421 H) yang lalu. Di tahun pertama datang dan Ramadhan kali ini saya sendiri tanpa kehadiran anak2, istri dan keluarga, sedangkan 3 tahun terakhir kita bersama-sama di Braunschweig menyambut kehadiran bulan penuh barokah ini. Wah sedih juga siiih, siapa yang ngga sedih.

Suasana Ramadhan? Tak ada lantunan azan yang menggema dan beduk dari masjid yang menandakan maghrib tiba dan saatnya menyantap hidangan buka puasa. Tak ada pula rombongan orang2 serta ceria anak2 berlari menunju masjid untuk menunaikan ibadah sholat taraweh. Apalagi pemandangan pasar kaget disepanjang pasar dan jalanan yang menjajakan kolak dan makanan khas bulan puasa. Pun tak terlihat kesibukan orang2 belanja dipasar mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut lebaran Idul Fitri. Apalagi suasana berdesakan di bus, kereta, kapal dan pesawat terbang masyarakat yang mau mudik lebaran untuk bertemu keluarga tercinta. Semua ini tak terlihat, sudah lima tahun sejak saya „nyantri“ di Braunschweig ini.

Bagaimana suasana puasanya, jika sendirian? Sesekali saya lihat jadwal buka puasa dari lembaran yang dibagikan dimasjid minggu yang lalu. Sekian menit lagi, dan tak lama kemudian terdengar suara azan berkumandang dari komputer kerja yang memang sudah diinstal program azan dari IslamicFinder , danke..thanks..terima kasih, IslamicFinder. Seteguk teh panas yang sudah disediakan 5 menit yang lalu saya teguk (tentunya setelah baca doa doong!), dan makan roti yang memang selalu ada di laci kantor. Kemudian pergi menuju toilet untuk berwuduk dan kemudian membentangkan sajadah disisi meja kantor yang berukuran sekitar 5x6 m, dan terus sholat maghrib. Kemudian saya melanjutkan pekerjaan (lagi), karena memang belum lapar sampai jam 8 malam, baru pulang ke guesthouse naik sepeda sekitar 5 menit. Baru kemudian mempersiapkan makan malam, lalu melaksanakan ibadah lainnya.

Lain cerita kalau ada acara buka puasa bersama dan undangan dari sahabat. Buka puasa bersama kita laksanakan sekali seminggu bersama muslim Indonesia dan Malaysia di kota ini, setelah buka puasa kita lanjutkan dengan sholat taraweh bersama. Makanannya?...Wow banyaak banget, karena ibu2nya rajin-rajin serta bergiliran membawa makanan, tentunya „selera nusantara“. Undangan dari teman, juga sering (bangeet), alhamdulillah rasa rindu sama keluarga sedikit banyak terobati dengan kehadiran saudara2 yang sudah kayak keluarga juga. Bagi bujangan, termasuk bulog (he..he..) enak juga diundang makan, jadi ngga perlu masak. Cuma saya juga sedih juga, tak bisa mengundang teman2 kayak tahun2 lalu karena saya ngga sempat masak, sementara istrikan sedang di Indonesia. Jadi kebalik, malah sering diundang…! Selamat menjalankan ibadah puasa. Udah dulu yaa, soalnya mau pergi buka puasa di rumah Pak Hendarko, danke Pak Hendarko (nah, undangan lagi kan??).

Dienstag, Oktober 12, 2004

Marhaban ya Ramadhan 1425

Tak ada gading yang tak retak...
Ramadhan 1425 H bakal menjelang, dengan segala kerendahan hati, kami sekeluarga (Imron, Eka, Dzakiyyah dan Fathur) mohon maaf kepada saudara2ku, jika ada perkataan, tulisan dan perbuatan yang kiranya menyakiti hati saudara2ku, selama berinteraksi baik lewat internet ataupun darat. Sekali lagi mohon maaf, dan selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga amal ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT hendaknya, amien.

salaman Posted by Hello

Sonntag, Oktober 10, 2004

Professor naik sepeda?

Beberapa minggu yang lalu saya janjian mau ketemu salah seorang professor di TU Braunschweig. Seperti biasa, sebelum bikin termin saya telpon dulu, kapan saya bisa bertemu dia. Ternyata, pas saya telpon dia sedang ngga ada diruangan, dan yang ngambil salah seorang studentnya di labour tsb. Dengan ramah dia bialang, professor sedang keluar dan tolong kasih nomor telefon anda biar dia nanti yang telefon balik. Ok, jawab saya dan saya tinggalkan nomor cuma saya pesan, telfon siang saja karena pagi ini saya ada termin lain. Prolog seperti ini selalu menjadi kebiasaan dalam membuat janji, dan waktu pertama berkenalan dengan tradisi janji-janjian di Jerman agak sungkan juga. Masak dia (professor) mau telfon balik kita. Tapi begitu lah adanya.

Setelah siangnya akhirnya kita bikin janji, saya akan ke tempat dia besoknya. Kata dia kalau dapat pagi dan mohon telfon lagi sebelumnya (kalau bisa), karena dia sedikit sibuk mempersiapkan seminar tahunan dan dia salah seorang komitenya. Karena saya belum pernah ke institutnya dia, maka saya nanyakan alamatnya, serta halte bus disana. Lalu dia menjelaskan, ternyata nama halte busnya dia ngga tahu. "Wah saya ngga hapal nama haltenya, soalnya saya ke kantor selalu naik sepeda", selanya. Profesor naik sepeda? Memang sih banyak profesor disini yang hobby naik sepeda, walau dia punya mobil. Coba kalau dikita professor naik sepeda??!!

