Nama panggilan ini terkadang sepele, bisa pula agak sepele, atau serius bahkan sampai derajat sangat serius. Saya teringat waktu dulu KKN, kuliah kerja nyata (bulan kanak-kanak nakal lho...) sepanjang jalan kita selalu dipanggil acep/cecep, karena lokasi KKN kita didaerah Garut. Sambil sedikit menunduk sebagai tanda hormat mereka menyapa kita dengan ramah, menurut pandangan saya sangat ramah. Karena begitulah adat kebiasaan mereka menghormati tamu/seseorang. Dan suatu kali saya pernah juga di panggil ujang sama seorang ibu dipinggir jalan sewaktu saya kuliah lapangan di daerah Banten.
Padahal kalau di rumah saya dipanggil abang, bang Iron itu panggilan untuk anak lelaki. Dan kalau saudara perempuan di panggil kakak. Sementara itu panggilan kakak diperuntukkan memanggil saudara laki2 dilingkungan keluarga istri saya karena dia dari Palembang. Sedangkan panggilan saudara perempuan adalah ayuk. Lain pula di Jawa, biasanya dipanggil Mas dan Mbak. Saking banyaknya cara dan ragam panggilan terkadang kita bisa ngga menoleh, kalau seseorang memanggil kita karena nama panggilan tersebut ngga familiar dengan telingga kita. Istilahnya, dimana kita berada disitu ada sebuah nama.....(maksudnya nama panggilan).
Lalu apa panggilan seseorang kalau di Jerman? Biasanya secara formal orang yang belum kenal dipanggil Herr (untuk laki2) dan Frau (untuk pr). Sebagai contoh Herr Rosyadi. Nah kenapa tidak Herr Imron? Di panggil Herr Rosyadi karena mereka selalu memanggil seseorang yang baru kenal atau di acara yang sifatnya resmi dengan nama family. Jadi kalau ada seseorang namanya Buku Tulis, dipanggil lah dia Herr Tulis. Kalau dijalan gimana? Karena pasti kita ngga taukan nama orang padahal kita mau bertanya (terumata kalau tersesat). Panggilan umumnya adalah Sie, artinya kurang lebih anda. Makanya pelajaran awal bhs Jerman selalu dengan kalimat: Wie heissen Sie (Siapa nama anda?), Woher kommen Sie (Dari mana anda datang?).
Kalau kita sudah kenal akrab dengan seseorang ngga kan pernah lagi dipanggil Sie, secara otomatis (kayak mesin aja..he..he..) akan dipanggil du. Artinya juga anda, atau bisa kamu, ente, loe. Sifatnya informal atau lebih dekeeet. Dan satu lagi saya takkan dipanggil lagi Herr Rosyadi atau Rosyadi, biasanya akan dipanggil nama awal, Imron. Panggilan ini juga bisa juga menjadikan indikator apakah kita sudah dianggap kolega dekat atau blon? (kadang2).
Lucunya juga, jika professor kita telah memanggil kita du dan nama awal, terus kita panggil dia apa? Ini agak susah juga. Karena yang namanya kita dari timur rasa2nya ngga sopan manggil dia dengan du atau nama awal, walaupun itu lumrah bagi mereka. Salah satu strategi berbincang, yaa ...hindari kalimat yang memakai kata Sie atau du..he..he...Cara ini mungkin banyak dipakai. Karena susah2 gampang, dipanggil Sie takut dibilang ngga akrab dan dipanggil du takut dibilang sok akrab. Atau bilang saja sekalian mein professor, alles klar....!!
Dulu pernah teman saya yang notabenenya seorang bapak dosen yang sedang menjadi mahasiswa doktor. Dia mengikuti kursus bahasa Jerman di Goethe-Institut. Suatu saat dia mau bertanya sama gurunya yang kebetulan perempuan. Dia dengan santainya memanggil Meine Lehrerin (artinya kurang lebih Ibu guruku). Spontan saja teman kursus lainnya ketawa, karena bagi mereka lucu. Karena biasanya kita cukup panggil nama saja, Gabriella dsb. Akhirnya teman saya menjelaskan, bahwa kalo di Indonesia kita manggil pengajar dengan panggilan Ibu guru atau Bapak guru. Nah susahkan merobah kebiasaan ini.....??? Karena sejak dari es de, es em pe, es em a sampai kuliah kita selalu memanggil dengan sebutan Ibu/Bapak Guru/Dosen.
Donnerstag, April 08, 2004
Montag, April 05, 2004
Perhitungan suara pemilu 2004
[1] Komisi Pemilihan Umum, KPU
[2] DetikCom
[3] EraMuslim
[4] Republika
[5] PPLN-Hamburg
Sonntag, April 04, 2004
Bahrain Formel1
2. Rubens Barrichello [Ferrari]
3. Jenson Button [BAR-Honda]
Sumber foto: RTL
Besok pemilu
Besok mau pemilu
Jangan gunakan hati nuraini untuk nyoblos
tapi gunakan paku yang sudah disediakan panitia..he..he..,
kalo pilihan?
jelas menggunakan hati nurani bukan hati nuraini.
Selamat pemilu, semoga berjalan lancar
Dan menghasilkan pemerintahan yang bersih
Jangan gunakan hati nuraini untuk nyoblos
tapi gunakan paku yang sudah disediakan panitia..he..he..,
kalo pilihan?
jelas menggunakan hati nurani bukan hati nuraini.
Selamat pemilu, semoga berjalan lancar
Dan menghasilkan pemerintahan yang bersih
Freitag, April 02, 2004
Musim semi datang
Seminggu sudah pergantian waktu dari winter ke sommer, yang biasanya selisih waktu Jerman dan Indonesia (wib) 6 jam sekarang jadi 5 jam. Sementara suhu sudah mulai panas, hari ini mencapai 17 derajat. Jam 8 malam pun matahari masih ada, waktu siang jadi panjang. Asyyiiikk..., hari ini kita main ke fruehjahrsmesse, tempat permainan anak2. Di waktu musim dingin paling asyik main salju dan kalau musim panas enak jalan2. Apa lagi Dzakiyyah, winter senang...sommer ceria. Lihat saja foto waktu sommer tahun kemaren, senyuuummm..!

Dienstag, März 30, 2004
Cerita di hari sabtu
Seperti yang dilaporkan sebelumnya (he..he..kayak wartawan aja yaa), padahal cuma ingin menjelaskan sambungan cerita sebelumnya tentang acara perpisahan dengan tante Niknik dan selamatan anaknya Pakcik Razwan, Zahra. Ternyata tidak hanya gule kambing serta menu menarik lainnya, nasi kuning pun hadir ditengah2 undangan. Sudah lama ngga makan nasi kuning, akhirnya makan juga. Tentunya ada fotonya...selamat menikmati!

Ini adalah keluarga Rosyadi (Ayahnya anak2 lagi ngambil foto, kelihatan ngga?), sedangkan bayi cantik itu adalah Zahra anaknya Pakcik Razwan.

Inilah wajah2 yang lagi hajatan, dari kiri ke kanan terus mutar lagi ke kanan (bingung....) istrinya Pakcik Razwan, Pak Razwan, Eceu Musni (yang bikin nasi kuning) dan tante Niknik.

Foto yang satu ini adalah salah seorang warga merangkap relawan yang sedang mensosialisasikan pemilu kepada undangan. Acaranya jadi komplit, kan? Tanpa di bayar dan tanpa disuruh, Pak Hendarko yang merupakan salah seorang aktivis partai dakwah ini yang juga merupakan Partai Kesayangan Saya, dengan serius menjelaskan cara mengisi surat suara melalui pos tentunya. Terima kasih Pak Hendarko!

Ini adalah keluarga Rosyadi (Ayahnya anak2 lagi ngambil foto, kelihatan ngga?), sedangkan bayi cantik itu adalah Zahra anaknya Pakcik Razwan.
Inilah wajah2 yang lagi hajatan, dari kiri ke kanan terus mutar lagi ke kanan (bingung....) istrinya Pakcik Razwan, Pak Razwan, Eceu Musni (yang bikin nasi kuning) dan tante Niknik.
Foto yang satu ini adalah salah seorang warga merangkap relawan yang sedang mensosialisasikan pemilu kepada undangan. Acaranya jadi komplit, kan? Tanpa di bayar dan tanpa disuruh, Pak Hendarko yang merupakan salah seorang aktivis partai dakwah ini yang juga merupakan Partai Kesayangan Saya, dengan serius menjelaskan cara mengisi surat suara melalui pos tentunya. Terima kasih Pak Hendarko!
Freitag, März 26, 2004
Guten apetit! vs Mangga di leut!
Setengah jam menjelang pergantian hari mata belum juga terpejam. Disamping masih berkutat dengan pekerjaan rumah yang harus selesai hari senen ini, juga sedang menungguin mamanya Dzakiyyah&Fathur masak gehu. Karena besok ada party perpisahan dengan tante Niknik yang akan pulang ke Indonesia (abschied party) dan juga sekalian akikahnya anaknya Pakcik Razwan, "budak Malaysia". Menurut gosip sementara, makanan besok salah satu menu utamanya kambing guling...ehm nyam..nyam. Acara ini tentu tidak akan diikuti oleh kampanye partai,..lho kok (ngga nyambung ceritanya he..he..). Maklum sedang hangat2nya kampanye di Indonesia, jadi latah.
Kulturschock, satu judul surat dari salah satu milis yang saya ikuti. Isinya sih menanyakan adat istiadat di Jerman, karena dia baru saja beberapa bulan nge-kost di Jerman. Nah, teringat Kulturschock ini dan juga disaat menghirup wanginya gehu yang belum digoreng saya teringat sedikit tips tentang kebiasaan orang Jerman bila sedang makan. Kebiasaan yang bagi saya tidak biasa ini sempat juga membuat schock pada awalnya.
Kalau kita duduk dikantin sesama rekan kerja atau mahasiswa, biasanya mereka tidak akan basa-basi seperti ala di Indonesia malahan terjadi sebaliknya. Kalau ada teman kita yang sedang makan, kita biasanya akan mengucapkan Guten apetit! atau selamat makan, Enjoy your meal! (bhs Inggris), bon appétit (bhs Prancis). Aneh kan? Padahal kalau di Indonesia justru yang makan yang nawarin. Biasanya kalau sudah duduk di kantin atau yang suka nangkring di kedai kopi dan tiba2 ada teman yang lewat, langsung kita panggil " Hai Jo makan yuuuk!" Dan juga kalau kita nawarin tamu teringat kalau di Sunda mah pake bahasa "Mangga di leut!", itu pun sampai berkali-kali.
Dulu saya pikir, kok sudah teman dekat (bule) ngga pernah basa-basi dikit pun. Akhirnya saya tahu, ya itu tadi...justru kita yang melihat orang makan bilang "Guten apetit!". Asyiik besok kita bakalan party...guten apetit!...guten apetit! Wah hampir lupa, ada foto gehu yang sudah digoreng, ada yang mau? Mangga di leut sadayana!!!

