Dienstag, Februar 17, 2004
Senyuman hari ini
Senyuman adalah alat yang ampuh untuk menunjukkan kesenangan perasaan seseorang. Dengan seuntai senyum akan tergambar sedikit perasaan hati si-senyum-er, walau dalam jenis2 senyum ada juga yang menggambarkan ketidaksengan, senyum sinis contohnya. Mungkin pagi ini saya tidak akan menulis macam2 senyum dan pembagiannya, namun hanya menceritakan sekelumit senyum pagi ini yang sangat berarti bagi kerjaan saya selama ini. Kemaren saya memberikan draft dissertasi saya ke professor pembimbing lapangan/betreuer, yaa taroklah namanya pembimbing kedua. "Senen pagi saya berikan!", begitulah janji saya sebelumnya dengan dia. Nah, terpaksa sabtu dan minggu saya musti lembur kerja dirumah dan sedikit berbagi waktu dengan anak2 bermain. Alhamdulillah, akhir minggu berlalu...walau tidak seindah akhir minggu biasanya, yang selalu diisi dengan jalan2 ke zentrum atau spielplatz dengan keluarga. Tepat senin pagi saya berikan lembaran2 kerja tersebut ke professor. Karena dia lagi rapat, jadi saya letakkan saja dibriefkastennya (kotak surat). Lalu saya berlalu menuju ruangan..dan membayangkan kapan mau diambil itu draft sama prof. Ah.., susah2 amat mikirin...yang penting janji sudah saya tepati janji to, dan setelah rapat dia musti lihat itu kertas2 kerja saya tersebut, jawab bathin saya. Nachmittag, sekitar jam 13, ada telephon dan tertulis nama dia. Waoow, ada apa pula yang musti secepat ini musti diperbaiki, bathin saya. "Kannts du zu mir kommen?", terdengar suara dari telephon. "Ya..! Ich komme gleich...und Tschuess", jawab saya sambil menaroh gagang telphon dan sedikit pikiran berkecamuk...Sambil berlari2 kecil saya menuju ruaangannya. Alhamdulillah ternyata dia acc draft dissertasi saya (yang sudah beberapa kali sebelumnya dia koreksi) dan disuruh antarkan ke doktorvater, sebutan untuk pembimbing utama mahasiswa doktoran. Dengan senang saya berlalu dan menuju ruangan doktorvater, dan sebelumnya saya harus melalui sekretarisnya dulu yang ada 3 orang. Ok, silakan masuk katanya. Lalu saya ketok ruangannya, dan memberikan tumpukan lembaran kalau ngga salah sekitar 150pp. Sedikit basa-basi, lalu saya berlalu meninggalkan ruanggannya. Sambil bernapas lega langsung saya menuju ruangan kerja lagi, ngapai-in? Yah, tentunya isi blog dulu..he..he..(biar ngga stress). Nah, heute morgen habe ich mit Sie (die zweite prof.) getroffen....dan dia bilang, kemaren saya sudah ketemu dia (doktovater) dan dia bilang "lumayan....". Wooow, dia tersenyum senang dan saya tentunya jauh lebih senang. Disamping itu, termin untuk draft ke doktorvater sebenarnya kan akhir maerz..jauh lebih cepatkan??. Terasa pekerjaan yang bertahun2 itu ngga sia2 hanya dengan perkataan tersebut. Walau nanti mau diobrak-abrik lagi perbaikin, ngga masalah...namanya juga koreksian too..."belajar lagi aahhh!!!" Wah gara2 dibilang "lumayan" jadi gr niiih, belajarnya tambah semangaaaaat....he...he..he..
Montag, Februar 16, 2004
Cerita seputaran denda
Rehat dulu...sekalian ngisi blog yang hampir seminggu ngga diisi (iya gitu?). Tema hari ini barangkali lebih menarik dipikiran saya adalah masalah dunia perdendaan. Minggu kemaren teman saya sekota bercerita, katanya dia kena denda 15 euro, itu pun dua kali. Hitung2kan jadi 30 euro. "Apa pasal?" kataku. Akhirnya dengan sedikit berbisik (ngapain berbisik yaa ngga? he..he..), dia buka rekening bank cuma ada sedikit kelalain, lupa menuliskan alamat lengkap appartmentnya (nomor kamar). Otomatis yang namanya surat kadang nyampai dan kadang ngga kan? karena satu appartement orangnya kan puluhan, jadi pak postnya kan bingung. Trus kok bisa didenda....? Nah ceritanya gini, setelah buka rekening, tentunya seminggu kemudian akan datang bankcard. Cuma.., karena alamatnya ngga lengkap..itu kartu balik lagi ke yang empunya (bank). Seminggu ditunggu, dua minggu kartu ngga datang akhirnya sampailah sebulan kagak datang juga. Dengan gagah berani (tentunya..) teman saya datang ke bank yang telah mengikat janji tersebut. Alhasilll....ternyata mereka sudah dua kali ngirim surat..tetapi menurut cacatan pak post, alamat tidak ditemukan. OK alles klar, diperbaikilah alamatnya dengan lengkap nomor kamar app. Hanya sampi disitu? Ya..tidak, kesalahan kalau di Jerman hampir selalu dikenai denda, ternyata satu kali kesalahan (alamat tidak lengkap)---surat balik---dendanya 15 euro dari bank. Karena mereka katanya harus membuat kartu baru lagi. Mau ngotot...??? percuma, ngotot akan diterima aber denda jalan teruuuus. Nah makanya kalau mau pindah rumah, pindah kota apalagi atau mau balik ke Indonesia, harus lapor kebank, biar bebas denda. Cerita yang sama juga telah menimpa teman saya yang lain setahun yang lalu, cuma dia kena 1 kali saja, itu pun mahaaalkan, berapa rupiah coba???