Sonntag, September 26, 2004

Jalan di mata Dzakiyyah

Ada kisah sedikit lucu dan menarik waktu baru di Indonesia dengan iklim yang tentu saja jauh berbeda dengan yang ada di Jerman. Sewaktu kita berkunjung ke rumah saudara di Riau (Kuansing) yang jaraknya tidak berapa jauh dari rumah orang tua sekitar 300 m, kita pergi dengan jalan kaki. Tidak seperti biasanya Dzakiyyah kalau lagi berjalan paling ngga mau di pegang tangannya dan dia lebih asyik berjalan sendiri. Tapi waktu itu Dzakiyyah berusaha menarik tangan saya untuk berjalan di pinggir jalan yang tidak beraspal. Semakin saya tarik ke jalan, tangan dia semakin kencang menarik saya ke pinggir jalan (ke saluran air, yang kebetulan lagi kering). Saya jadi penasaran, akhirnya dia menangis dan berucap, "Ayah, Mama!! Itu bukan jalan kita, itu jalan mobil....jangan disitu!!", ucapnya sambil berteriak ketakutan.
Baru kita sadar, ternyata dia mau mengikutin kebiasaan di Jerman, dimana kalau jalan mobil, sepeda dan jalan orang itu ada pemisahannya. Dan yang namanya jalan mobil yaa..jalan mobil. Dan sedikitpun dia ngga mau dan bahkan melarang kita untuk menginjakkan aspal. Akhirnya, saya gendong Dzakiyyah yang memang sangat ketakutan dan berjalan di saluran air tersebut. Dalam hati saya, ternyata susah juga memperkenalkan iklim baru ini buat anak seumur dia. Mungkin suatu saat semua jalan di Indonesia dipisahkan antara mobil, sepeda dan untuk orang berjalan. Jadi kita ngga perlu lagi berjalan di saluran air. Kapan yaa???

Donnerstag, September 23, 2004

DAA-DBL (bagian terakhir)

Dua bulan sudah saya tak mengupdate blog kesayangan ini dengan berbagai alasan (he..he..). Sejak keluarga "mondok" di Bandung dan saya balik kembali ke Braunschweig untuk melanjutkan draf dissertation yang kudu selesai secepatnya. Alhamdulillah hari ini dissertation tsb sudah saya hantarkan ke fakultas, alhamdulillah dan tinggal menunggu kabar dari universitas dan mempersiapkan ujian yang insyAllah dijadwalkan awal Desember ini. Semoga semuanya berjalan lancar, amien.

By the way, tulisan ini mencoba melanjutkan perjalanan pulang pada akhir Juni yang lalu. Setelah kita menunggu dua jam di Bandara International KL, akhirnya perjalanan menuju Cengkareng, Jakarta yang ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam 45 menit dengan pesawat airbus 330 (kalau ngga salah) mendaratlah di tanah air tercinta. Bertemulah kita dengan keluarga yang sejak pagi menuggu di Bandara. Alhamdulillah, langkah demi langkah dilalui. Mau kemana lagi? Nah, perjalanan domestik kita diteruskan menuju Pekanbaru dengan pesawat GIA. Dan kalau Dzakiyyah ditanya mau kemana? Dia mau menjawab mau ke Indonesia. Indonesia? Ngga tau kalau Jakarta itu juga Indonesia. Letih dan cape terasa hilang saat bertemu dengan keluarga. Sore harinya penerbangan menuju Pekanbaru kita lanjutkan. Welcome to Indonesia.....Panasnya bukan main....!!!

Freitag, Juli 23, 2004

DAA-DBL


Tatapan Dzakiyyah dan Fathur di bandara antar bangsa KL-Malaysia


Bagian keempat
„Pakcik ambil kursi tige saje kah?“, tanya seorang pramugari beberapa saat sebelum pesawat take-off. “Iya!” jawab saya pendek sambil melihat ke arah suara datang. Dengan sedikit berpikir dan tersenyum khas pramugari, “Oke lah, Pakcik! Nanti akan saye carikan bangku yang kosong, dan tak apa2kan nanti jaraknya berjauhan?”, tanyanya meyakinkan. “Nga! Ngga apa2”, jawab saya dengan bersemangat tentunya. Alhamdulillah ternyata setelah pintu pesawat ditutup yang menandakan ngga bakalan ada lagi penumpang yang akan masuk, pramugari tadi kembali mendatangai kami dan meyakinkan bahwa yang kosong itu pas disamping kita. Jadi, yang tadinya kita pesan 3 kursi (1 depan dan 2 dibelakangnya), ternyata kita dapat 6 kursi kosong. Kita sama2 mengucapkan alhamdulillah. Ternyata Allah sangat sayang sama kita.

Di saat pesawat perlahan2 meninggalkan bandara, saya mengeluarkan videocamera untuk mengabadikan detik2 berharga tsb. Moncong kamera saya arahkan ke salah satu jendela sebelah kanan yang kebetulan ada seorang kakek Jerman yang berumur sekitar 65 tahunan yang juga sedang asyik dengan videocameranya. Dia mengacungkan jari jempol sebari tersenyum sebagai ungkapan mari kita abadikan pemandangan ini, begitu kurang lebih. Dengan semangat saya memberitahukan Dzakiyyah proses take-off nya pesawat dan sekalian menunjukkan pemandangan indahnya kota Frankfurt yang dilihat dari ketinggian. Perlahan dan pasti pesawat bergerak menuju landasan pacu, putar haluan ke arah yang dituju, mulai cepat dan sangat cepat lalu terasa pesawat sudah mengarah menuju awan dan terbang, terus terbang. Dzakiyyah antara acuh dan tak acuh melihat rumah2 dan gedung2 tinggi di kota Frankfurt yang perlahan mulai mengecil. Terlihat juga dengan jelas kelokan2 sungai Main yang membela kota internasional ini dan salah satu aset yang menjadi objek wisata dan kebanggaan kota ini.