Kulturschock, satu judul surat dari salah satu milis yang saya ikuti. Isinya sih menanyakan adat istiadat di Jerman, karena dia baru saja beberapa bulan nge-kost di Jerman. Nah, teringat Kulturschock ini dan juga disaat menghirup wanginya gehu yang belum digoreng saya teringat sedikit tips tentang kebiasaan orang Jerman bila sedang makan. Kebiasaan yang bagi saya tidak biasa ini sempat juga membuat schock pada awalnya.
Kalau kita duduk dikantin sesama rekan kerja atau mahasiswa, biasanya mereka tidak akan basa-basi seperti ala di Indonesia malahan terjadi sebaliknya. Kalau ada teman kita yang sedang makan, kita biasanya akan mengucapkan Guten apetit! atau selamat makan, Enjoy your meal! (bhs Inggris), bon appétit (bhs Prancis). Aneh kan? Padahal kalau di Indonesia justru yang makan yang nawarin. Biasanya kalau sudah duduk di kantin atau yang suka nangkring di kedai kopi dan tiba2 ada teman yang lewat, langsung kita panggil " Hai Jo makan yuuuk!" Dan juga kalau kita nawarin tamu teringat kalau di Sunda mah pake bahasa "Mangga di leut!", itu pun sampai berkali-kali.
Dulu saya pikir, kok sudah teman dekat (bule) ngga pernah basa-basi dikit pun. Akhirnya saya tahu, ya itu tadi...justru kita yang melihat orang makan bilang "Guten apetit!". Asyiik besok kita bakalan party...guten apetit!...guten apetit! Wah hampir lupa, ada foto gehu yang sudah digoreng, ada yang mau? Mangga di leut sadayana!!!
Freitag, März 19, 2004
Mediamarkt
Minimal sekali sebulan Dzakiyyah dan Fathur diajak jalan-jalan ke Mediamarkt. Kalau udara cerah bisa tiap minggu main kesana. Mediamarkt ini adalah salah satu toko elektronik terbesar dan hampir selalu ada disetiap penjuru kota Jerman. Tentunya segala peralatan elektonik keluaran terbaru ada disini.

Dzakiyyah senang banget kalau sudah diajak main kesini, bisa nyobain laptop yang beraneka ragam modelnya atau game2 versi terbaru juga CD lagu. Kalau sudah capek coba-mencoba segala sesuatunya di kedua lantai supermaket ini, biasanya Dzakiyyah dan Fathur dengarin musik dulu sebelum pulang. Mendengarkan lagu anak2 kesukaan mereka.

Dzakiyyah senang banget kalau sudah diajak main kesini, bisa nyobain laptop yang beraneka ragam modelnya atau game2 versi terbaru juga CD lagu. Kalau sudah capek coba-mencoba segala sesuatunya di kedua lantai supermaket ini, biasanya Dzakiyyah dan Fathur dengarin musik dulu sebelum pulang. Mendengarkan lagu anak2 kesukaan mereka.
Donnerstag, März 18, 2004
Ayahanda dan Ibunda.....
Pagi ini sejam lebih awal bangun dari biasanya, langsung diikuti oleh istri serta si kecil Dzakiyyah dan Fathur. Setelah sholat subuh saya kembali menggolerkan badan ke peraduan, namun ngga bisa tidur kembali. Pikiran teringat pada Ayanda yang hari ini menurut keluarga akan operasi kelenjar prostat. Yang menurut sebagian orang ini hanya merupakan “operasi kecil”, namun perasaan dan pikiran tetap tertuju ke Ayahanda yang jauh disana. Terbayang juga wajah Ibunda yang selalu setia menemaninya, bersama abang serta adek-adek tercinta.
Kehadapan Ayahanda dan Ibunda..., begitulah saya selalu menuliskan panggilan kesayangan buat mereka tatkala mengirim surat dari dulu, sejak mulai memasuki dunia perantauan. Padahal kalau berjumpa sehari-hari panggilan beliau adalah Bapak dan Omak. Ayahanda dan Ibunda merupakan ungkapan rasa rindu yang mendalam dan digoreskan dalam lembaran surat. Dan biasanya surat akan diakhiri dengan kalimat “sembah sujud ananda”. Biasanya kalau saya pulang yang biasanya sekali setahun (lebaran) Ayahanda akan memperlihatkan surat-surat yang pernah saya tulis, mulai dari awal dan yang terakhir. Suatu penyimpanan yang rapi. Dan saya biasanya kembali membaca surat2 tersebut, sambil terkadang tersenyum sendiri melihat apa yang telah ditulis.
Nah, pagi ini Ayahanda mau dioperasi. Ingin rasanya saya berada ditengah-tengah mereka. Menemani, menghibur, memeluk serta menyenangkan hati Ibunda yang sangat “kalut” pada saat seperti ini. Kalau Ayahanda, saya tahu betul dia akan tegar menghadapinya. Paling dia akan memanggil, “Iron! tolong dipijatin kaki Bapak yaa!”. Begitu biasanya Bapak memanggil saya, Iron dan bukan Imron, mungkin biar simple. Sekarang saya tidak bisa menemani dan tak bisa memijatin kaki Ayahanda yang pasti pegal setelah menjalani operasi.
Setengah jam berlalu, akhirnya saya telpon ke HP Irwan, salah seorang adek saya. Ternyata Allah mengabulkan doa kami, operasi alhamdulillah berjalan lancar. HP pun diberikan kepada Ayahanda yang suaranya sedikit tertahan, mungkin karena capek atau lemas setelah dibius. Waktu saya telpon, operasi baru saja selesai dan Ayahanda belum dibawa ke kamar di rumah sakit. Hanya sempat beberapa saat berbicara dengan Ayahanda, juga Ibunda yang kedengaran suaranya sedikit serak, dikarenakan mereka harus bergegas mengikuti perawat yang membawa Bapak menuju ke kamar.
Doa tulus kami; Ya Allah, semoga Ayahanda kami cepat sembuh dan kembali pulang ke rumah. Semoga Ibunda selalu tabah dan tegar menghadapi semua cobaan ini.
Sembah sujud Ananda & Cucunda
Braunschweig-Jerman
Kehadapan Ayahanda dan Ibunda..., begitulah saya selalu menuliskan panggilan kesayangan buat mereka tatkala mengirim surat dari dulu, sejak mulai memasuki dunia perantauan. Padahal kalau berjumpa sehari-hari panggilan beliau adalah Bapak dan Omak. Ayahanda dan Ibunda merupakan ungkapan rasa rindu yang mendalam dan digoreskan dalam lembaran surat. Dan biasanya surat akan diakhiri dengan kalimat “sembah sujud ananda”. Biasanya kalau saya pulang yang biasanya sekali setahun (lebaran) Ayahanda akan memperlihatkan surat-surat yang pernah saya tulis, mulai dari awal dan yang terakhir. Suatu penyimpanan yang rapi. Dan saya biasanya kembali membaca surat2 tersebut, sambil terkadang tersenyum sendiri melihat apa yang telah ditulis.
Nah, pagi ini Ayahanda mau dioperasi. Ingin rasanya saya berada ditengah-tengah mereka. Menemani, menghibur, memeluk serta menyenangkan hati Ibunda yang sangat “kalut” pada saat seperti ini. Kalau Ayahanda, saya tahu betul dia akan tegar menghadapinya. Paling dia akan memanggil, “Iron! tolong dipijatin kaki Bapak yaa!”. Begitu biasanya Bapak memanggil saya, Iron dan bukan Imron, mungkin biar simple. Sekarang saya tidak bisa menemani dan tak bisa memijatin kaki Ayahanda yang pasti pegal setelah menjalani operasi.
Setengah jam berlalu, akhirnya saya telpon ke HP Irwan, salah seorang adek saya. Ternyata Allah mengabulkan doa kami, operasi alhamdulillah berjalan lancar. HP pun diberikan kepada Ayahanda yang suaranya sedikit tertahan, mungkin karena capek atau lemas setelah dibius. Waktu saya telpon, operasi baru saja selesai dan Ayahanda belum dibawa ke kamar di rumah sakit. Hanya sempat beberapa saat berbicara dengan Ayahanda, juga Ibunda yang kedengaran suaranya sedikit serak, dikarenakan mereka harus bergegas mengikuti perawat yang membawa Bapak menuju ke kamar.
Doa tulus kami; Ya Allah, semoga Ayahanda kami cepat sembuh dan kembali pulang ke rumah. Semoga Ibunda selalu tabah dan tegar menghadapi semua cobaan ini.
Sembah sujud Ananda & Cucunda
Braunschweig-Jerman
Mittwoch, März 17, 2004
"Molorlah" berjanji dan "ingkari"
Berjanji ini adalah pekerjaan gampang2 susah, dibilang gampang sebab bisa dalam hitungan detik terucap dan bila dibilang susah bisa ngacak2 buka agenda untuk mengatakannya. Susah juga saya membuat judul untuk tema janji ini, akhirnya keluar judul diatas.
Sering saya berjanji dengan kolega disini dan hampir tidak ada mereka telat atau mengingkarinya, baik itu janji untuk diskusi atau pun hanya sekedar bertanya sesuatu. Pernah saya (berkali2 malah) mendatangi teknisi komputer disebelah ruangan kerja saya dan menanyakan sesuatu. Ok, katanya besok pagi akan saya jawab. Mungkin kalau kita baru pertama kenal dengan sifat orang Jerman akan kaget. Kok nanya gitu saja sampai besok pagi. Dengan melapangkan dada saya masuk ruangan. Dan ternyata 15 minute kemudian dia menjelaskan apa yang saya tanyakan, ngga perlu sampi besok pagi rupanya. Ada juga kasus yang lain, dimana saya menanyakan harga laptop pada waktu itu dengen merek Satellite 1900-102 (online price) kepada salah seorang teman. Ok, ntar besok saya kasih tahu, katanya. Penyelesaiannya kurang lebih sama, sekitar 20 minute kemudian dia masuk keruangan saya lengkap dengan hasil print-out apa yang saya minta. Lain pula kalau berjanji dengan pemerintahan, sebagai contoh immigration office, sering saya alami. Sebulan yang lalu saya mengurus sebuah document. Dan setelah konsultasi, mereka bilang akan kita kirimkan ke alamat anda dalam jangka waktu 6 minggu. Pernyataan ini juga tertera dalam kertas pengumuman. Hanya berselang waktu 3 minggu surat yang saya minta tersebut sudah sampai ke tangan.
Kasus ini hampir saya temukan selalu, sehingga dalam pikiran saya berjanji itu lebih baik "dimolorkan". Dalam artian pikirkan keadaan yang paling lambat dari kemampuan kita. Hal ini juga akan mengurangi stress kita, jika kita yang telah berjanji padahal itu diluar kemampuan. Btw, "ingkari janji" tersebut dalam artian positif, yakni kerjakan atau selesaikan dalam waktu yang sesingkat2nya. Nah, dari sisi lain kita juga telah memberikan kejutan kepada orang lain dengan waktu yang lebih awal kita selesaikan. Sempat pula minum kopi dahulu..he..he..
