Donnerstag, Oktober 23, 2003

Marhaban ya Ramadhan

KHOTBAH RASULULLAH YANG MULIA DALAM MENYAMBUT
BULAN RAMADHAN YANG PENUH BERKAH


Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan ALLAH dengan membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi ALLAH. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu ALLAH dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada ALLAH Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar ALLAH membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan ALLAH di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal
kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada ALLAH dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika ALLAH Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah! ALLAH ta'ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia
tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi ALLAH nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: "Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian." Rasulullah meneruskan:) Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati shirat pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, ALLAH akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, ALLAH akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, ALLAH akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, ALLAH akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, ALLAH akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunah di bulan ini, ALLAH akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardhu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardhu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, ALLAH akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar
tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk
tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah
menguasaimu.

Amirul mukminin Ali bin Abi tholib karamallahu wajhah berkata: "Aku berdiri dan berkata: "Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?" Jawab Nabi: Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan ALLAH".

Freitag, Oktober 17, 2003

Poster

Dari pada ntar lupa simpan poster dulu ach, judulnya "In situ digestion" rock phosphate. Poster ini ditampilkan pada, 8th International Symposium on Soil and Plant Analysis South Africa, January 13-17, 2003

Donnerstag, Oktober 16, 2003

Ausflug

Minggu ketiga August yang lalu institut saya mengadakan "Ausflug" atau excursion. Sebulan lebih sebelum harinya sudah ada "Aushang" atau pengumuman, siapa-siapa yang mau pergi serta disitu sudah ada "Ausblick" apa saja kegiatan serta lokasi yang akan dikunjungi, dan tentunya berapa udunan yang musti dibayar. Acara ini selalu diadakan setiap tahunnya, katanya ini adalah salah satu bentuk penyegaran dan juga sambil belajar. Ada dua lokasi yang akan dikunjungi, pertama museum alam yang bernama Museumsdorf Hoesseringen, yang terletak dipinggiran kota Uelzen, dan saya pernah dulu berhenti sebentar di kota ini, karena kota ini menjadi tempat transit kereta dari arah selatan Jerman menuju Hamburg. Tempat kedua yang akan dikunjungi adalah pabrik roti Wasa atau yang lebih dikenal juga dengan nama Barilla yang terletak dikota kecil Celle. Seminggu sebelum berangkat saya tidak tertarik untuk pergi, cuma karena berangkat ini adalah diwajibkan oleh professor, yach terpaksa juga pergi. Pagi-pagi saya sudah bangun, karena berangkat jam 07.00, dan biasanya telat paling 1-2 menit kalau pun ada. Seperti biasa sepanjang perjalanan didalam bis wisata, professor saya dengan microfon kecil menerangkan segala sesuatunya sepanjang jalan, ya tema utamanya pertanian dengan sugar-beet, wheat, jenis tanah apa, permasalahan yang dihadapi, penanggulangan serta tentunya tema penelitian yang sedang dan akan dilakukan diinstitute. Perjalanan ngga terasa juga dengan mendengar kuliah2 seperti ini. Kurang lebih perjalanan 3 jam dari insitute saya, sampailah kami kelokasi yang pertama, museum alam. Museum ini sudah saya duga sebelumnya, pasti tidak menarik dan membosankan. Ada teman saya dari Mesir yang hoby berceloteh, sangat kelihatan sekali bahwa dia ngga suka ketempat seperti ini, saya cuma menghibur, toh barangkali ada faedahnya yang kita ambil dari sini. Dibagilah kita dua group, satu berbahasa Deutsch dan satu Englisch, dan tentunya kelompok saya adalah yang terakhir dan sebagai guidenya my professor. Dengan memandang sekeliling lahan bekas pertanian yang digarap oleh masyarakat baheula, yang luasnya sekitar 10 hektar, dan dikiri-kanan jalan satumeteran ada bebarapa rumah serta kandang ternak mereka serta ada lahan seperti tegalan, serta ada juga lahan kosong yang dipagar tempat kambing-kambing ditambatkan, professor saya dengan bersemangat menerangkan apa yang dilakukan penduduk tempatan pada tahun 1600-1900 dulunya. Dari beberapa pandangan dan ringkasan cerita, ada beberapa point penting juga yang saya dapatkan. Ada sebuah rumah tua, dengan dapur yang terletak diruang tamu, dan menurut dia rumah ini adalah salah satu rumah orang kaya didaerah ini. Ada teman bertanya, kok dapurnya diruang tengah? My professor menerangkan bahwa salah satu fungsi extra dapur ini adalah sebagai heizung atau pemanas, karena dulu belum ada sistem electric seperti sekarang, dan juga biasanya mereka sambil masak juga mengadakan pesta keluarga dan disamping unggun/dapur ini tentunya. Lalu dia menunjuk daging bakar yang digantung atas perapian tadi, dan kelihatannya sangat besar dan keras. Lalu dia menerangkan mengapa seperti itu, salah satu alasannya adalah daerah sini atau utaranya Jerman sangat dingin mulai dari November sampai Maerz saljunya tebal, jadi para petani didaerah ini ngga bisa apa, apa. Salah satu strategi mereka biar tetap makan/hidup di musim dingin adalah membuat daging bakar yang banyak lemak dan besar. Lalu dia menyindir juga, coba kita lihat di Afrika katanya (untung contohnya bukan Indonesia), disana orang ngga perlu memikirkan makan untuk musim dingin, malahan untuk besokpun ngga perlu dipikirkan, toh bawa tombak saja lalu masuk hutan, dapat makanan. Kami hanya tersenyum mendengarkannya. Trus dia simpulkan juga, bahwa alampun ikut membentuk kedisiplinan dan bla..bla.. Dalam hati saya, benar juga tuch, coba dinegara saya kan sepanjang hari petani bisa bercocok tanam....to be continue!!!