Mittwoch, Februar 11, 2004
Mimpi Dzakiyyah
Bangun tidur Dzakiyyah biasanya akan selalu bilang mimpi ini, mimpi itu dan terkadang hanya satu dua yang bisa kita tangkap. Pokoknya ada temen2, ada Ayah ada Mama, ada Adek Fathur de el el. Nah, pagi ini katanya dia mimpi. Kebetulan saya sudah dikantor, jadi hanya mendengarkan cerita tidak langsung dari mamanya, itupun via telpon. Katanya gini, "Ayah mana, mama?" tanyanya. "Sudah ke kantor" jawab mamanya, "memang kenapa ayuk? "Dzakiyyah mimpi ke sekolah dengan Ayah..". Trus mamanya nanya, "mama ada ngga dimimpi?". Dengan lugu dia jawab, "Ya..ngga dong, kalo mau ikut ayah kesekolah dalam mimpi..., mama harus mimpi juga dibantal ini" sambil menunjuk bantalnya.
Montag, Februar 09, 2004
Keywords today
Badai salju; ke kantor telat; bis telat 15 minute; dingiin; jalanan becek; ngimel/ngeblog/baca koran; kerja revisi thesis; siangnya badai salju lagi; istirahat siang/makan; sholat; kerja lagi; cuaca mulai panas; salju habis; pulang jam 5.45 (agak telat); dingiin masih; enak minum kopi; trus makan malam; sholat dan istirahat, main sama Dzakiyyah & Fathur; und bis morgen...!!
Donnerstag, Februar 05, 2004
KinderPrinzenPaar
Sore ini kita sempat nonton KinderPrinzenPaar der Stadt Braunschweig di Galeria Kaufhof. Acaranya cuma sebentar, dari jam 16.11 bis 18.00. Kita datang sekitar jam lima, karena baru pulang dari Institut. Alhamdullillah sempat sekitar satu jam juga kita nonton. Pokoknya, walau Dzakiyyah belum tidur siang, dia kelihatan senang bangeet. Sampai2 ngga mau pulang. Sedangkan Fathur sudah tidur, jadi asyik2 aja dia nonton. Acara ini sebagai pemanasan menjelang acara karnaval yang akan diadakan di Braunschweig hari minggu ini. Acara karnaval ini menjadi rutinitas tahunan dikota2 Jerman. Asyiiik, minggu ini kita nonton lagi karnaval, biasanya orang banyaak bangeet. Dan pulang2 bawa permen dan coklat yang banyak. Kayak pawai tujuhbelasan laa. Semoga hari minggu ini ngga hujan...
Montag, Februar 02, 2004
Catatan HR Idul Adha dipenghujung musim dingin
Tak ada suara takbir dari corong2 mesjid, atau bunyi beduk dan celotehan anak2 kecil dijalanan yang berlari2 menuju mesjid. Yang ada hanya bunyi2an berisik dijendela kaca appartmentku diterpa hujan yang memang deras sejak tadi malam. Terasa dingin disekujur tubuh, saat kutatap keluar jendela melihat situasi dijalanan dibawah sana. Semua memang terekam jelas karena letak appartment kami ada dilantai delapan. Arah pertama yang dituju adalah traffic light, pas sebelah kiri pandangan dari jendela. Jalanan sepi, hanya satu dua mobil yang lewat, karena memang hari ini hari minggu ditambah hujan lebat. Minggu, 1 Februar 2004 ini bertepatan dengan 10 Zulhijjah 1424, IDUL ADHA. Ini kali ke-empatnya saya melaksanakan lebaran Idul Adha di Braunschweig ini. Setelah kami melaksanakan sholat subuh, terlihat Dzakiyyah sudah duduk sambil bersimpuh dan spontan bertanya, "Ayah ngga sekolah?". Saya menatapnya dan perlahan menghampirinya serta memeluknya, "ngga Nak, kan hari ini hari minggu, dan kita mau pergi sholat Idul Adha." Saya menatapnya lagi sambil menunggu jawaban darinya. "Ayuk boleh ikut?", katanya. "Boleh, adek Fathur juga ikut, mamamu juga ikut...semua ikut" jawabku lagi. Tampak keceriaan diraut wajahnya dan dia beranjak dari duduknya menuju kamar mandi. Sementara Fathur masih tidur, dan kita mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat sholat Idul Adha. Ya kinderwagen plus decke dan payung untuk menghindari hujan, walau tampaknya sudah berangsur-angsur reda. Minuman dan sedikit roti, kalau2 nanti mereka lapar di Mesjid atau dijalan. Karena seperti biasa, tidak ada toko atau supermarkt yang buka dihari Minggu/libur. Setelah dari kamar mandi, Dzakiyyah dipasangin baju, tentunya berlapis2 karena musim dingin. Dan lapisan terluar adalah Jacke, namun jas hujan buat dia juga telah digantung diKinderwagennya Fathur. Setelah kita bertiga selesai, bangunlah Fathur, lalu diganti pakaian dan kita berangkat. Pas berdiri didepan appartment kami, benar ternyata rintik2 hujan masih ada, langsung jas hujan Dzakiyyah dipasang dan decke kinderwagen Fathur juga dipasang, serta payung dibuka. Lalu kita berdiskusi kecil mau naik S-bahn atau jalan kaki. Dengan pertimbangan, akhirnya kita putuskan jalan kaki, karena kalau naik S-bahn harus menunggu sekitar setengah