Lain lubuk lain pula ikannya (ini sih pepatah). Kebanyakan kita (mungkin juga saya) biasanya berjanji ala calo. Besok bapak bias ambil dech!! Pas besoknya, kita bilang, wah sorry deh pak, habis yang menandatangai surat ini ngga datang lagi cuti. Coba ntar sore datang lagi. Atau ada nomor HP bapak yang bisa saya hubungi? Nanti kalau sudah selesai saya HP bapak. Ternyata dia nelpon seminggu kemudian. Wah jadi berabe kalo berjanji kayak ginian!!!
Sering saya berjanji dengan kolega disini dan hampir tidak ada mereka telat atau mengingkarinya, baik itu janji untuk diskusi atau pun hanya sekedar bertanya sesuatu. Pernah saya (berkali2 malah) mendatangi teknisi komputer disebelah ruangan kerja saya dan menanyakan sesuatu. Ok, katanya besok pagi akan saya jawab. Mungkin kalau kita baru pertama kenal dengan sifat orang Jerman akan kaget. Kok nanya gitu saja sampai besok pagi. Dengan melapangkan dada saya masuk ruangan. Dan ternyata 15 minute kemudian dia menjelaskan apa yang saya tanyakan, ngga perlu sampi besok pagi rupanya. Ada juga kasus yang lain, dimana saya menanyakan harga laptop pada waktu itu dengen merek Satellite 1900-102 (online price) kepada salah seorang teman. Ok, ntar besok saya kasih tahu, katanya. Penyelesaiannya kurang lebih sama, sekitar 20 minute kemudian dia masuk keruangan saya lengkap dengan hasil print-out apa yang saya minta. Lain pula kalau berjanji dengan pemerintahan, sebagai contoh immigration office, sering saya alami. Sebulan yang lalu saya mengurus sebuah document. Dan setelah konsultasi, mereka bilang akan kita kirimkan ke alamat anda dalam jangka waktu 6 minggu. Pernyataan ini juga tertera dalam kertas pengumuman. Hanya berselang waktu 3 minggu surat yang saya minta tersebut sudah sampai ke tangan.
Kasus ini hampir saya temukan selalu, sehingga dalam pikiran saya berjanji itu lebih baik "dimolorkan". Dalam artian pikirkan keadaan yang paling lambat dari kemampuan kita. Hal ini juga akan mengurangi stress kita, jika kita yang telah berjanji padahal itu diluar kemampuan. Btw, "ingkari janji" tersebut dalam artian positif, yakni kerjakan atau selesaikan dalam waktu yang sesingkat2nya. Nah, dari sisi lain kita juga telah memberikan kejutan kepada orang lain dengan waktu yang lebih awal kita selesaikan. Sempat pula minum kopi dahulu..he..he..
Lain lubuk lain pula ikannya (ini sih pepatah). Kebanyakan kita (mungkin juga saya) biasanya berjanji ala calo. Besok bapak bias ambil dech!! Pas besoknya, kita bilang, wah sorry deh pak, habis yang menandatangai surat ini ngga datang lagi cuti. Coba ntar sore datang lagi. Atau ada nomor HP bapak yang bisa saya hubungi? Nanti kalau sudah selesai saya HP bapak. Ternyata dia nelpon seminggu kemudian. Wah jadi berabe kalo berjanji kayak ginian!!!
Montag, März 15, 2004
Beranda rumah kita
Banyak yang membedakan antara hidup di Indonesia tanah kelahiran dengan tinggal diluar negeri, seperti Jerman yang saya alami. Dari sekian banyak perbedaan, beranda menjadi tofik menarik untuk dibahas pada kesempatan ini. Ada apa dengan beranda?
Pengertian beranda itu kurang lebih adalah pelataran depan rumah yang berfungsi sebagai awal masuknya ke sebuah rumah sebelum pintu. Jadi kalau kita akan memasuki rumah seseorang terlebih dahulu akan melalui pagar (jika dipagar)--halaman--beranda--pintu--ruang tamu dst. Itu kondisi umum yang kita temui dalam konteks pe-rumah-an di Indonesia.
Konsidi ini tidak saya temui saat pertama kali menginjakkan kaki di Jerman ini. Rumah orang kebanyakan adalah appartment yang tentunya takkan pernah ada dilengkapi dengan beranda, apa lagi pagar dan halaman. Milik kita hanya mulai dari pintu dst. Terkadang rindu akan keberadaan beranda rumah ini menginggatkan keluarga dirumah. Karena biasanya setiap sore, beranda menjadi ajang dan tempat bercengkrama sesama anggota keluarga dan juga tetangga, bahkan tamu sekalipun. Makanya tatkala saya mengenal Beranda rumah kita pertama kali di dunia maya, dengan headernya lengkap dengan gambar beranda yang sesungguhnya, jadi betah bertandang kesana. Suasana keakrapan sudah terasa saat klik menuju kesana, montreal Canada tempatnya. Banyak yang dapat kita temui dan baca disana dan dilengkapi lagi dengan kehadiran BloggerFamily yang merupakan ajang diskusi mengenai berbagai topik, iya itu dunia per-blog-an, dunia anak2, dunia masak-memasak, tempat jualan bahkan ada juga tempat untuk sekedar curhat. Lengkaplah sudah, sekarang blogger family menurut laporan Maknyak sudah berumur 4 bulan.
Nah, rasa rindu akan keberadaan beranda ini sedikit banyak akan terobati dengan kehadiran BerandaRumahKita dan BloggerFamily ini. Walau itu hanya didunia maya, selamat Maknyak dan kru BloggerFamily...!
Pengertian beranda itu kurang lebih adalah pelataran depan rumah yang berfungsi sebagai awal masuknya ke sebuah rumah sebelum pintu. Jadi kalau kita akan memasuki rumah seseorang terlebih dahulu akan melalui pagar (jika dipagar)--halaman--beranda--pintu--ruang tamu dst. Itu kondisi umum yang kita temui dalam konteks pe-rumah-an di Indonesia.
Konsidi ini tidak saya temui saat pertama kali menginjakkan kaki di Jerman ini. Rumah orang kebanyakan adalah appartment yang tentunya takkan pernah ada dilengkapi dengan beranda, apa lagi pagar dan halaman. Milik kita hanya mulai dari pintu dst. Terkadang rindu akan keberadaan beranda rumah ini menginggatkan keluarga dirumah. Karena biasanya setiap sore, beranda menjadi ajang dan tempat bercengkrama sesama anggota keluarga dan juga tetangga, bahkan tamu sekalipun. Makanya tatkala saya mengenal Beranda rumah kita pertama kali di dunia maya, dengan headernya lengkap dengan gambar beranda yang sesungguhnya, jadi betah bertandang kesana. Suasana keakrapan sudah terasa saat klik menuju kesana, montreal Canada tempatnya. Banyak yang dapat kita temui dan baca disana dan dilengkapi lagi dengan kehadiran BloggerFamily yang merupakan ajang diskusi mengenai berbagai topik, iya itu dunia per-blog-an, dunia anak2, dunia masak-memasak, tempat jualan bahkan ada juga tempat untuk sekedar curhat. Lengkaplah sudah, sekarang blogger family menurut laporan Maknyak sudah berumur 4 bulan.
Nah, rasa rindu akan keberadaan beranda ini sedikit banyak akan terobati dengan kehadiran BerandaRumahKita dan BloggerFamily ini. Walau itu hanya didunia maya, selamat Maknyak dan kru BloggerFamily...!
500 rupiah
Tiga hari yang lalu teman saya diledekin sama koleganya. Laptop dia diinstall-in program adobe oleh temannya tersebut. Pas sudah selesai diinstall, teman saya bilang "danke sehr". Koleganya bilang "Yaa, aber du must bezahlen"; Kamu harus bayar 500 rupiah, karena program ini saya beli 500 euro. Teman saya ngakak mendengar 500 rupiah, "benar nih...saya langsung bayar kontan", katanya. Mungkin kolega teman saya tadi ngga tahu berapa harganya 500 rupiah, padahal kan hanya seharga 5 cent euro. Alamak...!!!
Freitag, März 12, 2004
Ueberweisung
Hari yang cukup cerah, suhu sekitar 7 derajat, tak ada hujan dan tak ada salju. Biasanya cuaca begini menandakan akan berakhirnya musim dingin dan menjelang musim sommer yang sebelumnya akan dihiasi dengan musim semi yang indah dengan bunga2nya dimana2. Dari beberapa aktivitas hari ini, ada satu yang menarik untuk ditulis diblogger ini, yakni ueberweisung.
Kemaren sore saya dapat paket dari teman saya (senior) yang barusan telah menjadi doktor baru dibidang pertanian juga, khususnya budidaya pertanian. Dia memperoleh gelar doktor (Dr. sc.agr.) dengan mempertahankan disertasinya dengan judul "Cultivation status and genetic diversity of yam been (Pachyrhizus erosus (L.) Urban) in Indonesia", bahasa kerennya yaa..sekitar per-bengkuang-an di Indonesia. Ujiannya dilaksanakan Februar 2004 di Uni goettingen tepatnya Fakultaet fuer Agrarwissenschaften. Ok deh, selamat sekali lagi buat Kang Agung Karuniawan dengan titel barunya ini, semoga makin memajukan dunia perbengkuangan kita.
Alih cerita, saya hari ini mau bantuin legalisir ijazah yang dipaketkannya itu di Regierung atau dipemerintahan yang kebetulan adanya dikota saya. Nah, pagi sekitar jam 09.30 saya menuju gedung pemerintah yang telah ditulis alamatnya dengan jelas, dan sebelumnya saya lihat dulu di internet lokasinya sebelah mana, eh..ternyata pas didepan citibank. Gedung tua, tinggi dan terletak dipersimpangan jalan utama kota. Kalau ngga salah Dzakiyyah dan Fathur sudah pernah berfoto ria disebelah gedung ini. Saya sampai keliling mencari pintu utamanya karena pintunya ada setiap sudut dan besar2 banget pintunya. Setelah mutar satu keliling, dengan yakin bin yakin masuklah ke salah satu pintu besar. Melangkah kedalam juga ngga ada seorangpun orang yang kelihatan, dalam hati saya pikir ini kantor atau gedung doang.
Terbayang kalau di Indonesia, kalau ada kantor pemerintahan dan apa lagi tempat urusan surat menyurat, sejak dari halte sudah ada yang menyapa ramah dan tersenyum "pagi pak!", "ada urusan apa pak", "bisa saya bantu", ramah dan ramah. Cuma jangan salah, bisa2 itu calo yang menawarkan jasa. Nah balik ke cerita diatas, setelah ngga ketemu satu orang pun pegawai, saya ketok saja salah satu pintu "guten tag!", saya masuk sedikit dan menjelaskan mau ketemu frau yang ngurus legalisir ijazah. Dengan sopan pegawai yang tadinya sibuk telpon2an mencari data frau tersebut dikomputer dan setelah itu langsung menuliskan ruangan bagian urusan itu, wow serba online. Dia menunjukkan kurang lebih dimana letak ruangan tersebut, dilantai 3. Setelah ketemu ruangannya, wah ada tulisan harus ke ruangan sebelahnya. Berjalan menuju ruangan sebelah, ketok dan masuk. Ketemulah saya dengan pegawai pemerintahan yang berdasi rapi plus dasi sedang duduk didepan komputer, dan sebelah kanannya ada kopi masih panas, ngebul. Kebayang gimana enaknya minum kopi itu, dasar lagi haus kali yee.