Mittwoch, Oktober 15, 2003

Auf den Punkt gebraucht

Es gibt mehr Probleme als Zeit zu deren Loesung, daher verdraengt das Dringendste oft das Wichtigste (Henry Kissinger). Tulisan ini ada disamping photo Dzakiyyah yang lagi megang balon merah halaman 23, und mehr

Kesan pertamaku

Sekarang lagi istirahat siang, saya mencoba untuk menulis diary ini. Ada beberapa hal yang selalu menarik buat saya bulan Oktober ini, pertama bulan ini adalah ulang tahun anak mertua saya dan tentunya diperingati setiap tahun, kedua saat tiga tahun yang lalu saya berangkat untuk pertama kalinya ke Jerman, dan ketiga tentunya pada bulan ini ada libur satu hari untuk "Tag der Deutschen Einheit". Nah, peristiwa yang kedua terakhir ini lah yang bertepatan dulunya, saya berangkat dari Jakarta to Frankfurt. Nah apa kesan pertama sampai di Jerman, sulit juga mana yang paling menarik. Yang jelas dari Frankfurt ke Goettingen saya naik kereta atau yang lebih dikenal dengan nama Zug, tentunya penuh karena kebetulan harpitnasnya Jerman, dan biasanya banyak orang ambil urlaub. Mau naik zug ini serba kudu cepat, kalau telat sedikit yah nunggu zug berikutnya. Nyampe dikota yang saya tuju, wao... hampir semua taxi mercedes. Jadi ada istilah dari teman-teman kalau mau jadi orang keren ala kita, yach naik taxi aja, hitung2 naik mobil mewah. Trus sepanjang jalan dekat perumahan berjejer mobil, dan hampir tidak ada yang di garasi. Saya tidak bisa membayangkan kalau terjadi seperti ini di negaraku. Kata teman saya, prinsip orang2 disini, dari pada sewa garasi mobil mahal, mendingin mobil berdingin dan berpanas ria, ntar kalau berkarat ganti yang baru. Hebat juga solusinya, toh bakalan ngga hilang kalau mobil nagkring diluar, tentunya kagak perlu juga pakai alarm dan security lainnya. Nah ada dua hal penting yang dulu selalu diingatin teman saya kalau mau keluar negeri, ternyata itu memang sangat penting. Kalau bulan Oktober sampai Maerz, jangan lupa pakaian dingin, dan itu harus ditaroh ditas atau dijinjing, jangan ditaroh di bagasi, ntar kalau sampai dibandara udara dingin langsung menyapa. Kedua, makanan menjelang belanja ke supermarkt. Saya jadi teringat dulu kebetulan ada teman dari Afrika yang baru datang, dan kebetulan itu hari Minggu, tentunya semua supermarkt tutup, sementara perut kan perlu diisi. Itu beda dengan kita di Indonesia, mall dan supermarkt justru rame dihari minggu/libur, kalo disini kagak buka. Alhamdulillah, kebetulan saya bawa indomie, itulah yang menjadi makanan menjelang Senen olehnya. Jadi perlu diingat bawa Indomie dan sejenisnya kayaknya penting dech kalo keluar negeri, apa lagi bawa rendang, bakalan tambah asyik, plus rice-cooker, lengkaplah sudah.

