Mittwoch, Juni 23, 2004

Back to Indonesia

Sobat-sobat yang saya cintai, mohon maaf jika saya belum sempat bales shoutbox, dan juga mengunjungi blog teman2. Namun semuanya tetap saya sempatkan baca dan mengintip sebentar. Apa pasal? Karena bulan Juni ini kami disibukkan dengan peking barang kontainer, ngecat rumah, jalan2, persiapan pulang karena besok (24 Juni) kita mau pulang/liburan di Indonesia (Riau- Bandung) serta kesibukan mengejar target ujian di tahun ini. Saya libur selama 2 minggu (saja) dan balek lagi ke Jerman, sedangkan Dzakiyyah, Fathur dan Mamanya anak2 untuk sementara tinggal di Indonesia dulu.

Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan doa dari sobat? tercinta, semoga perjalan kami berjalan dengan lancar dan selalu dilindungi oleh Allah SWT, hendaknya, amien. Cerita selanjutnya insyAllah diminggu kedua Juli.

Sonntag, Juni 13, 2004

Teknologi dan lidah

Teknologi terus berkembang seakan tak terbendung, ada aja penemuan baru yang memudahkan segala sesuatunya. Begitu juga dibidang komunikasi, ya ada telphon, HP, internet dengan segala fasilitasnya yang online. Terus bisakah kita terpaku sama satu teknologi saja? Dan apa bisa selalu menjamin "keakuratan pesan" yang disampaikan?

Dua minggu yang lalu saya punya sebuah cerita ringan. Salah seorang teman saya di Jambi kirim pesan lewat YM dan kebetulan saya memang lagi ngendon didepan komputer kantor yang emang selalu online dari pagi-petang. Dia mau tanyakan perubahan alamat surat dari Zav-Reintegration di Frankfurt, FedEx, karena dia mau kirim paket dari Indo ke Jerman. Kok FedEx tahu yaa alamat berubah? Saya mulanya ngga percaya juga sama FedEx tsb, saya check dari surat terakhir dari ZAV, alamatnya tetap sama dengan yang di onlinenya. Ok lah, dari pada pusing, mendingan tanya saja langsung sama ZAV di Frankfurt. Saya telphon ke salah seorang kontak person disana dan menanyakan masalah perubahan alamat tsb. Ternyata saudara? memang berubah, dalam hati saya hebat bener tu FedEx, kok dia tau he..he..

Ok lah, nah saya mau tau langsung pada saat itu juga alamat yang baru, karena teman yang di Jambi lagi online di YM, nunggu. Cuma saya sedikit ngga yakin kalau ntar yang di sono (wong Jerman) menyebutkan alamat jalan, nomor trus kode pos via telphon, takut salah denger, yang namanya alamatkan harus 100% betul kalau ngga ya nyasar. Dengan spontan saya bilang sama kontak person ZAV tsb, bisa kirim alamat barus lewat imel ngga?
Ternyata orang baik di sono mengatakan, tentu saja! Tentunya dia menanyakan alamat imel saya, dan langsung saya kasih tahu, itu pun dengan di eja...maklum lidah berbeda.

Tiga menit berlalu belon juga datang, 5 menit juga belon datang. Padahal dia bilang akan kirim segera, sofort. Saya mencoba mengingat lagi saat mengeja alamat imel. R (Russland), O (oval), S (sie), Y (yahoo), A (Atlantik), D (Deutschland) und I (instal) at FAL Punkt DE. Ngga ada yang musti salah dan itu pun dua kali di ulang, yakin bin yakin dech.
Teman saya kirim YM lagi, dan langsung saya jawab, ntar saya sedang tunggu imel dari mereka, ntar lagi datang, sabar yaa! Ok, jawab dari Indo.

Setelah 10 menit berlalu saya telpon ke Frankfurt lagi karena pasti ada apa?. Ternyata benar, ada satu huruf yang "salah ucap" dan "salah dengar", yakni huruf L, staf ZAV tersebut mengira FAR padahal FAL. Memang susah membedakan huruf L dan R versi Jerman, hampir mirip. Padahal R-nya versi Indonesich...eerrrr, kalau versi Deutsch, ya itu tadi hampir sama kedengarannya L dan R.
Ternyata tetap saja salah ...he..he.., padahal sudah pake YM, Imel, Telphon masih...aja.
Alhamdulillah juga prosesnya ngga lebih 15 menit, semuanya alles klar.

Dienstag, Juni 01, 2004

Dzakiyyah dan PHP

Pagi tadi saya cukup terkesima dengan pernyataan Dzakiyyah pada Mamanya yang sedang asyik di dapur mempersiapkan roti yang akan saya bawa ke institut. Memang sudah rutinitas saya yang lebih duluan berangkat ke institut, setelah itu baru Dzakiyyah. Dan tentunya roti untuk makan siang juga lebih duluan disiapkan. Setelah itu baru mempersiapkan makanan/roti untuk bekal Dzakiyyah di KinderGarten-nya.

Nah, sehabis mamanya menggoreng roti untuk saya, trus mamanya bilang sama Dzakiyyah, “Dzakiyyah bawa roti juga yaa!“, seru mamanya seperti biasa. Padahal memang selalu dibikinin roti goreng plus keju, mentega plus gula ataupun kue yang lainnya. Tapi sebelum dibekalin dia mesti dikasih tahu dulu apa makanan yang bakal dia bawa. Dengan spontan Dzakiyyah menjawab, “Iya mama, bawa roti, cuma jangan digoreng yaa! Jawaban ini yang membuat saya kaget, kenapa? Ya karena umurnya juga belum genap 3.5 tahun, namun dia sudah ada pilihan, harapan dan permintaan (PHP). Jadi PHP disini bukan program komputer itu lho he..he..