Saya utarakan maksud kedatangan, walau dia kelihatannya sudah tahu. Menit2 dia bekerja, saya perhatikan ruangan kerjanya, persi sama saja dengan dikita. Ada file, komputer, telepon, alat tulis dan tentunya lembaran kertas diatas meja. Nah setelah urusan hampir selesai, saya mengeluarkan uang untuk pembayaran legalisir ijazah tersebut. Karena menurut informasi dari teman saya harus bayar 15 euro perlembar, jadi totalnya 30 euro untuk 2 lembar. Dengan sopan dia menjelaskan bahwa pembayarannya ueberweisung atau tranfer lewat bank. Sambil dia memberikan lembaran tranfer dengan nomor konto dan nomor lainnya yang ditujukan konto pemerintah.
Jadi teringat tema diskusi disalah satu milis, bahwa cara tranfer atau tidak menggunakan uang kontan dalam transaksi apa lagi dilingkungan pemerintahan akan bisa menghindari praktek korupsi. Percaya atau tidak, cuma saya sangat percaya. Itulah salah satu contoh yang menarik di Jerman ini, jarang urusan dibayar dengan uang kontan (kecuali taksi kali yee).
Disamping bisa menghindari penyalahgunaan uang, cara ini juga mengurangi pekerjaan kita. Coba bayangkan, kalau selesai kerja ..masak kita harus menghitung kembali uangnya cukup apa ngga? Terus uangnya mau ditarok dimana? Toh itukan bulan uang pribadi. Enakkan cara tranfer ini!!! Nah satunya lagi, berkas yang dilegalisir sudah bisa langsung dibawa pulang tanpa harus menunjukkan bukti pembayaran. Malahan disurat keterangan yang dia berikan, bisa dibayar sampai tenggang waktu 30 hari. Tanpa menghiraukan tenggang waktu yang ada, dengan bergegas saya langsung pergi ke bank dan langsung tranfer, biar semuanya bereeeeeessss!!!
Kemaren sore saya dapat paket dari teman saya (senior) yang barusan telah menjadi doktor baru dibidang pertanian juga, khususnya budidaya pertanian. Dia memperoleh gelar doktor (Dr. sc.agr.) dengan mempertahankan disertasinya dengan judul "Cultivation status and genetic diversity of yam been (Pachyrhizus erosus (L.) Urban) in Indonesia", bahasa kerennya yaa..sekitar per-bengkuang-an di Indonesia. Ujiannya dilaksanakan Februar 2004 di Uni goettingen tepatnya Fakultaet fuer Agrarwissenschaften. Ok deh, selamat sekali lagi buat Kang Agung Karuniawan dengan titel barunya ini, semoga makin memajukan dunia perbengkuangan kita.
Alih cerita, saya hari ini mau bantuin legalisir ijazah yang dipaketkannya itu di Regierung atau dipemerintahan yang kebetulan adanya dikota saya. Nah, pagi sekitar jam 09.30 saya menuju gedung pemerintah yang telah ditulis alamatnya dengan jelas, dan sebelumnya saya lihat dulu di internet lokasinya sebelah mana, eh..ternyata pas didepan citibank. Gedung tua, tinggi dan terletak dipersimpangan jalan utama kota. Kalau ngga salah Dzakiyyah dan Fathur sudah pernah berfoto ria disebelah gedung ini. Saya sampai keliling mencari pintu utamanya karena pintunya ada setiap sudut dan besar2 banget pintunya. Setelah mutar satu keliling, dengan yakin bin yakin masuklah ke salah satu pintu besar. Melangkah kedalam juga ngga ada seorangpun orang yang kelihatan, dalam hati saya pikir ini kantor atau gedung doang.
Terbayang kalau di Indonesia, kalau ada kantor pemerintahan dan apa lagi tempat urusan surat menyurat, sejak dari halte sudah ada yang menyapa ramah dan tersenyum "pagi pak!", "ada urusan apa pak", "bisa saya bantu", ramah dan ramah. Cuma jangan salah, bisa2 itu calo yang menawarkan jasa. Nah balik ke cerita diatas, setelah ngga ketemu satu orang pun pegawai, saya ketok saja salah satu pintu "guten tag!", saya masuk sedikit dan menjelaskan mau ketemu frau yang ngurus legalisir ijazah. Dengan sopan pegawai yang tadinya sibuk telpon2an mencari data frau tersebut dikomputer dan setelah itu langsung menuliskan ruangan bagian urusan itu, wow serba online. Dia menunjukkan kurang lebih dimana letak ruangan tersebut, dilantai 3. Setelah ketemu ruangannya, wah ada tulisan harus ke ruangan sebelahnya. Berjalan menuju ruangan sebelah, ketok dan masuk. Ketemulah saya dengan pegawai pemerintahan yang berdasi rapi plus dasi sedang duduk didepan komputer, dan sebelah kanannya ada kopi masih panas, ngebul. Kebayang gimana enaknya minum kopi itu, dasar lagi haus kali yee.
Saya utarakan maksud kedatangan, walau dia kelihatannya sudah tahu. Menit2 dia bekerja, saya perhatikan ruangan kerjanya, persi sama saja dengan dikita. Ada file, komputer, telepon, alat tulis dan tentunya lembaran kertas diatas meja. Nah setelah urusan hampir selesai, saya mengeluarkan uang untuk pembayaran legalisir ijazah tersebut. Karena menurut informasi dari teman saya harus bayar 15 euro perlembar, jadi totalnya 30 euro untuk 2 lembar. Dengan sopan dia menjelaskan bahwa pembayarannya ueberweisung atau tranfer lewat bank. Sambil dia memberikan lembaran tranfer dengan nomor konto dan nomor lainnya yang ditujukan konto pemerintah.
Jadi teringat tema diskusi disalah satu milis, bahwa cara tranfer atau tidak menggunakan uang kontan dalam transaksi apa lagi dilingkungan pemerintahan akan bisa menghindari praktek korupsi. Percaya atau tidak, cuma saya sangat percaya. Itulah salah satu contoh yang menarik di Jerman ini, jarang urusan dibayar dengan uang kontan (kecuali taksi kali yee).
Disamping bisa menghindari penyalahgunaan uang, cara ini juga mengurangi pekerjaan kita. Coba bayangkan, kalau selesai kerja ..masak kita harus menghitung kembali uangnya cukup apa ngga? Terus uangnya mau ditarok dimana? Toh itukan bulan uang pribadi. Enakkan cara tranfer ini!!! Nah satunya lagi, berkas yang dilegalisir sudah bisa langsung dibawa pulang tanpa harus menunjukkan bukti pembayaran. Malahan disurat keterangan yang dia berikan, bisa dibayar sampai tenggang waktu 30 hari. Tanpa menghiraukan tenggang waktu yang ada, dengan bergegas saya langsung pergi ke bank dan langsung tranfer, biar semuanya bereeeeeessss!!!
Mittwoch, März 10, 2004
Achtung! Kunci jangan ketinggalan
Minggu kemaren dan minggu ini benar2 lembur dan juga minggu depan, datang jam 7 pagi pulang jam 8 malam. Kaki jadi kepala eh kepala jadi kaki (gaya bahasanya hyperbola), biasa lah ngejar target alias borongan (emangnya project). Ngelihat blog pun harus diiwakilkan sama ibunya anak2, dan terpaksa baru sekarang bisa ngeblog. Cuma kalo jawab shoutbox masih disempatkan dijawab kalau sudah selesai makan malam, di rumah tentunya. Oh yaa, kalo ngomong2 masalah kaki dan kepala, jadi teringat waktu kecil. Dulu saya, Bapak, adek dan abang (kayak iklan toyota kijang aja..) pergi sekolah dengan jalan kaki, biasanya sih pergi pakai vespa. Nah, ada seseorang yang nanya sama Bapak," Pak guru, kok jalan kaki sih", katanya. Dengan sigap bapak menjawab "ya kan ngga bisa jalan kepala". Orang yang nanya tersebut cengar-cengir saja.
Sebenarnya banyak sih ide yang ngocor untuk dituliskan diblog ini, cuma ya itu tadi cibuuuuk. Sebagai oleh2, saya hanya cerita yang ringan2 saja tapi bukan pula tentang kerupuk. Ada pepatah tetua yang mengatakan: terhimpit mau diatas dan terkurung mau diluar, ngga tahu deh artinya apa. Kata sih mengambarkan orang "cerdik". Nah yang namanya terkurung ya ngga ada yang enak kan? Diluar kek..di dalam kek semuanya kekkek.
Pintu rumah atau appartment di Jerman yang saya temui termasuk aneh dan belum pernah saya temui sebelumnya, atau bisa saja saya memang baru tahu. Sistem perkuncian alias perpintuan ini, kalau pintu ditutup otomatis ngga bisa lagi dibuka dari luar (terkunci), jadi musti dibuka dengan kunci. Kalo dari dalam tentu bisa dooong dibuka. Nah apa yang terjadi kalau kita keluar lalu tutup pintu..., terus kunci lupa dibawa? Kalo disini bisa berabe, alias terkurung diluar tadi. Makanya sewaktu kita baru nyampe di Jerman didepan pintu dituliskan Achtung! Kunci jangan ketinggalan. Kalau di Indo si gampang, bisa panjat dinding, bisa lewat jendela atau jurus terakhir dobrak. Itu pun jarang terjadi karena pintu tidak otomatis terkunci. Ada pengalaman tetangga yang terkurung diluar ini. Dua cerita ini adalah keluarga yang baru nyampe dari Indo dan belum tahu dengan perkuncian ini. Pertama sih ngga terlalu berabe, karena pintu terkunci dan ngga bisa masuk, nah kebetulan ada tetangga orang Indo juga dan kunci doublenya dibawah sama saudaranya. Otomatis tinggal nunggu saja, walaupun beberapa jam. Nah cerita yang kedua, sedikit panic dech! Pintu terkunci, dan anak ketinggalan didalam. Satu jam kemudian baru bisa dibuka karena menunggu salah seorang anggota keluarga pulang dari kerja. Nah, oleh sebab itu hati2 kunci jangan sampai ketinggalan........!!! Kalau perlu gantung dileher, cuma trendy kok gantung dileher...