Saya perhatikan dalam2 Dzakiyyah dan Fathur, tak ada sedikitpun mereka takut dan juga tak ada sedih. Mulailah Dzakiyyah mengambil koran dan membukanya seperti orang2 yang duduk disamping. Tentunya hanya lihat dan belum mengerti isinya. Trus ambil lembaran petunjuk keselamatan penerbangan. Lalu ditaruhnya lagi, sampai akhirnya dia menemukan keasyikan sendiri dengan remote video/radio yang ada disisi kanan seatnya. Sementara Fathur sudah mulai bosan duduk sendirian. Sesekali dia berusaha melihat Ayuknya yang duduk dikursi depan. Sedangkan mama mereka memejamkan mata untuk menghindari mabuk penerbangan. Untuk Fathur inilah pertama kalinya terbang dengan pesawat, karena dia lahir di Jerman dan belum pernah pulang ke Indonesia.


Dzakiyyah lagi asyik mendengarkan musik


Setelah pesawat mencapai ketinggian tertentu, sekitar 8.000-10.000 feet mulai pramugari menyebarkan menu makanan yang ditawarkan ke penumpang. Tidak susah memilih makanan naik MAS ini, karena selera melayu dan juga ditulis halal. Tinggal memilih selera. Nah, pembagian makanan Dzakiyyah dan Fathur serta penumpang anak2 lainnya mendapatkan paket makanan paling duluan baru yang lainnya. “Selamat menjamu selera!”, itulah kata pramugari setelah menghidangkan makanan kepada kita. Wow enak bangeeet makanannya. Pokoknya nanti kalau mau terbang lagi naik MAS dech. Makanan dan minuman datang silih berganti sampai hari larut malam. Pesawat terus terbang menuju Kuala Lumpur. Dzakiyyah asyik dengan nonton video Tom & Jerry yang memang film kesukaannya. Fathurpun sudah beranjak ke tempat kita, sambil dia bolak balik jalan kesana-kemari. Akhirnya merekapun tertidur pulas dengan selimut warna ungu kotak2. Dzakiyyah tidur dengan dua bangku dan Fathur cukup dengan satu bangku saja. Sesekali video menayangkan arah Makkah (Kiblat) yang menunjukkan arah sholat bagi yang akan menunaikan sholat Magrib atau Isya.


Fathur mulai bosan duduk sendiri di seatnya


Duabelas setengah jam kurang lebih mendaratlah Boeing 777-200 yang kami tumpangi di Bandara Antar Bangsa KL. Waktu tempatan menunjukkan pukul 07.00 shubuh, tanggal 25 Juni. Alhamdulillah, satu estafet penerbangan telah kita lalui. Sambil mencari dan bertanya gate penerbangan tujuan Jakarta kamipun naik kereta listrik menuju lokasi pemberangkatan selanjutnya. Suasana masih sedikit gelap dan wajah2 melayu simpang siur dengan aktivitas masing2.

Donnerstag, Juli 15, 2004

DAA-DBL


Fathur dan Dzakiyyah berpose di bandara Frankfurt


Bagian ketiga
Bandara internasional Frankfurt, salah satu tempat yang menyimpan kenangan manis yang tak terlupakan. Pada tanggal 26 Mei 2001 tepatnya hari Sabtu pagi sekitar jam 07.00, 3 tahun yang lalu saya untuk pertama kalinya melihat si buah hati Dzakiyyah yang datang bersama istri tercinta dari tanah kelahiran, Indonesia. Sudahlah lahir tanpa kehadiran saya disisinya, karena pada saat dia dalam kandungan sekitar 6 bulan, Oktober 2000 saya harus memutuskan pergi melanjutkan pendidikan ke Jerman. Sulit memang pilihan pada saat itu, namun akhirnya dengan ketabahan hati pergi juga saya sendiri ke rantau orang. Entah Ayah apa namanya saya waktu itu, yang tega meninggalkan istri yang sedang hamil. Pesawat udara Singapore Airlines, Jakarta-Singapore-Frankfurt pada saat itu yang “memisahkan” kami. Tinggallah istri tercinta dan keluarga di Indonesia menunggu kelahiran sibuah hati untuk suatu saat sampai bisa terbang ke Jerman. Dan akhirnya, alhamdulillah Allah mempertemukan kami di Bandara internasional Franfurt di hari Sabtu itu setelah sibuah hati berumur 4 setengah bulan. Tak terasa ada tetes bening yang keluar dari pelupuk mata dan saya peluk dia erat2.

Lain cerita di pagi Jumat, 24 Juni 2004. Saya dorong trolley yang memuat 4 koper dan Dzakiyyah berdiri didepannya, sementara istri tercinta mendorong trolley yang satunya bersama Fathur mencari counter Malaysia Airlines (MAS). Ternyata cukup jauh juga mendorong trolley sampai akhirnya kita temui counter MAS itu. Sudah ada juga wajah2 melayu yang antri untuk check in, dan kami antri dibelakang salah seorang bapak yang berkopiah dengan jenggot sedikit panjang. Untuk mengisi waktu antri, kami terlibat dalam obrolan ringan sampai akhirnya kita menuju meja antrian. Sedikit berbisik istri saya menyarankan untuk antri ke arah meja yang disebelah kiri, yang disitu pegawainya perempuan bule dan sebelah kanan perempuan wajah melayu. Yang menurut pengamatan singkat istri saya, yang sebelah kiri lebih ramah dan yang kanan cerewet. Saya berusaha mengiyakan, soalnya juga takut ketemu pegawai yang cerewet sementara barang bawaan maksimal cuma 100 kg. Alhamdulillah kita ketemu sama yang bule tersebut, cukup lama juga dia membereskan Gepaeck/baggage dan sambil menulis segala sesuatunya dia bertanya berapa jumlah Gepaeck, dan saya bilang “enam buah plus Kinderwagen dan 2 sisanya dibawa sendiri”. Setelah dia mengukur 3 Gepaeck besar besar langsung dia bilang, “Ok, semuanya bisa masuk!”. Alhamdulillah dia tak menimbang lagi sisanya, mungkin karena kasihan lihat kita dengan 2 anak kecil. Dan kamipun berlalu mencari gate pemberangkatan, kalau ngga salah gate D-7, sambil mempersiapkan pasport untuk pemeriksaan oleh imigrasi setempat. Tentunya kita duduk dulu sebentar sebelum menuju gate pemberangkatan, maklum cape juga antrinya dan waktupun masih cukup untuk istirahat. Kitapun sedikit terlibat dalam diskusi, tentunya soal toilet he..he.., mau cari toilet sekarang atau nanti diatas saja. Akhirnya kita putuskan di atas saja.