Dienstag, Oktober 14, 2003

Interview

Pantas saja hari ini dingin sekali, pas sampai di institut saya lihat online Wetter ternyata pagi ini suhu mencapai 0 derajat celsius dan angin 7 km/h. Untung saja saya bawa pakaian lengkap ala winter, walaupun sekarang masih herbst dan di halte saya ngga perlu lama menunggu karena bisnya tepat waktu jam 07.35, yang biasanya jam segini selalu telat 3 sampai 5 menit karena jam sibuk anak sekolah. Dan minggu ini sampai minggu depan 13.-25. Oktober anak sekolahan ferien, ngga tahu liburan apa, tapi kata teman saya itu liburan menjelang pergantian musim sommer ke winter. Cuma asyik juga, jadi ngga perlu berdesakan ala KRL Bogor-JKT, paling isinya sampai ke institut saya 5-7 orang, dan dijamin fuenktlich.
Kemaren ada yang lucu juga, salah seorang laboran datang ke ruangan saya nanyain tentang orang Jerman yang saya bilang ngga banyak ketawa, sambil membawa hasil wawancara saya dengan sebuah majalah terbitan institut saya Wissenschaft erleben . Sekitar bulan Juli yang lalu kebetulan saya dapat tawaran wawancara mengenai kehidupan di Jerman menurut pandangan Gastwissenschaftler. Pertanyaan-pertanyaan umum diajukan, seperti mengapa ke Jerman? Mengapa ke institut ini? Yach saya jawab dengan idealis tentunya, bahwa saya ingin mengecap lembaga penelitian diluar negeri dan kebetulan disini saya lihat fasilitasnya memadai untuk penelitian saya. Trus professornya juga banyak publikasinya di journal international, saya bilang. Dan bla..bla.., trus yang menarik bagi interviewerin malahan masalah sosial. salah satu pertanyaannya, bagaimana kesan pertama anda sampai di Jerman? Dengan spontan saya bilang, orang Jerman ngga banyak ketawa, ech ternyata judul besar wawancara saya ini di halaman 14-15 terpampang Die Deutschen lachen nicht so viel. Makanya laboran kemaren langsung nanyain sama saya, dulu juga salah seorang Putzfrau datang kesaya dengan mencoba sedikit senyum dan bertanya, sudah baca belum majalah ini? Udah, kata saya. Sambil beramah-tamah dia berdiskusi dengan saya, tentang ini, itu dll. Dan juga mencoba membantu permasalahan saya yang diwawancara tersebut saya bilang sulit mencari Kindergarten untuk anak saya. Trus, saya bilang terima kasih, mungkin Januar tahun depan dapak kok, saya bilang. Permasalahannya juga lokasi, sebab saya inginnya dekat apartment saya, jadi ngga sulit ngantarin pagi-pagi. Ok dech demikian dulu, habis mau nulis penelitian saya dulu, saolnya schedule hari ini membahas chapter discussion. Wassalam

Montag, Oktober 13, 2003

IN SITU DIGESTION

IN SITU DIGESTION - A NEW APPROACH TO IMPROVE PLANT AVAILABILITY OF NON WATER-SOLUBLE PHOSPHATES

Ewald Schnug1, Leila Habib1,3, Xiaohui Fan1,2, Juergen Fleckenstein1, Imron Rosyadi1, Jutta Rogasik1 & Silvia Haneklaus1