jam lagi sedangkan kalau jalan kaki hanya sekitar 20 menit dan tak perlu pula bayar 1.7 euro. Nah, guenstig oder? Dzakiyyah kelihatannya menikmati hujan rintik2 ini, sekali-kali dia injakkan kakinya digenangan air hujan dipinggir jalan. Dan terkadang dia berhenti sebentar. Tapi entah apa yang kepikir sama dia, mau pergi kemana? Ingat saya dulu waktu kecil, mulai dari bangun tidur...sudah ada tanda2 ini hari lebaran, biasanya bangun pagi2, trus bersama rombongan anak2 yang lainnya berlari-lari menuju mesjid. Sepanjang jalan orang2 berpakain warna-warni, putih, bermukenah, saling menyapa dan tersenyum bahagia, sementara gema takbir tak henti2nya. Kalau disini, jauh dari bayangan itu. "Kok, ngga ada teman2 yang lain ya?" celetukku sambil melihat kebelakang. "Apa, jam sholatnya benar jam setengah sepuluh?" kataku lagi, tanpa menunggu jawaban dari istriku. "Tadi malam pada nelpon benar jam setengah sepuluh sholat dan mulai takbiran jam sembilan" jawab istriku sambil mendorong terus Kinderwagennya Fathur. "Ah, mungkin karena hujan kali yaa..? teman-teman pada datang terlambat" celotehku lagi memberi keyakinan. Jam sembilan kurang sedikit akhirnya kami sampai juga ke mesjid baru, alhamdulillah sudah hampir separoh ruangan mesjid yang berkapasitas sekitar limaratus orang ini terisi, dan kita juga tidak telat. Ruangan untuk ibu2 dan Bapak2 dipisah. Masuk keruangan mesjid, baru terasa bahwa sekarang ini adalah HR Idul Adha, gema takbir..allahu akbar...allahu akbar..allahu akbar mengisi seluru ruangan mesjid. Wah indahnya ucapan itu.....Sehabis sholat kita tanpa dikomandoi berkumpul sesama teman2 dari Indonesia yang kurang lebih sekitar 20 orang. Saling bersalaman, berpelukan, yaa..pelepas rindu lebaran ditanah air. Lalu kita pulang kerumah masing2, karena siangnya kita akan mengadakan halalbihalal. Makanannya, wah banyaaaak, ada kimlo (khas palembang), kare kambing, kare ayam, baso ayam, sambal petai, salat plus kuah kacang, kerupuk, es campur, kue2 (ngga hapal namanya) de-el-el. Pokoknya makanan yang berbau ke-Indonesian-an......
Freitag, Januar 30, 2004
Salju
Tebal bangeet saljunya.....pas dilihat ke jalan. Jalanan sudah sepi, hanya satu dua mobil yang lewat. Maklum hari sudah lewat tengah malem. Siapa lagi yang berani keluar dingiiin....dingiin..., dingiiin begini. Tidur dulu aahhh, besokkan sudah janji sama anak-anak mau main luncuran salju, asyiiiik...asyiik. Ntar kita bikin video und foto yang banyak. Tschuess....!!!!
Freitag, Januar 23, 2004
Dach
Kemaren ada orang datang keruangan saya. Seperti sudah tradisi, kalo orang disini mau masuk ruangan/bertamu, ketok dua kali..tok..tok..dan tanpa menunggu jawaban dari dalam langsung buka pintu, trus "guten tag!". Datang seorang bertubuh gede dan saya belum pernah lihat sebelumnya. Kalo mitarbeirter diinstitut saya sudah hapal semua. Saya dulu pernah punya pengalaman. Waktu itu saya mau bimbingan ke betreuer/tutor, dan tepat pada jam yang telah disepakati saya pergi menuju ruangannya yang kebetulan ada dilantai dasar (Erdgeschoss). Lalu saya ketok itu pintu, dan tunggu beberapa saat..., trus ketok lagi, tunggu lagi kagak ada yang buka pintu. Kok ngga ada juga yang keluar. Setahu saya kalo di Indonesia kan; ketok pintu tiga kali-tunggu beberapa saat-lalu pintu dibukakan. Saya pikir, biasanya orang jerman puenktlich (tepat waktu). Dan selagi saya berpikir, datang professor pas dihadapan saya. "Herein bitte..!", masuk katanya. Dengan basa-basi saya bilang,"Kirain tadi ngga ada". Dia bilang kita kan sudah janji mau diskusi, dan kalau disini, mau masuk ketok dulu..trus buka saja pintu..., dan ucapakan "guten tag!" Nah, sejak itu baru saya tahu tradisi di Jerman (semua daerah kali yaa?). Dan dengan tersenyum sedikit saya bilang, maklum saya baru di Jerman, jadi belum tahukan?. Nah balik kecerita orang yang datang diatas, ternyata bagian "tukangnya" lah kalo di Indonesia. Katanya dia mau perbaikan dach/loteng. Memang kemaren saya bilang sama teman saya Geert yang bekerja dibagian umum diinstitut saya. Kirain dia langsung yang perbaiki, soalnya ada loteng yang bocor dirungan saya. Eh..ternyata kudu yang jurusan perlotengan pula yang memperbaikinya. Mendingin bocornya banyak, dikiit bangget. Nah itu lah kalo di Jerman, semuanya spesialisasi....Bagus juga sih..
Donnerstag, Januar 22, 2004
46..47..48...