Beberapa pintu pemeriksaan kita lalui dan hampir semuanya berbunyi kalau saya yang masuk, seperti biasa pak pemeriksa mengeledah dengan tanggannya untuk memastikan ada apa yang berbunyi. Dan ternyata koin, celana, dan sepatupun berbunyi karena ada bahan logam juga. Dan akhirnya kita sampai ke pintu terakhir untuk pemeriksaan ke-imigrasian. Lama juga pak polisi itu membolak-balik pasport saya dan pasport istri saya. Dan sekali saat dia melihat istri saya dan lalu melihat pasport kembali. Dalam hati saya, pasti dia binggung karena di dalam pasport istri saya tidak berjilbab sedangkan sekarang berjilbab. Karena istri tercinta berjilbab saat setelah berada di Jerman. Akhirnya pak polisi mempersilakan kami masuk. Alhamdulillah.....! Kamipun langsung menuju arah kiri mencari gate D-7 yang ternyata masih kosong melompong. Dalam pikiran rasa terbersit, biar cepat dari pada telat. Dan jadilah kami orang pertamanya yang mengisi gate tersebut.

Dzakiyyah dan Fathur sudah mulai ceria dan mulai aktif kesana kemari, apalagi melihat pesawat yang datang dan pergi dibalik kaca sana. Dzakiyyahpun sering berucap, “Kita ke Indonesia....kita ke Indonesia....”, dengan wajah yang berseri2. Bayangan apa tentang Indonesia yang ada dalam pikirannya, sayapun ngga tahu. Memang sudah lebih dari sebulan sebelum pulang kita berusaha menjelaskan kepada dia bahwa Dzakiyyah, Fathur dan Mama akan diantar ke Indonesia dan Ayah akan kembali sendiri ke Jerman. Hampir tiap hari kita jelaskan kepadanya. Pernah suatu hari dia memergoki kita lagi sedih, dan Dzakiyyah bertanya, “Kok Ayah dan Mama menangis...? Pertanyaan lugu tersebut ngga bisa kita jawab. Langsung saya memeluk dia dan mengendongnya sambil berusaha tegar. Diapun hanya tersenyum senang saat itu. Tak ada sedikitpun air mata keluar, mungkin dia tidak sedih atau dia belum memahami apa yang sedang kami pikirkan. Kembali Dzakiyyah dan Fathur berlari2 kecil menyusuri bangku2 dan sesekali melihat pesawat yang datang dan pergi diluar sana.


Mereka asyik dengan aktivitasnya, sementara mamanya sedang memegang kartu pos kota Frankfurt



“Mama mau beli kartu ngga? Kan kita belum punya kartu kota Frankfurt?”, sapa saya sama istri yang mulai agak siuman dari mabuk mobil. Langsung saja dia semangat mendengar kata kartu, karena dia paling senang mengumpulkan kartu pos kota2 di Jerman. Akhirnya dia minta izin pergi mencari kartu pos kota Frankfurt yang banyak dijual dikios2 didepan sana. Dan saya bermain serta membuat video bersama anak2 dan sekali2 menjempret digital camera ke arah mereka. Namun mereka ngga terlalu peduli karena asyik bermain.

Satu jam lagi, 50 puluh menit, 40 menit dan akhirnya gate D-7 sudah diisi banyak penumpang lain yang akan terbang dengan MAS tujuan Kuala Lumpur. Kitapun duduk dengan memandang ke arah luar dan menanti dipanggil untuk saat disuruh masuk pesawat tuk meninggalkan bandara internasional Frankfurt. Dengan bahasa melayu, Jerman dan Inggris akhirnya kita dipersilakan naik pesawat Boeing 777-200 dan yang paling duluan disuruh adalah yang mempunyai anak kecil. Dengan mengambil ransel yang kuning dan tas laptop hitam kamipun beranjak dari tempat duduk ke arah pintu pesawat. Pramugari dan pramugara dengan sigap menuntun kemi ke arah tempat duduk yang tertulis di boarding pass. Setelah berdoa, saya cium Dzakiyyah, Fathur dan istri tercinta beberapa menit sebelum pesawat meninggalkan bandara yang penuh kenangan ini. Auf Wiedersehen Jerman!!! Pesawat boeing 777-200 dengan gagah bersiap untuk lepas landas dan tidak perduli apa yang sedang kita pikirkan. Sembari memejamkan mata kita kembali berdoa untuk keselamatan dalam perjalanan. Lalu saya tatap mereka satu persatu, Dzakiyyah, Fathur dan istri tercinta. Dan pesawatpun tinggal landas.