1Institute of Plant Nutrition and Soil Science, Federal Agricultural Research Centre,

Bundesallee 50 D-38116, Braunschweig , Germany; 2Institute of Soil Science, Chinese Academy of Sciences, Nanjing 210008, P. R. China; 3Faculty of Agriculture, Tishreen University, Lattakia, Syria

Phosphate is the first non-renewable resource which is depleted within the next 50-100 years and agriculture is the largest user of phosphates and also the largest source for losses of phosphates by environmental dispersion (surplus enrichment in soils, erosion) and irreversible fixation (meat bone meals and ashes). It may be assumed that the apparent recovery of fertilizer phosphate is about 100% in fertile soils. This, however, requires that the phosphate applied is water-soluble in order to be fully part of site-specific phosphate dynamics. Organic farming for instance allows only the use of non water soluble phosphate sources (Guano, farmyard manures, Meat Bone Meals (MBM), wood ash and soft, ground raw phosphate). This causes a major problem in organic farming, because plant available, soluble soil phosphate levels will decrease and the soil fertility will diminish, if fertilizer rates are based on total amounts, which just replace the take-off of phosphate. The development of new fertilizers and strategies promises to solve this problem. The concept of "in situ digestion" takes advantage of the acidifying effect of elemental sulphur, which applied together with rock phosphates or calcium phosphates dissolves the phosphorus material. In an incubation experiment the influence of two P:S compound products (Prock phosphate : Selemental = 40:60 and 30:70), inoculation with sulphur oxidizing bacteria and soil temperature on transformation processes was tested. Inoculation yielded a significantly higher oxidation rate of elemental S. Generally, a higher temperature caused faster oxidation rates of elemental sulphur. The sulphate content after oxidation of elemental sulphur was closely related to a decrease in soil pH. At an incubation temperature of 230 C, the water-soluble P content increased significantly over time in the inoculated treatments. In comparison, at 30° C an increase in water soluble P was determined up to the 6th week of experimentation, while a decline was observed from week 6 to 10, which may be attributed to an immobilization of water soluble P (source: COST Action 829)

Jalanan

Setiap kali saya membaca berita dari milis atau mendengar langsung cerita teman2 yang baru pulang dari Indonesia (negeriku tercinta), topik yang menarik adalah "toleransi" berlalu lintas. Berbagai versi yang lucu dan terkadang menyebalkan terlontar bagaimana gambaran sesungguhnya lalu-lintas diberbagai kota besar di negaraku (katanya). Ada salah seorang anak teman yang baru pulang minggu kemaren, dia bilang "kok mobilnya parkir di jalan?". Orang tuanya hanya tersenyum mendengar celoteh anaknya, padahal itu kan rombongan mobil macet. Nah, disini (katanya lagi), paling banyak sikap masyarakat yang "toleransi", apatis, individualis dll. Mark jalan tidak lah menjadi barang yang perlu diperhatikan, jangan kan itu, pak pol... saja tak membuat pengemudi (yang kagak ngerti aturan) ngeri. Saling dahului, saling klakson, saling umpat, itu makanan sehari2.
Nah bagaimana enaknya kalau semuanya ikut aturan, tanpa "toleransi". Di negeri tempatku berlabuh sekarang, anak sekolahan dengan enaknya dijalanan pakai CD-player, mau nyebrang tinggal lihat lampu hijau, dan bakalan ngga kena klakson. Jadi kagak perlu lagi lihat kiri-kanan, takut mobil nyolong. Kalau masalah klakson mobil, kayaknya seharian kalau kita dijalanan, bisa dihitung dengan jari, tapi kalau wochenende banyak juga kalau ada rombongan orang pesta kawinan.
Cuma lain negeri lain pula cerita. Dulu waktu saya reise ke Prancis, wah sampai seperempat jam nunggu lampu merah, eh orang disamping saya kagak perlu lihat lampu merah kalau nyeberang.