Sebenarnya banyak sih ide yang ngocor untuk dituliskan diblog ini, cuma ya itu tadi cibuuuuk. Sebagai oleh2, saya hanya cerita yang ringan2 saja tapi bukan pula tentang kerupuk. Ada pepatah tetua yang mengatakan: terhimpit mau diatas dan terkurung mau diluar, ngga tahu deh artinya apa. Kata sih mengambarkan orang "cerdik". Nah yang namanya terkurung ya ngga ada yang enak kan? Diluar kek..di dalam kek semuanya kekkek.
Pintu rumah atau appartment di Jerman yang saya temui termasuk aneh dan belum pernah saya temui sebelumnya, atau bisa saja saya memang baru tahu. Sistem perkuncian alias perpintuan ini, kalau pintu ditutup otomatis ngga bisa lagi dibuka dari luar (terkunci), jadi musti dibuka dengan kunci. Kalo dari dalam tentu bisa dooong dibuka. Nah apa yang terjadi kalau kita keluar lalu tutup pintu..., terus kunci lupa dibawa? Kalo disini bisa berabe, alias terkurung diluar tadi. Makanya sewaktu kita baru nyampe di Jerman didepan pintu dituliskan Achtung! Kunci jangan ketinggalan. Kalau di Indo si gampang, bisa panjat dinding, bisa lewat jendela atau jurus terakhir dobrak. Itu pun jarang terjadi karena pintu tidak otomatis terkunci. Ada pengalaman tetangga yang terkurung diluar ini. Dua cerita ini adalah keluarga yang baru nyampe dari Indo dan belum tahu dengan perkuncian ini. Pertama sih ngga terlalu berabe, karena pintu terkunci dan ngga bisa masuk, nah kebetulan ada tetangga orang Indo juga dan kunci doublenya dibawah sama saudaranya. Otomatis tinggal nunggu saja, walaupun beberapa jam. Nah cerita yang kedua, sedikit panic dech! Pintu terkunci, dan anak ketinggalan didalam. Satu jam kemudian baru bisa dibuka karena menunggu salah seorang anggota keluarga pulang dari kerja. Nah, oleh sebab itu hati2 kunci jangan sampai ketinggalan........!!! Kalau perlu gantung dileher, cuma trendy kok gantung dileher...
Dienstag, März 02, 2004
Wissenschaftliche Beirat
Pernah baca dongeng bahasa Jerman? Hampir semua dongeng didahului dengan kalimat; Es war einmal.......dst, ini sama juga dengan dongeng dalam bahasa Indonesia yang selalu diantarkan dengan kalimat; Konon khabarnya disebuah desa....dst. But, sekarang saya memulai tulisan ini bukan dengan es war einmal, berarti bukan dongeng kan? (bisa aja yaa..!?). Pengalaman ini adalah sambungan dua cerita sebelumnya mengenai ketok meja. Nah, sore sekitar pukul 17.30 sore kembali menuju Institute setelah menghadiri acara disputation. Sekitar 20 minute dengan bus nomor 433, cuaca diluar dingin karena salju masih turun. Kalau bukan karena salah seorang professor saya nelpon untuk datang dalam acara dinner, mungkin saya ngga kan datang. Tapi berhubung dia telpon, yaa ngga enakkan ngga datang. Padahal biasanya pulang dari institut jam seginian, atau paling telat jam 19.00. Nah kalau acara dinner dimulai jam 18.30-selesai?? (ngga tahu kan). Ok lah.....tancap saja datang!!. Sesampainya diinstitut, Flur atau hall yang tadinya leer/kosong ternyata sudah disulap menjadi "restaurant kilat". Sambil lewat menuju ruangan kerja saya lihat banyak banget makanan (dasar mata kali yeee). Melihat persiapan ini, kayaknya bukan sembarangan acara dinner malam ini. Terus saya baca lagi undangan via imel dengan subjek Wissenschaftliche Beirat, apa yaaa? Penasaran juga ..benar2 penasaran....!!
Tepat jam 18.30 saya perlahan menuju "restaurant kilat", dan ternyata sudah banyak tetamu yang datang, dan hampir separohnya wajah baru yang belum pernah saya lihat batang hidungnya. Cuma lihat dari gayanya...ehmm ini gaya2 tukang seminar atau professor. Sudah menjadi adat istiadat setiap acara, pertamanya adalah begruessung atau kata sambutan (address of welcome). Malam ini seorang yang kelihatannya lebih muda dari yang lainnya dan berpenampilan necis membuka kata perkenalan; wer, woher, warum, wie dll...(standar aja kan?). Dan selanjutnya dia memperkenalkan belasan anggota rombongan lainnya satu persatu sambil mereka yang disebut namanya berdiri, dan tak lupa bidang keahlian masing2. Begruessung dari tamu selesai, serentak meja diketuk..tok..tok..tok...(nah tradisi ketok meja lagi kan?) sebagai apresiasi buat pembuka acara tadi. Dan selanjutnya Leiter/chief institut saya memberikan kata sambutan sebagai balasan dari tamu tadi. Dia juga menjelaskan "sangat jelas" semua nama kita (sekitar 20 orang), dari mana, bidang penelitian apa. Tentunya saya juga berdiri saat nama Imron Rosyadi diperkenalkan, sama dengan saat nama lain disebutkan..mata memandang kepada saya jadi grogi juga, cuma ngga sampai pingsan kok...he..he..
Ternyata rombongan itu adalah Wissenschaftliche Beirat dari kementrian pertanian Jerman BMVEL yang sedang mengadakan kunjungan kerja selama dua hari di FAL. Mereka mendiskusikan atau mencari masukan mengenai sektor pertanian aktuel dengan professor2 dilingkungan FAL. Belasan wajah2 tersebut adalah professor pilihan semua bidang pertanian terkait dari universitas terkemuka di seluruh Jerman, dimana mereka itu adalah advisory committee untuk menteri pertanian. Alamak..., kaget juga saya. Alhamdulillilah saya datang, minimal bisa ketemu pejabat dan juga professor yang menurut pandangan saya berpenampilan sederhana dan dengan santai mereka juga bisa berbincang2 dengan yang bukan professor, saya sebagai contoh. Kebetulan yang duduk disamping saya adalah ahli dibidang marine toxicology, dia bercerita tentang minyak kelapa sawit dari Indonesia dan Malaysia yang sedang didiskusikan tentang efek pencemarannya, karena dibawa pakai tangker. Katanya sih mau ada pajaknya juga kayak minyak mentah und bla..bla...(sensor). Point lainnya yang saya lihat adalah mereka aktif mendatangi institusi terkait/lembaga penelitian untuk menggali hal2 yang baru. Dan profesional. Wah saya ngga bakalan bisa dinner dan bincang2 dengan "penasehat mentri" kalo di Indonesia. Why???
Tepat jam 18.30 saya perlahan menuju "restaurant kilat", dan ternyata sudah banyak tetamu yang datang, dan hampir separohnya wajah baru yang belum pernah saya lihat batang hidungnya. Cuma lihat dari gayanya...ehmm ini gaya2 tukang seminar atau professor. Sudah menjadi adat istiadat setiap acara, pertamanya adalah begruessung atau kata sambutan (address of welcome). Malam ini seorang yang kelihatannya lebih muda dari yang lainnya dan berpenampilan necis membuka kata perkenalan; wer, woher, warum, wie dll...(standar aja kan?). Dan selanjutnya dia memperkenalkan belasan anggota rombongan lainnya satu persatu sambil mereka yang disebut namanya berdiri, dan tak lupa bidang keahlian masing2. Begruessung dari tamu selesai, serentak meja diketuk..tok..tok..tok...(nah tradisi ketok meja lagi kan?) sebagai apresiasi buat pembuka acara tadi. Dan selanjutnya Leiter/chief institut saya memberikan kata sambutan sebagai balasan dari tamu tadi. Dia juga menjelaskan "sangat jelas" semua nama kita (sekitar 20 orang), dari mana, bidang penelitian apa. Tentunya saya juga berdiri saat nama Imron Rosyadi diperkenalkan, sama dengan saat nama lain disebutkan..mata memandang kepada saya jadi grogi juga, cuma ngga sampai pingsan kok...he..he..
Ternyata rombongan itu adalah Wissenschaftliche Beirat dari kementrian pertanian Jerman BMVEL yang sedang mengadakan kunjungan kerja selama dua hari di FAL. Mereka mendiskusikan atau mencari masukan mengenai sektor pertanian aktuel dengan professor2 dilingkungan FAL. Belasan wajah2 tersebut adalah professor pilihan semua bidang pertanian terkait dari universitas terkemuka di seluruh Jerman, dimana mereka itu adalah advisory committee untuk menteri pertanian. Alamak..., kaget juga saya. Alhamdulillilah saya datang, minimal bisa ketemu pejabat dan juga professor yang menurut pandangan saya berpenampilan sederhana dan dengan santai mereka juga bisa berbincang2 dengan yang bukan professor, saya sebagai contoh. Kebetulan yang duduk disamping saya adalah ahli dibidang marine toxicology, dia bercerita tentang minyak kelapa sawit dari Indonesia dan Malaysia yang sedang didiskusikan tentang efek pencemarannya, karena dibawa pakai tangker. Katanya sih mau ada pajaknya juga kayak minyak mentah und bla..bla...(sensor). Point lainnya yang saya lihat adalah mereka aktif mendatangi institusi terkait/lembaga penelitian untuk menggali hal2 yang baru. Dan profesional. Wah saya ngga bakalan bisa dinner dan bincang2 dengan "penasehat mentri" kalo di Indonesia. Why???
Freitag, Februar 27, 2004
Sambungan tiga kali ketok meja
Cerita ini adalah sambungan dari cerita dua hari yang lalu dengan tiga acara yang berkesan yang saya lewati dalam sehari yang kebetulan hari itu salju masih turun, yaa lumayan tebal dan tentunya dinggin banget. Ketok pertama, adalah seminar kecil walau persiapannya sedikit dadakan, karena kebetulan ada gast datang berkunjung ke Institute. Gast inilah yang memberikan seminar. Saya perhatikan, rasa2nya pernah melihat professor ini sebelumnya, benar!! Ternyata dia adalah Prof. Dr. Dr. H. c. W. Werner dari Uni Bonn yang merupakan salah seorang pakar dibidang soil science terutama phosphate yang juga merupakan tema disertasi yang saya tekuni. Senang banget, sudah dua kali bertatap muka dengan professor ini. Akhirnya saya minta bahan seminarnya serta mohon kirimkan bahan2 tentang tema penelitian saya yang berbahasa inggris, semua ini atas bantuan pembimbing saya, Prof. J. Rogasik, danke sehr.... Ketok yang kedua adalah disputation dari saudari N. Nurhayati di Institut fuer Pharmazeutische Biologie, TU Braunschweig. Wah kalo temanya mengenai gene, scattered occurrence of PAs, synthesize PAs, HSS, enzyme of PA biosynthesis, evolution of HSS in angiosperms...de.el..el wah susah bageet bagi saya, dari dulu pusing kalau belajar ini. Alhamdulillah hasil yang dia peroleh sangat bagus, akhirnya bukan ketok meja lagi oleh Publikum, tepuk tangan pun bergema sebagai appresiasi buat doktor muda dari BPPT ini. Tiga professor pengujinya pun bergantian bersalaman, dan salah seorang professor tidak hanya mengucapkan selamat buat dia tapi keluar juga kata Indonesia. Senang juga saya sebagai anak bangsa mendengar ucapan dan doa untuk kemajuan Indonesia, semoga dech! Tak kala serunya lagi saat hidangan ala Indonesia keluar dan bau khas menyengat memenuhi ruangan, ada gehu, martabak telor, martabak manis, sambal tentu tidak ketinggalan, lemper, dadar gulung...wah katanya sih banyak yang nanya resep makanan itu. Btw, kami sekeluarga mengucapkan selamat buat tante Niknik atas keberhasilan memperoleh gelar Dr. rer.nat, semoga ilmu yang diperoleh bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun ummat. Ketok ketiga, sudah terlalu malam juga untuk sebuah tulisan, weiter......insyaallah.