Mittwoch, Juli 14, 2004

DAA-DBL


Windkraft-pembangkit listrik tenaga udara disepanjang jalan


Bagian kedua
Minibus perlahan meninggalkan kota menuju arah Autobahn atau jalan tol. Fathur yang duduk sendiri di Kindersitz tak sedikitpun terganggu tidurnya walau hari sudah mulai beranjak siang. Dzakiyyahpun mulai teduh raut mukanya pertanda dia siap untuk melanjutkan tidur yang sempat terbangun saat digendong tadi. Sambil berkata manja pada mamanya dia minta disayang. “Mama... sayang ayuk!”, celetuknya sambil berusaha menggapai tangan mamanya yang terhalang oleh Fathur yang memisahkan mereka. Biasanya kalau minta disayang, maksudnya adalah dibelai dan cara ini sangat ampuh untuk membuatnya tidur. Namun mamanya tak menyanggupi karena disamping terhalang jarak, juga mamanya paling ngga fit kalau lagi dalam perjalanan dan dia juga berusaha tidur agar terhindar dari mabuk. Berulang kali Dzakiyyah mengharap, tapi tetap saja dibiarkan sampai dia tertidur dengan sendirinya. Mobil terus melaju dan tinggal saya dan pak sopir yang terbangun. Untuk menghilangkan kejenuhan dalam perjalanan saya buka tas video kamera dan mengeluarkan isinya untuk mengambil moment disepanjang jalan. Kota Hildesheim dan Goettingen sudah dilalui dan sebentar lagi akan memasuki Kassel. Tampak rerumputan dan pepohonan yang hijau serta tanaman gandum yang siap panen di sisi2 jalan. Dan jarak berselang terlihat dengan kokohnya baling2 pembangkit listrik tenaga udara yang memang banyak terlihat di tengah2 tanaman gandum. Ini menambah indahnya pemandangan ditengah kehijauan. Sesekali video kamera saya arahkan ke wajah kecil nan lugu Dzakiyyah dan Fathur yang duduk di bangku tengah bersama mamanya. Masih terlelap mereka dengan mimpi masing2. Dzakiyyah dengan kepala sedikit terkulai kekanan dan tangan bebas serta kali menjulur kedepan. Rambut panjangnya yang terikat sedikit menjadi bantal untuk tidurnya. Sementara Fathur dengan sigap berada dalam ikatan tempat duduk yang memang khusus buat anak seumurnya. Mamanya yang berjacke hitam memejamkam mata, entah tidur atau hanya memejamkan mata biar terhindar dari serangan pening dan mabuk perjalanan.

Setelah terlihat Dzakiyyah mulai membuka mata, langsung saja saya sapa, “Dzakiyyah mau minum atau mau roti?”, sambil menatap wajahnya dengan tersenyum. Dengan singkat dia menjawab, “Ayuk mau minum aja”. Langsung saya bukakan capri sonne kesukaannya yang memang sudah disiapkan untuk perjalanan ini dan memberikan padanya. Dengan sedikit membungkukkan badan dia berusaha menggapai minuman tersebut dan meraihnya. Satu sachet 200 ml tersebut langsung ludes dan bungkusnya dia berikan sama mamanya. Sekali lagi saya tawarkan roti buat dia dan mamanya, ternyata selera makan pagi mereka terganggu juga dengan perjalanan ini. Ok, lah..yang penting mereka mau minum itu sudah syukur. Sekedar pengisi perut kosong yang belum sempat makan pagi.

“Ayah..! itu bagus”, kata Dzakiyyah sambil menunjuk generator pembangkit listrik tenaga udara di kejauhan. Perlahan saya ikuti arah telunjuknya dan sama2 kita menatap generator yang rapi berdiri dan berputar perlahan diterpa angin ladang gandum. Memang Dzakiyyah paling senang kalau lihat pemandangan ini. Dengan sedikit berputar dia berusaha melihat tonggak tinggi tersebut sampai hilang diterkam tikungan jalan. “Nanti ada lagi Dzakiyyah!”, kata saya berusaha menghiburnya. Dan memang, tak lama kemudian pemandangan itu ada lagi walau dengan jumlah dan jarak yang berbeda. Dia terus mengamati, walau kantuknya kelihatan masih ada.

Sekali2 radio yang memonitor jalannya minibus terdengar. Sopirnya selalu menanyakan arah mana yang paling cepat dan supaya terhindar dari macet atau perbaikan jalan. Percakapan demi percakapan di radio terkadang jelas terdengar kadang hanya desahnya saja. Pertanyaanpun sering diulang2, karena kelihatannya diseberang sana agak lambat merespon. “Terus saja dan masuk dari arah selatan Frankfurt”, begitu kira2 suara dari seberang sana yang memberikan arah terbaik agar tidak macet. Mobil terus meluncur ke arah selatan. Kota Fuldapun sudah dilewati pertanda sebentar lagi akan memasuki kota Frankfurt (am Main).

Mulailah tampak arah jalan Flughafen (lapangan udara) yang menandakan tak lama lagi kita akan sampai ke pintu pesawat. “Mit welche Flugzeuge fahren Sie?”, tanya pak sopir sama saya. Dengan yakin saya bilang, “Dengan MAS dari terminal 2”. Langsung saja minibus diarahkan ke terminal 2. Dan berhenti di paling ujung diterminal tersebut. Waktu menunjukkan sekitar jam 09.30, berarti perjalanan sekitar 3 setengah jam. Sementara penerbangan dijadwalkan tepat pukul 12.30. Bearti kita masih punya cukup waktu untuk istirahat.

Setelah barang sebanyak 8 keping diturunkan dan bersalaman dengan sopir sambil mengucapkan danke...!! dankeschoen!! Dengan tersenyum pak sopir bilang “gute reise!”. Lalu saya masuk terminal untuk mencari trolley. Dua trolley yang dibawa. Cukup repot juga mengangkat koper2 tsb, dan sambil berpikir gimana cara mendorongnya, karena mamanya anak2 juga sedang menggendong Fathur. Akhirnya Fathur disuruh jalan, dan kita berdua mendorong trolley menuju terminal 2 dan langsung tujuan utama adalah tempat duduk untuk rehat sebentar.....