Hari ini saya berangkat agak kesiangan, jam 08.05. Dzakiyyah pun sudah bangun dari tidurnya dan masih sempat nonton Marcelino di TV kesayangannya KI.KA. Kalau ngga salah jadwal Marcelino ini dari Jam 07.30, lalu disambung dengan Musik boxx dan Sesamstrasse. Saya tanya sama Dzakiyyah "nonton apa Nak, abaluga?", karena ada acara anak2 yang dia senangi namanya Tabaluga, cuma dia taunya abaluga. "Nein, ini..ini.., yang sama kayak computeer", sambil menunjuk ke TV. Memang hampir semua acara anak2 di KI.KA dia sudah lihat dulu di websitenya.. Makanya dia sebenarnya lebih senang lihat websitenya dari pada TV sendungen. Ntar kalo dia sudah nonton sebentar, langsung hidupkan komputer sindiri, dan browsing deeh ke sini..... Yah main games, dengarin soundtracknya etc,. Sedangkan Fathur, sampai saya berangkat dia masih boboo, biasanya dia bangun sekitar jam 09.00 oder 10.00. karena dia memang suka tidurnya telat, bisa-bisa sampai jam 11.00 malem baru tidur, makanya bangun kesiangan melulu. Sepuluh menit menjelang Jam bis tiba, pamit.., cium pipi kiri..pipi kanan..kening..dan Assalamualaikum..., turun aufzug..jalan ke halte..dan naik bis....trus sampai di meja kerja tertulis di notes angka 46. Itu tandanya hari ini saya mulai ngebetulin thesis mulai dari halaman 46....dan mudah2an tanggal 29 Januar sudah bisa dikasihin sama professor. Kerja dulu...46...47...48...dst...
Mittwoch, Januar 21, 2004
Al-Bashri dan Gadis Kecil
Online source:Al Islam.or.id
Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusust dan terurai, tak beraturan.
Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.
Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
"Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini."
Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, "Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini."
Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Al-Bashri. "Aku akan ikuti gadis kecil itu."
Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.
"Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?"
"Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalm, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"
Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.
"Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, "Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercbik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?"
"Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?"
"Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?"
"Jika kupanggil, engkau selelu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?"
"Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti."
Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai."
Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.
Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Tim Poliyama Widya Pustaka
Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusust dan terurai, tak beraturan.
Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.
Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
"Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini."
Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, "Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini."
Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Al-Bashri. "Aku akan ikuti gadis kecil itu."
Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.
"Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?"
"Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalm, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"
Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.
"Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, "Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercbik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?"
"Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?"
"Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?"
"Jika kupanggil, engkau selelu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?"
"Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti."
Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai."
Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.
Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Tim Poliyama Widya Pustaka
Dienstag, Januar 20, 2004
Lukman Hakim dan Keledai
Online source:Al Islam.or.id
Lukman Hakim memerintahkan anaknya mengambil seekor keledai. Sang anak memenuhinya dan membawanya ke hariban sang ayah. Lukman menaiki keledai itu dan memerintahkan anaknya untuk menuntun keledai.
Keduanya berjalan melewati kerumunan orang banyak. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraya berkata, "Anak kecil itu berjalan kaki, sedangkan orang-tuanya nangkring di atas keledai, alangkah kejam dan kasarnya ia." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?" Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman turun menuntun keledai. Sang anak ganti menaiki keledai. Keduanya lalu berjalan melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba mereka mencemooh sang anak seraya berkata, "Anak muda itu menaiki keledai, sedangkan orang tuanya berjalan kaki, alangkah jelek dan kurang ajar sang anak." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman dan anaknya sama-sama menaiki keledai berboncengan. Keduanya melewati keramaian di tempat lain, tiba-tiba orang-orang mencerca keduanya seraya berkata, "Betapa kejam kedua orang itu, mereka menaiki seekor keledai, padahal mereka tidak sakit, dan tidak pula lemah." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Akhirnya, Lukman dan anaknya turun dari keledai. Keduanya berjalan kaki sambil menuntunnya melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraca berkata, "Subhanallah... seekor himar yang sehat dan kuat berjalan? sementara kedua orang itu berjalan menuntunnya, alangkah baiknya jika salah satu dari mereka menaikinya." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman menasihati anaknya: "Wahai anakku, bukankah aku telah berkata kepadamu, kerjakanlah pekerjaan yang membuat engkau menjadi saleh dan janganlah menghiraukan orang lain. Dengan peristiwa ini saya hanya ingin memberi pelajaran kepadamu."
Sumber: Didaptasi dari, Luqmanul Hakim wa-Hikaamuhu, Ali bin Hasan al-Athas
Lukman Hakim memerintahkan anaknya mengambil seekor keledai. Sang anak memenuhinya dan membawanya ke hariban sang ayah. Lukman menaiki keledai itu dan memerintahkan anaknya untuk menuntun keledai.
Keduanya berjalan melewati kerumunan orang banyak. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraya berkata, "Anak kecil itu berjalan kaki, sedangkan orang-tuanya nangkring di atas keledai, alangkah kejam dan kasarnya ia." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?" Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman turun menuntun keledai. Sang anak ganti menaiki keledai. Keduanya lalu berjalan melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba mereka mencemooh sang anak seraya berkata, "Anak muda itu menaiki keledai, sedangkan orang tuanya berjalan kaki, alangkah jelek dan kurang ajar sang anak." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman dan anaknya sama-sama menaiki keledai berboncengan. Keduanya melewati keramaian di tempat lain, tiba-tiba orang-orang mencerca keduanya seraya berkata, "Betapa kejam kedua orang itu, mereka menaiki seekor keledai, padahal mereka tidak sakit, dan tidak pula lemah." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Akhirnya, Lukman dan anaknya turun dari keledai. Keduanya berjalan kaki sambil menuntunnya melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraca berkata, "Subhanallah... seekor himar yang sehat dan kuat berjalan? sementara kedua orang itu berjalan menuntunnya, alangkah baiknya jika salah satu dari mereka menaikinya." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman menasihati anaknya: "Wahai anakku, bukankah aku telah berkata kepadamu, kerjakanlah pekerjaan yang membuat engkau menjadi saleh dan janganlah menghiraukan orang lain. Dengan peristiwa ini saya hanya ingin memberi pelajaran kepadamu."
Sumber: Didaptasi dari, Luqmanul Hakim wa-Hikaamuhu, Ali bin Hasan al-Athas
Mittwoch, Januar 14, 2004
Download gratis
Ada website yang nyedia-in download gratis buku2 sederhana untuk: Access, SQL; DOS; Excel; Grafik; Hardware; Homepages, Internet, PowerPoint, Word, etc, cuma bahasanya Jerman. Ada yang bisa full download (kl sudah Ausverkauf atau habis), dan kebanyakan 20 halaman pertama semuanya free download mehr...