Mittwoch, Februar 25, 2004
Tiga kali ketuk meja hari ini
Susah juga musti nulis judul apa hari ini, ya akhirnya diberi judul tiga kali ketuk meja dari pada tanpa judul. Pernahkan anda nonton film di "bioskop"nya ITB ngga? Kalau yaa, pasti tahu apa yang terdengar kalau tiba2 film yang diputar tiba2 terhenti. Bunyi meja dipukul dengan alunan tak beraturan akan terdengar sampai film tersebut dilanjutkan, waah jadi teringat cara nonton ala semasa di ITB dulu..murah meriah. Nah judul ini kalau dihubung2kan ada hubungannnya juga, sebenarnya sih ngga nyambung. Ada kebiasaan atau tradisi (akademik kali yaa he..he..).. di Jerman sehabis kuliah diberikan, secara spontan student akan mengetuk meja beberapa kali dengan sebelah tangan pertanda kuliah sudah selesai. Nah ini juga berlaku kalau nara sumber seminar atau pidato dsb selesai juga diberikan apresiasi ala demikian dengan mengetokkan sebelah tangan diatas meja. Jadilah bunyi meja yang cukup beraturan..tok..tok..tok...karena ngga dipukulkan seperti seperti film putus di bioskop yang diceritakan tadi (ngga nyambungkan??). Dulu pernah ada salah seorang professor yang dari Indonesia memberikan semacam seminar kecil/perkenalan kepada kita di Uni Goettingen sekitar tahun 2001. Setelah dia memberikan kata sambutan, secara spontan kita melakukan tradisi mengetok meja...Tak lama kemudian dia ngomong lagi sambil tersenyum, dan bertanya "Tahu kah kalian mengapa kalau di Jerman sehabis kuliah mengetok meja dengan sebelah tangan? Tanpa menunggu jawaban dia menjelaskan. Karena kebanyakan student masih sibuk menulis sementara dosen sudah mengakhiri perkuliahan, jadi dipakailah tangan sebelah sebagai appresiasi dan tangan sebelah sibuk menyelesaikan tulisan. Terusnya lagi kalau ngga salah di Amerika (saya lupa) kalau dosen bilang kuliah selesai dan student menghentakkan kakinya ke lantai, mengapa? Yaa..karena kedua tangan mereka masih sibuk membereskan segala perlengkapan kuliah sementara dosen sudah selesai memberikan pelajaran. Terus dia nanya? Apa yang terjadi kalau dosen di Indonesia mengakhiri perkuliahan.......??? Semua terdiam dan sambil menunggu jawaban professor yang tergolong kocak tersebut. Apa coba..yaaa tepuk tangan!!! Dasar....!!! Karena, katanya lagi..mulai dari kuliah sampai akhir kuliah kedua tangan tidak pernah dipakai untuk mengikuti kuliah dan hanya menunggu kapan berakhirnya perkuliahan. Dan tatkala dosen bilang kuliah selesai!! Spontan semua mahasiswa tepuk tangan...., peralatan kuliah??? Yaa ngga pernah dibuka kan?? Betul juga....
Sehubungan dengan ketok meja ini ada yang menarik untuk diceritan, cuma keburu sudah malam yaa besok lagi biar agak konsentrasi. Ada dua seminar (2) dan satu dinner (1) yang menarik untuk saya ceritakan (total 3 kali ketok meja).....bis morgen oder uber morgen...
Sehubungan dengan ketok meja ini ada yang menarik untuk diceritan, cuma keburu sudah malam yaa besok lagi biar agak konsentrasi. Ada dua seminar (2) dan satu dinner (1) yang menarik untuk saya ceritakan (total 3 kali ketok meja).....bis morgen oder uber morgen...
Dienstag, Februar 24, 2004
Dzakiyyah kommt in den Kindergarten
Heute, bulan baik hari baik buat Dzakiyyah, kenapa? Tepat jam sepuluh kurang seperempat Ich, meine Frau, Dzakiyyah und Fathur bersiap menuju Kindergarten yang akan menjadi tempat bermainnya mulai Senin, 1 Maerz minggu depan. Termin dengan Leiterin Kindergarten yang dibuat seminggu yang lalu jam 10, 24 Februar 04. Itu sudah tertulis di agenda harian saya. Alhamdulillah senang mendapat panggilan untuk mengunjungi Kindergarten, karena sekalian mengurus proses pendaftaran Dzakiyyah. Betapa tidak, untuk bisa masuk Kindegarten ini, kita sudah melden sejak setahun yang lalu. Namun setiap saya telpon dan terkadang datang kesana belum ada tempat dan juga umur harus ab 3 Jahr. Begitu jawaban yang selalu saya terima. Itulah Jerman, kalau peraturan begitu..ya begitu. Pernah saya bilang bahwa Dzakiyyah sudah bisa ke toilet sendiri, sudah ngga pakai pempers, dan dia sudah mau pulang ke Indonesia. Tetaaap, peraturan begitu yaa begitu!!. Nah, betapa senang Dzakiyyah, tentu juga mamanya mendengar Dzakiyyah minggu depan sudah bisa masuk TK. Saya masih teringat sewaktu interview di majalah Wissenschaft erleben, FAL, pertanyaan terakhirnya Was koennte noch besser sein? Kurang lebih artinya, apa harapan anda kedepan? Es waere schoen, wenn wir fuer unsere Tochter in der FAL oder sonst irgendwo in Braunschweig einen Kinderkrippenplatz bekommen koennten, damit sie Kontakt mit deutschen Kindern in ihrer Altersgruppe hat. Vielleicht klappt es ja in diesem Jahr: Saya pingin Dzakiyyah dapat Kinderkrippe/kindergarten und bla..bla...
Nah hari ini kita berkunjung, Frau Lindemann, Leiterinnya langsung membukakan pintu gerbang sambil tersenyum mempersilahkan kami masuk. Pertama dia menjelaskan formular isian dan perangkat formular lainnya yang perlu ditandatangani. Selanjutnya Dzakiyyah diajak mengunjungi ruangan atau bakalan gruppenya nanti, ternyata Dzakiyyah masuk blaue Gruppe. Semuanya ada 4 gruppe: blaue, gelbe, rote dan gruene. Terus ditunjukkan mana tempat gantungan baju, tempat minuman, toilet, dll. Seperempat jam berlalu selesai sudah dan kami berempat langsung pulang dengan perasaan gembira. Minggu depan Dzakiyyah sudah masuk Kindergarten.....!!! Hallo Dzakiyyah "Minggu depan bangun harus pagi-pagi yaa......!!!"
Nah hari ini kita berkunjung, Frau Lindemann, Leiterinnya langsung membukakan pintu gerbang sambil tersenyum mempersilahkan kami masuk. Pertama dia menjelaskan formular isian dan perangkat formular lainnya yang perlu ditandatangani. Selanjutnya Dzakiyyah diajak mengunjungi ruangan atau bakalan gruppenya nanti, ternyata Dzakiyyah masuk blaue Gruppe. Semuanya ada 4 gruppe: blaue, gelbe, rote dan gruene. Terus ditunjukkan mana tempat gantungan baju, tempat minuman, toilet, dll. Seperempat jam berlalu selesai sudah dan kami berempat langsung pulang dengan perasaan gembira. Minggu depan Dzakiyyah sudah masuk Kindergarten.....!!! Hallo Dzakiyyah "Minggu depan bangun harus pagi-pagi yaa......!!!"
Sonntag, Februar 22, 2004
Karneval
Walau suhu antara -3 sampai 3 derajat menusuk tubuh, namun semangat untuk melihat karneval tahunan di penghujung musim dingin di kota Braunschweig tak juga surut. Selepas sholat Dzuhur berangkatlah kita jalan kaki menuju Stadt, karena jalur bus dan strassenbahn (S Bahn) dipindahkan menghindari parade Karneval. Dari pada berdesakan di S bahn dan juga jarak hanya dua halte kita berjalan disela2 rombongan penonton yang lainnya. Fathur tentunya naik kinderwagen dan Dzakiyyah lebih menikmati jalan kaki sambil sesekali melihat orang2 bertopeng atau berpakaian aneh dijalanan. Kurang lebih 15 menute, kita sudah sampai kelokasi yang akan dilalui Karneval. Sambil menunggu parade datang, kita mencari tempat yang strategi (photo-1). Photo-2, kelihatan Dzakiyyah sedang asyiik melihat anak2 yang sedang memainkan musik. Photo-3, menit2 terakhir parade karneval akan berakhir sambil Dzakiyyah menikmati jalan2 yang kadang kosong menunggu grueppe selanjutnya. Nah, apa yang kita dapatkan?? photo terakhir Dzakiyyah dan Fathur sedang melihat hasil tangkapan mereka, ada permen, ada coklat, ada buku agenda, dan juga ada boneka, asyiiik. Sudah tradisi juga, setiap rombongan yang lewat baik itu pakai mobil hias atau traktor...., mereka membagi-bagikan permen dan makanan kecil lainnya. Tentunya kita rebutan dengan penonton lainnya. Hasil tangkapan Dzakiyyah dan Fathur dibantuin sama Mama dan Ayahnya...rebutaaan...rebutaaan, sampai kantong jacke penuh. Dan sekarang mereka sedang makan permen..."Nanti gosok gigi yaaa!!!"