Montag, Juli 12, 2004

Di atas awan di bawah langit (DAA-DBL)

Bagian pertama
Jum’at pagi pukul 06.00 tgl 24 Juni 2004 sebuah minibus dari FAL telah menunggu di pelataran appartment Rebenring 63 untuk mengantarkan keluarga kecil kami menuju pintu penerbangan Frankfurt yang berjarak sekitar 3 jam dari Braunschweig. Terlalu pagi untuk ukuran anak2 bangun pada jam segini, dengan susah payah saya beserta istri tercinta memasang pakaian Dzakiyyah dan Fathur yang masih terlena dengan mimpi2 mereka, mungkin mimpi bermain dengan teman2nya. Karena waktu yang sedikit tak sempat pula kami berdiskusi tentang mimpi putra-putri kami ini. Padahal kalau waktu sedikit luang kita selalu berdiskusi dan terkadang ketawa dan tersenyum melihat mereka terlelap dan apa lagi saat bahagia menunggu mereka bangun dengan wajah tersenyum. Tapi tidak untuk pagi itu, semua harus serba cepat karena minibus yang sudah dipesan sebulan lalu sudah menunggu dibawah, begitu kata salah seorang teman yang sedang membantu membawa barang dari lt. 8 appartment kami tepatnya zimmer no. 30. Ada juga salah seorang teman baik dan sekalian tetangga dari Mesir yang sejak setengah jam lalu dengan setia membantu segala sesuatunya, namun tidak dengan istri dan anak2nya. Padahal istri dia adalah sohib istri saya yang setiap hari ketemu saat sama2 mengantarkan anak2 ke Kindergarten yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari appartment kami tinggal. Sambil kecapean mengangkut barang ke pintu lift teman tersebut bercerita bahwa istrinya ngga bisa ngantarin lantaran dia sekarang sedang sedih dan menangis. Yang menurut dia juga dia merasa kehilangan salah seorang teman baik yang akan pulang ke Indonesia dan entah kapan ketemu lagi, begitu tuturnya. Saya hanya tersenyum dan sambil berucap, semoga Allah bisa mempertemukan keluarga kita kembali. Segala kesan dan pesan dari istrinya tersebut langsung juga dceritakan pada kita yang membuat kita terharu dan kami juga menyampaikan ucapan terima kasih atas pertemanan baik yang selama ini terjalin. Tentunya tukar-menukar alamat kita lakukan sebagai alternatif silaturrahmi tentunya, walau itu nantinya hanya lewat internet.


Dzakiyyah bersama Frau Tifach dan Frau Gabe saat hari terakhir di KinderGarten

Fathur pun sempat berpose di KinderGartennya Dzakiyyah dengan latar belakang tempat tas dan Jacke

Empat koper besar ditambah 2 tas jinjing dan 2 tas ransel semua telah tersusun rapi di bagian belakang minibus. Setelah berdoa bersama keluarga demi keselamatan di perjalanan saya kembali melihat semua ruangan yang akan ditinggalkan, melihat apakah sudah semua barang terangkut dan kondisi rumah serta lampu dan juga untuk mengamati sudut2 rumah ukuran 33 meter kuadrat ini yang penuh dengan kenangan kita ber-empat. Tak ada secuil sudutpun terhindar dari tatapan, dan mereka hanya membisu melihat kepergian kami. Dalam hati kami bergejolak dan berusaha menahan rasa haru sambil melangkah dan terus melangkah meninggalkan ruangan dan pintu serta berlalu menuju lift. Tak ada kata diantara kita berempat, semua terhenyak dalam pikiran masing2. Dan sebelum sampai ke lantai dasar, Dzakiyyah terbangun dalam pelukan dan langsung tersenyum. Entah apa arti senyumnya itu, atau dia sudah paham arti pulang ke Indonesia yang sudah jauh2 hari kita katakan ini atau tidak. Namun dari mulut mungilnya dia berkata, ke Indonesia...pulang ke Indonesia...! Dari raut wajah yang belum 100% bangun dari tidur ini saya tatap dalam2 dan mencoba merasakan dan mencoba membayangkan apa yang dia bayangkan. Entahlah, sama atau tidak...Sementara si kecil Fathur masih melanjutkan mimpinya didalam gendongan mamanya sampai ke dalam mobil.

Setelah menyalami dan memeluk erat teman2 yang turut mengatar kami masuk ke dalam minibus sebagai tanda akan mengakhiri tapak kenangan di Braunschweig yang telah kami jalani bersama2 lebih dari 3 tahun lamanya. Baik dalam duka maupun dalam suka. Lambaian tangan masih juga mengantarkan sampai ke titik dimana kita tak bisa memandang teman2 setia tadi karena terhalang tembok appartment yang menjulang tinggi. Tak sempat saya melihat raut wajah istri saat detik2 terakhir meninggalkan Braunschweig karena saya pun larut dalam perasaan sedih dan sedih yang mendalam. Dan melajulah minibus menuju arah Frankfurt.

Mittwoch, Juni 23, 2004

Back to Indonesia

Sobat-sobat yang saya cintai, mohon maaf jika saya belum sempat bales shoutbox, dan juga mengunjungi blog teman2. Namun semuanya tetap saya sempatkan baca dan mengintip sebentar. Apa pasal? Karena bulan Juni ini kami disibukkan dengan peking barang kontainer, ngecat rumah, jalan2, persiapan pulang karena besok (24 Juni) kita mau pulang/liburan di Indonesia (Riau- Bandung) serta kesibukan mengejar target ujian di tahun ini. Saya libur selama 2 minggu (saja) dan balek lagi ke Jerman, sedangkan Dzakiyyah, Fathur dan Mamanya anak2 untuk sementara tinggal di Indonesia dulu.

Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan doa dari sobat? tercinta, semoga perjalan kami berjalan dengan lancar dan selalu dilindungi oleh Allah SWT, hendaknya, amien. Cerita selanjutnya insyAllah diminggu kedua Juli.

Sonntag, Juni 13, 2004

Teknologi dan lidah

Teknologi terus berkembang seakan tak terbendung, ada aja penemuan baru yang memudahkan segala sesuatunya. Begitu juga dibidang komunikasi, ya ada telphon, HP, internet dengan segala fasilitasnya yang online. Terus bisakah kita terpaku sama satu teknologi saja? Dan apa bisa selalu menjamin "keakuratan pesan" yang disampaikan?

Dua minggu yang lalu saya punya sebuah cerita ringan. Salah seorang teman saya di Jambi kirim pesan lewat YM dan kebetulan saya memang lagi ngendon didepan komputer kantor yang emang selalu online dari pagi-petang. Dia mau tanyakan perubahan alamat surat dari Zav-Reintegration di Frankfurt, FedEx, karena dia mau kirim paket dari Indo ke Jerman. Kok FedEx tahu yaa alamat berubah? Saya mulanya ngga percaya juga sama FedEx tsb, saya check dari surat terakhir dari ZAV, alamatnya tetap sama dengan yang di onlinenya. Ok lah, dari pada pusing, mendingan tanya saja langsung sama ZAV di Frankfurt. Saya telphon ke salah seorang kontak person disana dan menanyakan masalah perubahan alamat tsb. Ternyata saudara? memang berubah, dalam hati saya hebat bener tu FedEx, kok dia tau he..he..

Ok lah, nah saya mau tau langsung pada saat itu juga alamat yang baru, karena teman yang di Jambi lagi online di YM, nunggu. Cuma saya sedikit ngga yakin kalau ntar yang di sono (wong Jerman) menyebutkan alamat jalan, nomor trus kode pos via telphon, takut salah denger, yang namanya alamatkan harus 100% betul kalau ngga ya nyasar. Dengan spontan saya bilang sama kontak person ZAV tsb, bisa kirim alamat barus lewat imel ngga?
Ternyata orang baik di sono mengatakan, tentu saja! Tentunya dia menanyakan alamat imel saya, dan langsung saya kasih tahu, itu pun dengan di eja...maklum lidah berbeda.

Tiga menit berlalu belon juga datang, 5 menit juga belon datang. Padahal dia bilang akan kirim segera, sofort. Saya mencoba mengingat lagi saat mengeja alamat imel. R (Russland), O (oval), S (sie), Y (yahoo), A (Atlantik), D (Deutschland) und I (instal) at FAL Punkt DE. Ngga ada yang musti salah dan itu pun dua kali di ulang, yakin bin yakin dech.
Teman saya kirim YM lagi, dan langsung saya jawab, ntar saya sedang tunggu imel dari mereka, ntar lagi datang, sabar yaa! Ok, jawab dari Indo.

Setelah 10 menit berlalu saya telpon ke Frankfurt lagi karena pasti ada apa?. Ternyata benar, ada satu huruf yang "salah ucap" dan "salah dengar", yakni huruf L, staf ZAV tersebut mengira FAR padahal FAL. Memang susah membedakan huruf L dan R versi Jerman, hampir mirip. Padahal R-nya versi Indonesich...eerrrr, kalau versi Deutsch, ya itu tadi hampir sama kedengarannya L dan R.
Ternyata tetap saja salah ...he..he.., padahal sudah pake YM, Imel, Telphon masih...aja.
Alhamdulillah juga prosesnya ngga lebih 15 menit, semuanya alles klar.

Dienstag, Juni 01, 2004

Dzakiyyah dan PHP

Pagi tadi saya cukup terkesima dengan pernyataan Dzakiyyah pada Mamanya yang sedang asyik di dapur mempersiapkan roti yang akan saya bawa ke institut. Memang sudah rutinitas saya yang lebih duluan berangkat ke institut, setelah itu baru Dzakiyyah. Dan tentunya roti untuk makan siang juga lebih duluan disiapkan. Setelah itu baru mempersiapkan makanan/roti untuk bekal Dzakiyyah di KinderGarten-nya.

Nah, sehabis mamanya menggoreng roti untuk saya, trus mamanya bilang sama Dzakiyyah, “Dzakiyyah bawa roti juga yaa!“, seru mamanya seperti biasa. Padahal memang selalu dibikinin roti goreng plus keju, mentega plus gula ataupun kue yang lainnya. Tapi sebelum dibekalin dia mesti dikasih tahu dulu apa makanan yang bakal dia bawa. Dengan spontan Dzakiyyah menjawab, “Iya mama, bawa roti, cuma jangan digoreng yaa! Jawaban ini yang membuat saya kaget, kenapa? Ya karena umurnya juga belum genap 3.5 tahun, namun dia sudah ada pilihan, harapan dan permintaan (PHP). Jadi PHP disini bukan program komputer itu lho he..he..

Sesampainya dikantor saya masih teringat ucapan itu. Ada juga hal2 lain yang membuat saya tertarik terhadap tingkah laku anak2, kalau dia tidak mau makan biasanya dia akan bilang, ”nggak, nggak, Dzakiyyah sudah kenyang!”. Wah kalau sudah begini repot jadinya. Salah satu caranya adalah dengan menawarkan dia dua jenis makanan. Tawarannya kira2 begini; “Dzakiyyah mau makan nasi apa makan roti?“. Lalu Dia akan menjawab satu diantaranya. Jadi lucu juga strategi ini. Atau kalau memang dia nggak mau makan atau barangkali memang sudah kenyang, dia sendiri biasanya akan mengajukan alternatif lain. “Dzakiyyah mau minum susu aja!, katanya sambil menghindari piring nasi.