Samstag, Januar 10, 2004
Alles Gute zum Geburtstag
Hari ini yang mau ulang tahun Dzakiyyah sudah bangun pagi-pagi, karena dia tau teman-temannya akan datang untuk syukuran ulangtahun nya yang ke-3. Sedangkan Mamanya pada saat berita ini diturunkan sedang berkutat di dapur mempersiapkan segala sesuatu untuk acara syukuran nanti yang akan diadakan jam 14.00 waktu Braunschweig. Btw, yang penting adalah doa buat ananda Dzakiyyah, semoga kelak menjadi anak yang sholeha, makin pintar, sayang sama kedua orang tua dan adik Fathur serta semua Keluarga, dan umurnya diberkahi oleh Allah SWT, amiin.
Freitag, Januar 09, 2004
Sajak Anak 8 Tahun Menjelang Pemilu
SOURCE: ERAMUSLIM.COM
Publikasi: 09/01/2004 13:51 WIB
eramuslim - Hari ini Faiz pulang cepat dari sekolah. Sambil bermain komputer, ia menanyakan berbagai hal tentang Pemilu 2004. Tentang KPU, usia pemilih dan yang dipilih, tentang artis yang menjadi caleg, tentang apa dan siapa yang disebut politikus busuk, soal bagaimana mekanisme pemilihan bagi para tunanetra dan masih banyak lagi. Saya sampai kewalahan menjawabnya. Ia terus mengoceh ini itu. Saya katakan, "Bagaimana kalau Faiz tulis apa yang ingin Faiz sampaikan seperti biasa? Siapa tahu bisa jadi puisi bagus?"
"Iya, Bunda," katanya ringan.
Tapi kemudian ia menghilang dan saya temukan sedang asyik membaca buku cerita "Kluntung Waluh" di garasi. Satu jam kemudian ia sudah sibuk menceritakan kembali isi buku tersebut pada kedua pembantu kami.
Kluntung Waluh bercerita tentang seorang anak kecil miskin yang lahir tanpa kaki dan tangan. Namun ia tak pernah mengeluh dan rajin membantu ibunya. "Anak kecil aja bisa begitu!" seru Faiz.
Ia kembali masuk ke kamar dan duduk di depan komputer. Saya pikir, ia akan bermain game atau menulis tentang Kluntung Waluh yang telah menyentuh hatinya. Ternyata tidak.
Menjelang salat jum'at, jadilah puisi di bawah ini. Puisi yang sangat menyentuh bagi saya, hingga saya menitikkan airmata. Dan sambil memiringkan kepalanya, menatap saya serius, Faiz malah bertanya, "Mengapa sih bunda menangis lagi karena puisi?"
SAJAK ANAK 8 TAHUN, MENJELANG PEMILU
Bunda mengapa anak 8 tahun tak boleh ikut pemilu?
Karena kalau kami bisa memilih mi akan pilih mereka yang berbudi dan selalu peduli yang tak pentingkan diri sendiri tak pernah melanggar hukum serta paling anti korupsi.
Kami pasti memilih mereka yang berwawasan mun takut pada Tuhan.
Tak usah tawari kami uang palagi permen atau mainan mi tiada sudi.
sebab kami pemilih sejati yang rindu senyuman negeri.
maka orang-orang yang tak bersih menyingkirlah dari jalan ini.
Bunda, mengapa anak 8 tahun tak boleh memilih
dan harus menunggu sampai 2014?
Sebab andai bisa memilih dalam pemilu ini,
kami akan pastikan yang terbaik gi Indonesia.
(9 Januari, 2004, Abdurahman Faiz)
Helvy Tiana Rosa
*Faiz Abdurrahman, adalah pemenang Pertama Lomba Menulis Surat untuk Presiden Tingkat Nasional, Kategori Kelas I-III SD dalam Rangka Hari Anak 2003, dan diumumkan pada 10 Agustus 2003, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Publikasi: 09/01/2004 13:51 WIB
eramuslim - Hari ini Faiz pulang cepat dari sekolah. Sambil bermain komputer, ia menanyakan berbagai hal tentang Pemilu 2004. Tentang KPU, usia pemilih dan yang dipilih, tentang artis yang menjadi caleg, tentang apa dan siapa yang disebut politikus busuk, soal bagaimana mekanisme pemilihan bagi para tunanetra dan masih banyak lagi. Saya sampai kewalahan menjawabnya. Ia terus mengoceh ini itu. Saya katakan, "Bagaimana kalau Faiz tulis apa yang ingin Faiz sampaikan seperti biasa? Siapa tahu bisa jadi puisi bagus?"
"Iya, Bunda," katanya ringan.
Tapi kemudian ia menghilang dan saya temukan sedang asyik membaca buku cerita "Kluntung Waluh" di garasi. Satu jam kemudian ia sudah sibuk menceritakan kembali isi buku tersebut pada kedua pembantu kami.
Kluntung Waluh bercerita tentang seorang anak kecil miskin yang lahir tanpa kaki dan tangan. Namun ia tak pernah mengeluh dan rajin membantu ibunya. "Anak kecil aja bisa begitu!" seru Faiz.
Ia kembali masuk ke kamar dan duduk di depan komputer. Saya pikir, ia akan bermain game atau menulis tentang Kluntung Waluh yang telah menyentuh hatinya. Ternyata tidak.
Menjelang salat jum'at, jadilah puisi di bawah ini. Puisi yang sangat menyentuh bagi saya, hingga saya menitikkan airmata. Dan sambil memiringkan kepalanya, menatap saya serius, Faiz malah bertanya, "Mengapa sih bunda menangis lagi karena puisi?"