Dienstag, Februar 17, 2004
Senyuman hari ini
Senyuman adalah alat yang ampuh untuk menunjukkan kesenangan perasaan seseorang. Dengan seuntai senyum akan tergambar sedikit perasaan hati si-senyum-er, walau dalam jenis2 senyum ada juga yang menggambarkan ketidaksengan, senyum sinis contohnya. Mungkin pagi ini saya tidak akan menulis macam2 senyum dan pembagiannya, namun hanya menceritakan sekelumit senyum pagi ini yang sangat berarti bagi kerjaan saya selama ini. Kemaren saya memberikan draft dissertasi saya ke professor pembimbing lapangan/betreuer, yaa taroklah namanya pembimbing kedua. "Senen pagi saya berikan!", begitulah janji saya sebelumnya dengan dia. Nah, terpaksa sabtu dan minggu saya musti lembur kerja dirumah dan sedikit berbagi waktu dengan anak2 bermain. Alhamdulillah, akhir minggu berlalu...walau tidak seindah akhir minggu biasanya, yang selalu diisi dengan jalan2 ke zentrum atau spielplatz dengan keluarga. Tepat senin pagi saya berikan lembaran2 kerja tersebut ke professor. Karena dia lagi rapat, jadi saya letakkan saja dibriefkastennya (kotak surat). Lalu saya berlalu menuju ruangan..dan membayangkan kapan mau diambil itu draft sama prof. Ah.., susah2 amat mikirin...yang penting janji sudah saya tepati janji to, dan setelah rapat dia musti lihat itu kertas2 kerja saya tersebut, jawab bathin saya. Nachmittag, sekitar jam 13, ada telephon dan tertulis nama dia. Waoow, ada apa pula yang musti secepat ini musti diperbaiki, bathin saya. "Kannts du zu mir kommen?", terdengar suara dari telephon. "Ya..! Ich komme gleich...und Tschuess", jawab saya sambil menaroh gagang telphon dan sedikit pikiran berkecamuk...Sambil berlari2 kecil saya menuju ruaangannya. Alhamdulillah ternyata dia acc draft dissertasi saya (yang sudah beberapa kali sebelumnya dia koreksi) dan disuruh antarkan ke doktorvater, sebutan untuk pembimbing utama mahasiswa doktoran. Dengan senang saya berlalu dan menuju ruangan doktorvater, dan sebelumnya saya harus melalui sekretarisnya dulu yang ada 3 orang. Ok, silakan masuk katanya. Lalu saya ketok ruangannya, dan memberikan tumpukan lembaran kalau ngga salah sekitar 150pp. Sedikit basa-basi, lalu saya berlalu meninggalkan ruanggannya. Sambil bernapas lega langsung saya menuju ruangan kerja lagi, ngapai-in? Yah, tentunya isi blog dulu..he..he..(biar ngga stress). Nah, heute morgen habe ich mit Sie (die zweite prof.) getroffen....dan dia bilang, kemaren saya sudah ketemu dia (doktovater) dan dia bilang "lumayan....". Wooow, dia tersenyum senang dan saya tentunya jauh lebih senang. Disamping itu, termin untuk draft ke doktorvater sebenarnya kan akhir maerz..jauh lebih cepatkan??. Terasa pekerjaan yang bertahun2 itu ngga sia2 hanya dengan perkataan tersebut. Walau nanti mau diobrak-abrik lagi perbaikin, ngga masalah...namanya juga koreksian too..."belajar lagi aahhh!!!" Wah gara2 dibilang "lumayan" jadi gr niiih, belajarnya tambah semangaaaaat....he...he..he..
Montag, Februar 16, 2004
Cerita seputaran denda
Rehat dulu...sekalian ngisi blog yang hampir seminggu ngga diisi (iya gitu?). Tema hari ini barangkali lebih menarik dipikiran saya adalah masalah dunia perdendaan. Minggu kemaren teman saya sekota bercerita, katanya dia kena denda 15 euro, itu pun dua kali. Hitung2kan jadi 30 euro. "Apa pasal?" kataku. Akhirnya dengan sedikit berbisik (ngapain berbisik yaa ngga? he..he..), dia buka rekening bank cuma ada sedikit kelalain, lupa menuliskan alamat lengkap appartmentnya (nomor kamar). Otomatis yang namanya surat kadang nyampai dan kadang ngga kan? karena satu appartement orangnya kan puluhan, jadi pak postnya kan bingung. Trus kok bisa didenda....? Nah ceritanya gini, setelah buka rekening, tentunya seminggu kemudian akan datang bankcard. Cuma.., karena alamatnya ngga lengkap..itu kartu balik lagi ke yang empunya (bank). Seminggu ditunggu, dua minggu kartu ngga datang akhirnya sampailah sebulan kagak datang juga. Dengan gagah berani (tentunya..) teman saya datang ke bank yang telah mengikat janji tersebut. Alhasilll....ternyata mereka sudah dua kali ngirim surat..tetapi menurut cacatan pak post, alamat tidak ditemukan. OK alles klar, diperbaikilah alamatnya dengan lengkap nomor kamar app. Hanya sampi disitu? Ya..tidak, kesalahan kalau di Jerman hampir selalu dikenai denda, ternyata satu kali kesalahan (alamat tidak lengkap)---surat balik---dendanya 15 euro dari bank. Karena mereka katanya harus membuat kartu baru lagi. Mau ngotot...??? percuma, ngotot akan diterima aber denda jalan teruuuus. Nah makanya kalau mau pindah rumah, pindah kota apalagi atau mau balik ke Indonesia, harus lapor kebank, biar bebas denda. Cerita yang sama juga telah menimpa teman saya yang lain setahun yang lalu, cuma dia kena 1 kali saja, itu pun mahaaalkan, berapa rupiah coba???
Mittwoch, Februar 11, 2004
Mimpi Dzakiyyah
Bangun tidur Dzakiyyah biasanya akan selalu bilang mimpi ini, mimpi itu dan terkadang hanya satu dua yang bisa kita tangkap. Pokoknya ada temen2, ada Ayah ada Mama, ada Adek Fathur de el el. Nah, pagi ini katanya dia mimpi. Kebetulan saya sudah dikantor, jadi hanya mendengarkan cerita tidak langsung dari mamanya, itupun via telpon. Katanya gini, "Ayah mana, mama?" tanyanya. "Sudah ke kantor" jawab mamanya, "memang kenapa ayuk? "Dzakiyyah mimpi ke sekolah dengan Ayah..". Trus mamanya nanya, "mama ada ngga dimimpi?". Dengan lugu dia jawab, "Ya..ngga dong, kalo mau ikut ayah kesekolah dalam mimpi..., mama harus mimpi juga dibantal ini" sambil menunjuk bantalnya.
Montag, Februar 09, 2004
Keywords today
Badai salju; ke kantor telat; bis telat 15 minute; dingiin; jalanan becek; ngimel/ngeblog/baca koran; kerja revisi thesis; siangnya badai salju lagi; istirahat siang/makan; sholat; kerja lagi; cuaca mulai panas; salju habis; pulang jam 5.45 (agak telat); dingiin masih; enak minum kopi; trus makan malam; sholat dan istirahat, main sama Dzakiyyah & Fathur; und bis morgen...!!
Donnerstag, Februar 05, 2004
KinderPrinzenPaar
Sore ini kita sempat nonton KinderPrinzenPaar der Stadt Braunschweig di Galeria Kaufhof. Acaranya cuma sebentar, dari jam 16.11 bis 18.00. Kita datang sekitar jam lima, karena baru pulang dari Institut. Alhamdullillah sempat sekitar satu jam juga kita nonton. Pokoknya, walau Dzakiyyah belum tidur siang, dia kelihatan senang bangeet. Sampai2 ngga mau pulang. Sedangkan Fathur sudah tidur, jadi asyik2 aja dia nonton. Acara ini sebagai pemanasan menjelang acara karnaval yang akan diadakan di Braunschweig hari minggu ini. Acara karnaval ini menjadi rutinitas tahunan dikota2 Jerman. Asyiiik, minggu ini kita nonton lagi karnaval, biasanya orang banyaak bangeet. Dan pulang2 bawa permen dan coklat yang banyak. Kayak pawai tujuhbelasan laa. Semoga hari minggu ini ngga hujan...
Montag, Februar 02, 2004
Catatan HR Idul Adha dipenghujung musim dingin
Tak ada suara takbir dari corong2 mesjid, atau bunyi beduk dan celotehan anak2 kecil dijalanan yang berlari2 menuju mesjid. Yang ada hanya bunyi2an berisik dijendela kaca appartmentku diterpa hujan yang memang deras sejak tadi malam. Terasa dingin disekujur tubuh, saat kutatap keluar jendela melihat situasi dijalanan dibawah sana. Semua memang terekam jelas karena letak appartment kami ada dilantai delapan. Arah pertama yang dituju adalah traffic light, pas sebelah kiri pandangan dari jendela. Jalanan sepi, hanya satu dua mobil yang lewat, karena memang hari ini hari minggu ditambah hujan lebat. Minggu, 1 Februar 2004 ini bertepatan dengan 10 Zulhijjah 1424, IDUL ADHA. Ini kali ke-empatnya saya melaksanakan lebaran Idul Adha di Braunschweig ini. Setelah kami melaksanakan sholat subuh, terlihat Dzakiyyah sudah duduk sambil bersimpuh dan spontan bertanya, "Ayah ngga sekolah?". Saya menatapnya dan perlahan menghampirinya serta memeluknya, "ngga Nak, kan hari ini hari minggu, dan kita mau pergi sholat Idul Adha." Saya menatapnya lagi sambil menunggu jawaban darinya. "Ayuk boleh ikut?", katanya. "Boleh, adek Fathur juga ikut, mamamu juga ikut...semua ikut" jawabku lagi. Tampak keceriaan diraut wajahnya dan dia beranjak dari duduknya menuju kamar mandi. Sementara Fathur masih tidur, dan kita mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat sholat Idul Adha. Ya kinderwagen plus decke dan payung untuk menghindari hujan, walau tampaknya sudah berangsur-angsur reda. Minuman dan sedikit roti, kalau2 nanti mereka lapar di Mesjid atau dijalan. Karena seperti biasa, tidak ada toko atau supermarkt yang buka dihari Minggu/libur. Setelah dari kamar mandi, Dzakiyyah dipasangin baju, tentunya berlapis2 karena musim dingin. Dan lapisan terluar adalah Jacke, namun jas hujan buat dia juga telah digantung diKinderwagennya Fathur. Setelah kita bertiga selesai, bangunlah Fathur, lalu diganti pakaian dan kita berangkat. Pas berdiri didepan appartment kami, benar ternyata rintik2 hujan masih ada, langsung jas hujan Dzakiyyah dipasang dan decke kinderwagen Fathur juga dipasang, serta payung dibuka. Lalu kita berdiskusi kecil mau naik S-bahn atau jalan kaki. Dengan pertimbangan, akhirnya kita putuskan jalan kaki, karena kalau naik S-bahn harus menunggu sekitar setengah jam lagi sedangkan kalau jalan kaki hanya sekitar 20 menit dan tak perlu pula bayar 1.7 euro. Nah, guenstig oder? Dzakiyyah kelihatannya menikmati hujan rintik2 ini, sekali-kali dia injakkan kakinya digenangan air hujan dipinggir jalan. Dan terkadang dia berhenti sebentar. Tapi entah apa yang kepikir sama dia, mau pergi kemana? Ingat saya dulu waktu kecil, mulai dari bangun tidur...sudah ada tanda2 ini hari lebaran, biasanya bangun pagi2, trus bersama rombongan anak2 yang lainnya berlari-lari menuju mesjid. Sepanjang jalan orang2 berpakain warna-warni, putih, bermukenah, saling menyapa dan tersenyum bahagia, sementara gema takbir tak henti2nya. Kalau disini, jauh dari bayangan itu. "Kok, ngga ada teman2 yang lain ya?" celetukku sambil melihat kebelakang. "Apa, jam sholatnya benar jam setengah sepuluh?" kataku lagi, tanpa menunggu jawaban dari istriku. "Tadi malam pada nelpon benar jam setengah sepuluh sholat dan mulai takbiran jam sembilan" jawab istriku sambil mendorong terus Kinderwagennya Fathur. "Ah, mungkin karena hujan kali yaa..? teman-teman pada datang terlambat" celotehku lagi memberi keyakinan. Jam sembilan kurang sedikit akhirnya kami sampai juga ke mesjid baru, alhamdulillah sudah hampir separoh ruangan mesjid yang berkapasitas sekitar limaratus orang ini terisi, dan kita juga tidak telat. Ruangan untuk ibu2 dan Bapak2 dipisah. Masuk keruangan mesjid, baru terasa bahwa sekarang ini adalah HR Idul Adha, gema takbir..allahu akbar...allahu akbar..allahu akbar mengisi seluru ruangan mesjid. Wah indahnya ucapan itu.....Sehabis sholat kita tanpa dikomandoi berkumpul sesama teman2 dari Indonesia yang kurang lebih sekitar 20 orang. Saling bersalaman, berpelukan, yaa..pelepas rindu lebaran ditanah air. Lalu kita pulang kerumah masing2, karena siangnya kita akan mengadakan halalbihalal. Makanannya, wah banyaaaak, ada kimlo (khas palembang), kare kambing, kare ayam, baso ayam, sambal petai, salat plus kuah kacang, kerupuk, es campur, kue2 (ngga hapal namanya) de-el-el. Pokoknya makanan yang berbau ke-Indonesian-an......