Yang lucunya lagi, dulu pernah dibilangin kalau Dzakiyyah nggak mau makan, maka nggak akan diajak main ke zentrum/kota. Nah, tawaran ini ternyata cukup mujarab untuk menyuruh dia makan karena bayangan dia kalau sudah makan bakalan diajak main ke zentrum. Memang kalau sudah demikian kita selalu mengajak dia main ke sana(spiel platz di Zentrum). Tapi lambat laun cara ini jadi basi alias udah nggak mempan lagi. Pernah sekali waktu mamanya bawa nasi untuk makannya dan kelihatannya dia memang sedang nggak mau makan. Sebelum mamanya menawarkan makanan tersebut, dia sudah terlebih dahulu bilang, “Mama, Dzakiyyah nggak mau main ke kota”, celetuknya. Padahal ditawari makan saja belum, dia sudah antisipasi duluan he..he..

Ternyata kalau dilihat cases seperti ini, dari kecil pun tanpa disadari kitapun sudah belajar PHP (pilihan, harapan dan permintaan). Nah, ngomong2 sudah pada punya capres pilihan belum nih??! Air sawah air payau, ..nggak nyambung layawww…..!!!

Samstag, Mai 29, 2004

Jalan2 di zentrum Braunschweig

Suhu panas 20° C hari ini tentu saja tidak kita sia2kan, apa lagi hari Sabtu yang merupakan hari belanja dan hari keluarga. Jadi disamping kita pergi belanja tentunya juga ngajak anak2 ke supermarkt dan tempat rame lainnya. Pokoknya asyiik banget, apalagi Dzakiyyah keluar rumah cukup dengan T-shirt saja, yang selama ini harus berlapis2. Fathur, tak kalah senangnya disepanjang jalan dia berteriak huuu..huuu…huuu .. Karena Dzakiyyah nyanyi-in lagu kesenangannya: unsere liebe…unsere liebe..einmal …! Jawabnya huuu..huuu…(sambil kedua tangan diangkat). Wah pokoknya mereka kelihatan senang dech. Lihat saja fotonya!

[1] Ini adalah saat menunggu S-bahn (kereta kota) untuk menuju zetrum (pusat kota).

[2] Salah satu sudut kota Braunschweig, tentunya kita berpose ria. Mama Dzakiyyah & Fathur mana? Itu lagi cepret foto..he..he..

[3] Kalau yang ini, lagi istirahat di city point, ngga tahu apa bener ini yang titik kotanya

[4] Nah, inilah salah satu cara istirahat yang effective, masuk supermarkt yang ada tempat main anak2. Jadi mereka ngga bosankan? Sekalian istirahat….

Donnerstag, Mai 20, 2004

Grillen

Di tengah cuaca yang cukup panas, 18 derajat, Kita dan Kel. Pak Hendarko mengundang saudara2 warga Indonesia-Malaysia di Braunschweig dan sekitarnya mengadakan "grillen" alias bakar sate. Grillen memang selalu dinantikan kalau sudah memasuki musim sommer beginian. Semua jenis sate akan bisa dinikmati dibawah terik sinar matahari yang berlimpah. Terima kasih buat Mbak Mei, Mbak Helmi, Mbak Aida, Om Nadeem, Amru dan teman2 lain tim bakar sate yang telah banyak membantu acara ini, danke sehr noch mal. Di tunggu acara grillen selanjutnya, kapan yaa? Ada yang ulang tahun ngga?

Wajah cerah Ibu2/tante serta adek2


Tim kipas sate putra berpose


Evelyn, Dzakiyyah dan Sheila berpose menanti sate matang


Fathur digendong sama Tante Mimi dan sebelahnya Tante Eva


Nah, ini dia proses pembakaran satenya..cepetan..lapar!!


Fathur sedang minum susu, kehausan nungguin sate..he..he..(kanan, si Adek anak tante Mimi)

Freitag, Mai 14, 2004

Menghitung dengan jari

Bagaimana caranya kita kalau mau pesan bakso semangkok atau dua mangkok?. Biasanya kita akan mengacungkan jari telunjuk untuk memesan semangkok bakso, jari telunjuk+tengah untuk menyatakan dua mangkok, kemudian tiga mangkok jari telunjuk+tengah+manis, so kalo empat mangkok plus kelingking. Dan pasti sudah jelas lima mangkok dengan semua jari. Ini yang saya tahu cara berhitung dan mengekspresikan angka dengan jemari.

Lain pula yang saya amati kalau di Jerman, angka 1 cukup diwakilkan dengan jempol. Saya berpikir kok dengan jempol sih, kenapa tidak dengan telunjuk aja ya...tapi entahlah apa jawabannya (mikir2 dulu..). Kalo jempol di Indonesiakan menandakan bagus, keren, ok dan sejenisnya. Udah ah pusing juga mikirinnya. Pokoknya kalau anak2 mau pesan 1 ice cream, saya tinggal bilang eine sambil melihatkan jempol keren. Dan lucunya juga, kalau 2 adalah jempol+telunjuk dan seterusnya. Coba bayangkan gimana susahnya kalau kita mau bilang 4, jempol+telunjuk+tengah+manis (kelingkingnya nunduk…sedikit kagok karena nggak biasa..he..he..). Padahal kalo pesan bakso 4 di Indonesia, kan minus jempol. Lebih gampang cara mesannya dan harganya murah lagi. Cuma satu yang sama, jangan coba2 menunjukkan angka satu dengan menggunakan jari tengah dimanapun juga..!! Bisi kena damprat ntar...hhehehehehe...cepet kabuuuurrrrr!!