SAJAK ANAK 8 TAHUN, MENJELANG PEMILU
Bunda mengapa anak 8 tahun tak boleh ikut pemilu?
Karena kalau kami bisa memilih mi akan pilih mereka yang berbudi dan selalu peduli yang tak pentingkan diri sendiri tak pernah melanggar hukum serta paling anti korupsi.
Kami pasti memilih mereka yang berwawasan mun takut pada Tuhan.
Tak usah tawari kami uang palagi permen atau mainan mi tiada sudi.
sebab kami pemilih sejati yang rindu senyuman negeri.
maka orang-orang yang tak bersih menyingkirlah dari jalan ini.
Bunda, mengapa anak 8 tahun tak boleh memilih
dan harus menunggu sampai 2014?
Sebab andai bisa memilih dalam pemilu ini,
kami akan pastikan yang terbaik gi Indonesia.
(9 Januari, 2004, Abdurahman Faiz)
Helvy Tiana Rosa
*Faiz Abdurrahman, adalah pemenang Pertama Lomba Menulis Surat untuk Presiden Tingkat Nasional, Kategori Kelas I-III SD dalam Rangka Hari Anak 2003, dan diumumkan pada 10 Agustus 2003, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Mittwoch, Januar 07, 2004
My best friend
Hari ini salah seorang teman baik saya di Institute ujian "disputation/promotion" di Ecological Chemistry and Waste Analyses, TU Braunschweig. Seperti biasa kita berangkat dengan bus dari institut saya Institute of Plant Nutrition and Soil Science, FAL ke tempat ujian tersebut. Rombongan ada sekitar 10 orang dengan 1 bus dan 2 lkw. Sepuluh menit perjalanan, dan seperempat jam sebelum mulai ujian 10.15 kita sudah siap diruangan sidang. Disputation di TU Braunschweig regeln-nya, 30 menit presentasi oleh kandidat doktor dan 45 menit diskusi. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, dan teman saya memperoleh nilai "bagus". Sudah tradisi di institut saya, setelah ujian egal itu musim sommer oder winter, dari TU BS kita pulang ke FAL dengan menggunakan tractor yang sudah dihiasi, woooh walau dingin2an, asyiik juga. Sampai di institut diadakan yang namanya Doktorfeiern, dengan makanan khas Arab, karena teman saya berasal dari Aegypten. Selamat temanku, semoga ilmu yang kau peroleh memberikan manfaat bagi ummat dan sukses untuk karier di masa depan. Wassalam...
Samstag, Januar 03, 2004
Schnee
Bangun tidur saya lihat ke jendela, salju masih saja turun. Memang sejak siang kemaren salju terus saja turun sampai malam. Warna putih menghiasi jalanan dan atap rumah walaupun belum tebal bangeet. Dzakiyyah dan Fathur masih tidur, ntar kalo mereka bangun kita mau main schnee, asyiiik. Wah, Dzakiyyah sudah bangun, katanya sih mau main game, OK dech gantian pakai computernya..
Mittwoch, Dezember 31, 2003
LastMinute
Montag, Dezember 29, 2003
Film kesukaan Dzakiyyah
Dari banyak film anak2, yang Dzakiyyah tonton, film Heidi menjadi film yang sangat digemarinya. Film ini menceritakan "Kindheit" seorang putri kecil yang bernama Heidi. Film ini mulai diproduksi di Jepang sejak tahun 1974/75. Seri/Folge pertama dari Film Heidi ini bahasa Jepangnya+Deutsch Arupu no shojo haiji, das heisst Heidi, das Maedchen aus den Alpen, Sampai sekarang sudah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa. Original Heididorf di daerah Schweizer Bergen, Ort Maienfeld. Sebenarnya ceritanya biasa-biasa saja (versi saya loo), cuma bagi Dzakiyyah interessant bangeeet, kalau mau pergi main dan dia sedang nonton film ini, wah musti ditunggu dulu. Kehidupan Heidi ini layaknya anak2 yang tinggal didesa pegunungan zaman baheula, gembala, lari2 di lereng gunung, main ayunan. Teman akrabnya Heidi ini ada Markus dan Clara. Dia sendiri tinggal dengan Grossvater-nya (Peter), dan tidak jauh dari rumah kakeknya ini tinggal Grossmuetter-nya. Memang indah kehidupan Heidi dengan segala keceriaannya tinggal bersama teman2 dan kakeknya, jauh dari kebisingan kota. Penuh canda..., makanya kalau kita ke luar kota dan melewati daerah pegunungan atau persawahan, Dzakiyyah akan selalu melotot dan terkadang bertanya, "Mana Heidi nya?". Konon khabarnya, anak2 Jepang yang datang ke Jerman/Swiss, selalu pergi ke original-heididorf, dan daerah ini adalah salah satu tujuan wisata. Mudah2an, lain waktu kita bisa juga pergi kesana...Kalau Dzakiyyah rindu ama soundtrack Heidi, biasanya dia langsung ke Der Heidisong.
Der Heidisong
Heidi, Heidi, deine Welt sind die Berge!
Heidi, Heidi, denn hier oben bist du zu Haus'.
Dunkle Tannen, gruene Wiesen im Sonnenschein,
Heidi, Heidi, brauchst du zum Gluecklichsein.
Heidi, Heidi,
komm nach Haus', find dein Glueck,
komm doch wieder zurueck!
Dort in den hohen Bergen
lebt eine kleine Maid,
gut Freund mit allen Tieren,
ist gluecklich alle Zeit,
im Winter wie im Sommer auch,
wenn all die Herden zieh'n,
am Morgen und im Abendschein,
wenn rot die Alpen bluehn.
Heidi, Heidi, deine Welt sind die Berge!
Heidi, Heidi, denn hier oben bist du zu Haus'.