Freitag, Januar 30, 2004
Salju
Tebal bangeet saljunya.....pas dilihat ke jalan. Jalanan sudah sepi, hanya satu dua mobil yang lewat. Maklum hari sudah lewat tengah malem. Siapa lagi yang berani keluar dingiiin....dingiin..., dingiiin begini. Tidur dulu aahhh, besokkan sudah janji sama anak-anak mau main luncuran salju, asyiiiik...asyiik. Ntar kita bikin video und foto yang banyak. Tschuess....!!!!
Freitag, Januar 23, 2004
Dach
Kemaren ada orang datang keruangan saya. Seperti sudah tradisi, kalo orang disini mau masuk ruangan/bertamu, ketok dua kali..tok..tok..dan tanpa menunggu jawaban dari dalam langsung buka pintu, trus "guten tag!". Datang seorang bertubuh gede dan saya belum pernah lihat sebelumnya. Kalo mitarbeirter diinstitut saya sudah hapal semua. Saya dulu pernah punya pengalaman. Waktu itu saya mau bimbingan ke betreuer/tutor, dan tepat pada jam yang telah disepakati saya pergi menuju ruangannya yang kebetulan ada dilantai dasar (Erdgeschoss). Lalu saya ketok itu pintu, dan tunggu beberapa saat..., trus ketok lagi, tunggu lagi kagak ada yang buka pintu. Kok ngga ada juga yang keluar. Setahu saya kalo di Indonesia kan; ketok pintu tiga kali-tunggu beberapa saat-lalu pintu dibukakan. Saya pikir, biasanya orang jerman puenktlich (tepat waktu). Dan selagi saya berpikir, datang professor pas dihadapan saya. "Herein bitte..!", masuk katanya. Dengan basa-basi saya bilang,"Kirain tadi ngga ada". Dia bilang kita kan sudah janji mau diskusi, dan kalau disini, mau masuk ketok dulu..trus buka saja pintu..., dan ucapakan "guten tag!" Nah, sejak itu baru saya tahu tradisi di Jerman (semua daerah kali yaa?). Dan dengan tersenyum sedikit saya bilang, maklum saya baru di Jerman, jadi belum tahukan?. Nah balik kecerita orang yang datang diatas, ternyata bagian "tukangnya" lah kalo di Indonesia. Katanya dia mau perbaikan dach/loteng. Memang kemaren saya bilang sama teman saya Geert yang bekerja dibagian umum diinstitut saya. Kirain dia langsung yang perbaiki, soalnya ada loteng yang bocor dirungan saya. Eh..ternyata kudu yang jurusan perlotengan pula yang memperbaikinya. Mendingin bocornya banyak, dikiit bangget. Nah itu lah kalo di Jerman, semuanya spesialisasi....Bagus juga sih..
Donnerstag, Januar 22, 2004
46..47..48...
Hari ini saya berangkat agak kesiangan, jam 08.05. Dzakiyyah pun sudah bangun dari tidurnya dan masih sempat nonton Marcelino di TV kesayangannya KI.KA. Kalau ngga salah jadwal Marcelino ini dari Jam 07.30, lalu disambung dengan Musik boxx dan Sesamstrasse. Saya tanya sama Dzakiyyah "nonton apa Nak, abaluga?", karena ada acara anak2 yang dia senangi namanya Tabaluga, cuma dia taunya abaluga. "Nein, ini..ini.., yang sama kayak computeer", sambil menunjuk ke TV. Memang hampir semua acara anak2 di KI.KA dia sudah lihat dulu di websitenya.. Makanya dia sebenarnya lebih senang lihat websitenya dari pada TV sendungen. Ntar kalo dia sudah nonton sebentar, langsung hidupkan komputer sindiri, dan browsing deeh ke sini..... Yah main games, dengarin soundtracknya etc,. Sedangkan Fathur, sampai saya berangkat dia masih boboo, biasanya dia bangun sekitar jam 09.00 oder 10.00. karena dia memang suka tidurnya telat, bisa-bisa sampai jam 11.00 malem baru tidur, makanya bangun kesiangan melulu. Sepuluh menit menjelang Jam bis tiba, pamit.., cium pipi kiri..pipi kanan..kening..dan Assalamualaikum..., turun aufzug..jalan ke halte..dan naik bis....trus sampai di meja kerja tertulis di notes angka 46. Itu tandanya hari ini saya mulai ngebetulin thesis mulai dari halaman 46....dan mudah2an tanggal 29 Januar sudah bisa dikasihin sama professor. Kerja dulu...46...47...48...dst...
Mittwoch, Januar 21, 2004
Al-Bashri dan Gadis Kecil
Online source:Al Islam.or.id
Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusust dan terurai, tak beraturan.
Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.
Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
"Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini."
Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, "Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini."
Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Al-Bashri. "Aku akan ikuti gadis kecil itu."
Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.
"Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?"
"Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalm, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"
Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.
"Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, "Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercbik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?"
"Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?"
"Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?"
"Jika kupanggil, engkau selelu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?"
"Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti."
Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai."
Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.
Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Tim Poliyama Widya Pustaka
Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusust dan terurai, tak beraturan.
Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.
Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya.
"Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini."
Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, "Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini."
Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Al-Bashri. "Aku akan ikuti gadis kecil itu."
Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.
"Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?"
"Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalm, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"
Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.
"Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, "Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercbik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?"
"Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?"
"Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?"
"Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?"
"Jika kupanggil, engkau selelu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?"
"Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti."
Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai."
Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.
Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Tim Poliyama Widya Pustaka
Dienstag, Januar 20, 2004
Lukman Hakim dan Keledai
Online source:Al Islam.or.id
Lukman Hakim memerintahkan anaknya mengambil seekor keledai. Sang anak memenuhinya dan membawanya ke hariban sang ayah. Lukman menaiki keledai itu dan memerintahkan anaknya untuk menuntun keledai.
Keduanya berjalan melewati kerumunan orang banyak. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraya berkata, "Anak kecil itu berjalan kaki, sedangkan orang-tuanya nangkring di atas keledai, alangkah kejam dan kasarnya ia." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?" Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman turun menuntun keledai. Sang anak ganti menaiki keledai. Keduanya lalu berjalan melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba mereka mencemooh sang anak seraya berkata, "Anak muda itu menaiki keledai, sedangkan orang tuanya berjalan kaki, alangkah jelek dan kurang ajar sang anak." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman dan anaknya sama-sama menaiki keledai berboncengan. Keduanya melewati keramaian di tempat lain, tiba-tiba orang-orang mencerca keduanya seraya berkata, "Betapa kejam kedua orang itu, mereka menaiki seekor keledai, padahal mereka tidak sakit, dan tidak pula lemah." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Akhirnya, Lukman dan anaknya turun dari keledai. Keduanya berjalan kaki sambil menuntunnya melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraca berkata, "Subhanallah... seekor himar yang sehat dan kuat berjalan? sementara kedua orang itu berjalan menuntunnya, alangkah baiknya jika salah satu dari mereka menaikinya." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman menasihati anaknya: "Wahai anakku, bukankah aku telah berkata kepadamu, kerjakanlah pekerjaan yang membuat engkau menjadi saleh dan janganlah menghiraukan orang lain. Dengan peristiwa ini saya hanya ingin memberi pelajaran kepadamu."
Sumber: Didaptasi dari, Luqmanul Hakim wa-Hikaamuhu, Ali bin Hasan al-Athas
Lukman Hakim memerintahkan anaknya mengambil seekor keledai. Sang anak memenuhinya dan membawanya ke hariban sang ayah. Lukman menaiki keledai itu dan memerintahkan anaknya untuk menuntun keledai.
Keduanya berjalan melewati kerumunan orang banyak. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraya berkata, "Anak kecil itu berjalan kaki, sedangkan orang-tuanya nangkring di atas keledai, alangkah kejam dan kasarnya ia." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?" Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman turun menuntun keledai. Sang anak ganti menaiki keledai. Keduanya lalu berjalan melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba mereka mencemooh sang anak seraya berkata, "Anak muda itu menaiki keledai, sedangkan orang tuanya berjalan kaki, alangkah jelek dan kurang ajar sang anak." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman dan anaknya sama-sama menaiki keledai berboncengan. Keduanya melewati keramaian di tempat lain, tiba-tiba orang-orang mencerca keduanya seraya berkata, "Betapa kejam kedua orang itu, mereka menaiki seekor keledai, padahal mereka tidak sakit, dan tidak pula lemah." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Akhirnya, Lukman dan anaknya turun dari keledai. Keduanya berjalan kaki sambil menuntunnya melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraca berkata, "Subhanallah... seekor himar yang sehat dan kuat berjalan? sementara kedua orang itu berjalan menuntunnya, alangkah baiknya jika salah satu dari mereka menaikinya." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman menasihati anaknya: "Wahai anakku, bukankah aku telah berkata kepadamu, kerjakanlah pekerjaan yang membuat engkau menjadi saleh dan janganlah menghiraukan orang lain. Dengan peristiwa ini saya hanya ingin memberi pelajaran kepadamu."
Sumber: Didaptasi dari, Luqmanul Hakim wa-Hikaamuhu, Ali bin Hasan al-Athas
Abonnieren
Posts (Atom)