Dunkle Tannen, gruene Wiesen im Sonnenschein,
Heidi, Heidi, brauchst du zum Gluecklichsein.
Heidi, Heidi,
komm doch Heim, find dein Glueck,
komm doch wieder zurueck!
(Text: W. Weinzierl, A. Wagner)
Samstag, Dezember 27, 2003
Liburan akhir tahun
Liburan tentunya sangat ditunggu-tunggu, apalagi liburan akhir tahun ini sekitar dua minggu. Masuk kerja pun tak ada orang, apa lagi heizung di Institut dikecil-in, dingin banget. Terpaksa ambil cuti juga, padahal ada kerjaan yang musti diselesaikan Januar nanti. Nah..susah bangeet kerja dirumah, biasanya yang namanya computer selalu rebutan. Jangankan Dzakiyyah, Fathur pun ikut rebutan. Ada nikmatnya juga, kerjanya ngga stress. Hasilnya?....cukup lah...he..he..Yang penting kan liburan sambil kerja, atau kerja sambil liburan. Yang penting ngumpul sama anak-anak yang lagi lucu2nya. Hasil kerjaan....na klar, ngga kan maximal. Sambil nunggu salju turun....dipenghujung tahun ini, tschuess...belajar dulu aahh..Si Fathur sudah tidur, tinggal Dzakiyyah aja yang sedang main dicomputernya.
Dienstag, Dezember 23, 2003
Mau liburan?
Sehubungan besok bis Montag liburan tahun baruan, jadi ngga usah ke kantor. Nah, bahan ini kudu dibaca kalo lagi liburan Mehr.....
Sonntag, Dezember 21, 2003
Sepi juga ei
Samstag, Dezember 20, 2003
Ayuk baca dulu...?!
Kemaren kita jalan-jalan ke kota/stadtfuehrung, Galeria Kaufhof, Karstadt, Mediamarkt dan juga sircus di pasar Weihnachtsmarkt yang diadakan setiap bulan Dezember. Orang rame banget pada belanja, kayak lebaran kalau di Indonesia. Salah satu kebiasaan sini adalah memberikan geschenk (hadiah) kalau bulan Dezember ini. Biasanya kalau Dzakiyyah main ke supermarkt waktu dihabiskan di mediamarkt, karena disana banyak spiele, dan peralatan eletronik. Tentu saja Dzakiyyah mau cobaain semua. Bisa2 dua jam main disana, coba ini, coba itu terutama computer terbaru atau notebook yang menarik bagi dia, dan terkadang harus digendong untuk hanya sekedar nyobain notebook. Makanya walau dia belum tiga tahun sudah bisa main computer, baik itu game atau program kayak media player, msword, finefixviewer atau berkunjung website kesukaannya. Jadi hampir selalu kalau lagi ngetem di internet rebutan sama dia. Tapi kemaren malam yang buat kita2 kedinginan, dia katanya mau baca (lihat foto). Ada jualan buku2 kecil didepan salah satu toko buku. Dia ngga mau pergi, dia lihat buku2 tersebut hampir sekitar setengah jam. Dinginkan, suhu sedang 4 derajat celsius. Dia bilang, "Ayah pergi saja dulu, ntar kesini lagi, Ayuk mau baca...." dll. Ya ngga berani dong ningalin dia, tunggu sampai dia bosan saja, baru kita pergi lagi. Itulah Dzakiyyah.........
Donnerstag, Dezember 18, 2003
Musim
Di appartment saya terpampang empat gambar ukuran A3 yang dulu saya photocopy warna dari teman. Objek dari gambar ini hanya sebatang pohon, entah mengapa istri saya sangat tertarik dengan gambar ini, jadilah sekarang gambar itu menghiasi ruang tamu. Setelah dipikir2 ternyata gambar itu sangat menarik, karena pohon tersebut menggambarkan empat musim (Winter, Herbst, Sommer dan Fruehling). Pernah suatu ketika kita berdiskusi mengenai susunannya, apakah winter dulu atau sommer dulu, sama saja kayak mana yang duluan ayam atau telor ayam, yang penting gambar tersebut enaak dulu dipandang, dan yang jelas setelah musim winter tentu datang herbst dst....Pernah tahun lalu salah seorang teman dari Indonesia yang datang ke Universitaet saya untuk melakukan penelitian postdoctor, dan sehari sebelum dia pulang dia bilang, "Pak, boleh saya photocopi gambar itu, ngga?" katan teman saya tersebut. Dan sebulan setelah sampai di Indonesia dia bilang, bahwa istrinya sangat senang dengan gambar tersebut dan katanya nanti kalau main ke Indonesia lihat dech, sudah dibingkai bagus, katanya. Pernah saya berencana mau bikin sendiri gambar tersebut dengan musim yang berbeda2 dengan objek yang sama, seperti pohon atau rumah, dalam bayangan saya itu pekerjaan gampang dan hanya perlu waktu setahun dan lebih gampang lagi tentunya dengan menggunakan digital camera. Tapi sampai sekarang ada saja musim yang tertinggal. Ya sudah lah...gambar itu saja dulu...Nah yang jadi ingatan saya sekarang adalah masalah musim di Indonesia. Dulu waktu saya sekolah es-em-pe dan sapai kuliah, guru2 selalu bilang musim dikita ada dua (Panas dan Hujan). Jadi dulu biar gampang mengingatnya, maka guru saya bilang, setiap bulan yang berakhiran ber (Septem/Okto/Novem/Desem-ber dan Januari, Februari, Maret) adalah musim hujan. Ada pertanyaan teman saya dulu, kenapa begitu? Yang lain jawab karena akhiran bulannya ber..ber..ber...(bunyi air hujan dicomberan kan gitu kantanya). Lalu dari April sampai bulan yang ber.....lagi adalah musim panas. Apakah begitu faktanya? Akh pusing juga saya, toh kalau di Bogor, perasaan hujan melulu. Terpikir dalam hati saya untuk membuat photo musim di Indonesia nanti kalau saya pulang nanti, cuma yang bingungnya begini. Photonya dipastikan ada dua (musim panas dan hujan). Yang susahnya untuk latar belakang, kalau saya ambil latar belakang pohon, berarti Gbr-1, adalah pohon yang tumbang untuk menggambarkan musim hujan. Kenapa? Ya..karena setiap musim hujan akan terjadi banjir yang menumbangkan pohon2 dan juga menghanyutkan rumah2 masyarakat. Lalu Gbr-2, adalah pohon yang berasap atau gambar arang saja sekalian, kenapa pulak??? Ya..karena kalau yang namanya musim panas, bencana yang lain akan datang adalah kebakaran hutan. Kalau begini gambarnya, kayaknya ngga elook sipampang diruang tamu yaa. Bagusnya dimajalah lingkungan x yaa...Coba kalau musim di kita 4 musim...wahh ngga tahu dech apa yang terjadi, dua musim saja sudah repot begini. Dari jauh saya doakan buat saudara2ku di RIAU yang lagi kebanjiran semoga air cepat surut dan mari kita tanggulangi agar tahun depan tidak banjir lagi. Gimana caranya yaaaa?? Yang jelas kita telah gagal mengelola lingkungan ini. Semoga besoooooook kita akan lebih baik. Dan tidak tertimpa tangga dua kali atau masuk lubang yang sama dua kali (atau sudah berkali x x x). Pusing juga akh, belajar dulu...
Mittwoch, Dezember 17, 2003
Banjir di Riau
Baca koran kesayangan Riaupos berita tentang banjir minggu2 ini, terutama di kawasan sungai Kampar dan sungai Kuantan/Indragiri. Mudah2an airnya cepat surut dan masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti semula. Kasihan juga anak2 banyak yang diliburkan karena sekolahnya diserang air/banjir. Dan berita lain, katanya harga2 pada naik seiring naiknya permukaan air (kenapa ya??). Dan jadi ingat masa kecil dech, ikutan renang kalau banjir kayak ginian...
Dienstag, Dezember 16, 2003
hai....keren
Montag, Dezember 15, 2003
Schnee/snow
Nah, akhirnya pagi ini Schnee/snow datang juga tahun ini. Bisa main luncur2an deh dengan anak-anak sehabis kerja nanti, asyiik....
Samstag, Dezember 13, 2003
Loewe (Lion)
Dzakiyyah sedang melihat Loewe (Lion), lambang kota Braunschweig di tengah pasar malam yang diadakan setiap Desember. Tapi dingin bangeet, "Ayuk mau pulang!!", kata Dzakiyyah..Akhirnya kita pulang deh...
Freitag, Dezember 12, 2003
Sekilas tentang Brauschweig
Braunschweig adalah kota kedua saya di Jerman setelah empat bulan tinggal di Goettingen. Kota Braunschweig adalah kota terbesar kedua di wilayah Lower Saxony/Niedersachsen berpenduduk sekitar 240 ribu penduduk. Sekitar 30 menit dari kota terbesar dan juga ibukota negara bagian Niedersachsen, Hannover. Braunschweig ini juga merupakan kota kembar Bandung sejak tahun 1960, disamping itu Technical University Carolo-Wilhemina Braunschweig atau lebih dikenal dengan TU Braunschweig yang telah berdiri sejak tahun 1745 menjalin kerjasama dengan Institut Teknologi Bandung dari tahun 1985. Jadi tidak heran sering pejabat-pejabat dari kedua instansi ini datang ke kota Braunschweig atau sebaliknya. Yang menarik untuk bidang ilmu pengetahuan, selain TU Braunschweig yang menjadi kebanggaan kota ini, juga terdapat beberapa lembaga/pusat penelitian, diantaranya adalah: Biologische Bundesanstalt fuer Land- und Forstwirtschaft (BBA), Bundesforschungsanstalt fuer Landwirtschaft (FAL), Deutsches Zentrum fuer Luft- und Raumfahrt e.V. (DLR), Gesellschaft fuer Biotechnologische Forschung mbH (GBF), Physikalisch-Technische Bundesanstalt (PTB). Lebih jauh tentang pusat penelitian ini bisa dilihat di forschungregion-braunschweig. Atau lihat langsung ke alamat website:
BBA, Federal Biological Institute for Agricultural and Forestry Sciences
; FAL, Federal Agricultural Research Institute ; DLR, The German Center for Aeronautical and Space Research ; GBF, The German Research Center for Biotechnology ; PTB, Physical engineering at the German Bureau of Standards. Pusat penelitian ini biasanya juga menerima student2 asing untuk penelitian master/doktor.
BBA, Federal Biological Institute for Agricultural and Forestry Sciences
; FAL, Federal Agricultural Research Institute ; DLR, The German Center for Aeronautical and Space Research ; GBF, The German Research Center for Biotechnology ; PTB, Physical engineering at the German Bureau of Standards. Pusat penelitian ini biasanya juga menerima student2 asing untuk penelitian master/doktor.
Donnerstag, November 27, 2003
P-Tag
Hari ini hari kedua saya masuk setelah cuti lebaran Idul Fitri. Hari yang cukup menarik, karena saya mengikuti Tagung dengan tema Aspekte der Bodenfruchtbarkeit, des Ressourcenschutzes und der Umweltrelevanz der P-Duengung. Disamping temanya sama dengan penelitian saya, juga bisa melihat penyampaian makalah oleh Prof J. Hahn yang selama ini saya banyak membaca tulisan dia dijournal dengan tofik tentang sewage sludge, phosphate and heavy metals aspects in agricultural system.
Dienstag, November 25, 2003
Abonnieren
Posts (Atom)