Sesampainya dikantor saya masih teringat ucapan itu. Ada juga hal2 lain yang membuat saya tertarik terhadap tingkah laku anak2, kalau dia tidak mau makan biasanya dia akan bilang, ”nggak, nggak, Dzakiyyah sudah kenyang!”. Wah kalau sudah begini repot jadinya. Salah satu caranya adalah dengan menawarkan dia dua jenis makanan. Tawarannya kira2 begini; “Dzakiyyah mau makan nasi apa makan roti?“. Lalu Dia akan menjawab satu diantaranya. Jadi lucu juga strategi ini. Atau kalau memang dia nggak mau makan atau barangkali memang sudah kenyang, dia sendiri biasanya akan mengajukan alternatif lain. “Dzakiyyah mau minum susu aja!, katanya sambil menghindari piring nasi.

Yang lucunya lagi, dulu pernah dibilangin kalau Dzakiyyah nggak mau makan, maka nggak akan diajak main ke zentrum/kota. Nah, tawaran ini ternyata cukup mujarab untuk menyuruh dia makan karena bayangan dia kalau sudah makan bakalan diajak main ke zentrum. Memang kalau sudah demikian kita selalu mengajak dia main ke sana(spiel platz di Zentrum). Tapi lambat laun cara ini jadi basi alias udah nggak mempan lagi. Pernah sekali waktu mamanya bawa nasi untuk makannya dan kelihatannya dia memang sedang nggak mau makan. Sebelum mamanya menawarkan makanan tersebut, dia sudah terlebih dahulu bilang, “Mama, Dzakiyyah nggak mau main ke kota”, celetuknya. Padahal ditawari makan saja belum, dia sudah antisipasi duluan he..he..

Ternyata kalau dilihat cases seperti ini, dari kecil pun tanpa disadari kitapun sudah belajar PHP (pilihan, harapan dan permintaan). Nah, ngomong2 sudah pada punya capres pilihan belum nih??! Air sawah air payau, ..nggak nyambung layawww…..!!!

Samstag, Mai 29, 2004

Jalan2 di zentrum Braunschweig

Suhu panas 20° C hari ini tentu saja tidak kita sia2kan, apa lagi hari Sabtu yang merupakan hari belanja dan hari keluarga. Jadi disamping kita pergi belanja tentunya juga ngajak anak2 ke supermarkt dan tempat rame lainnya. Pokoknya asyiik banget, apalagi Dzakiyyah keluar rumah cukup dengan T-shirt saja, yang selama ini harus berlapis2. Fathur, tak kalah senangnya disepanjang jalan dia berteriak huuu..huuu…huuu .. Karena Dzakiyyah nyanyi-in lagu kesenangannya: unsere liebe…unsere liebe..einmal …! Jawabnya huuu..huuu…(sambil kedua tangan diangkat). Wah pokoknya mereka kelihatan senang dech. Lihat saja fotonya!

[1] Ini adalah saat menunggu S-bahn (kereta kota) untuk menuju zetrum (pusat kota).

[2] Salah satu sudut kota Braunschweig, tentunya kita berpose ria. Mama Dzakiyyah & Fathur mana? Itu lagi cepret foto..he..he..

[3] Kalau yang ini, lagi istirahat di city point, ngga tahu apa bener ini yang titik kotanya

[4] Nah, inilah salah satu cara istirahat yang effective, masuk supermarkt yang ada tempat main anak2. Jadi mereka ngga bosankan? Sekalian istirahat….

Donnerstag, Mai 20, 2004

Grillen

Di tengah cuaca yang cukup panas, 18 derajat, Kita dan Kel. Pak Hendarko mengundang saudara2 warga Indonesia-Malaysia di Braunschweig dan sekitarnya mengadakan "grillen" alias bakar sate. Grillen memang selalu dinantikan kalau sudah memasuki musim sommer beginian. Semua jenis sate akan bisa dinikmati dibawah terik sinar matahari yang berlimpah. Terima kasih buat Mbak Mei, Mbak Helmi, Mbak Aida, Om Nadeem, Amru dan teman2 lain tim bakar sate yang telah banyak membantu acara ini, danke sehr noch mal. Di tunggu acara grillen selanjutnya, kapan yaa? Ada yang ulang tahun ngga?

Wajah cerah Ibu2/tante serta adek2


Tim kipas sate putra berpose


Evelyn, Dzakiyyah dan Sheila berpose menanti sate matang


Fathur digendong sama Tante Mimi dan sebelahnya Tante Eva


Nah, ini dia proses pembakaran satenya..cepetan..lapar!!


Fathur sedang minum susu, kehausan nungguin sate..he..he..(kanan, si Adek anak tante Mimi)

Freitag, Mai 14, 2004

Menghitung dengan jari

Bagaimana caranya kita kalau mau pesan bakso semangkok atau dua mangkok?. Biasanya kita akan mengacungkan jari telunjuk untuk memesan semangkok bakso, jari telunjuk+tengah untuk menyatakan dua mangkok, kemudian tiga mangkok jari telunjuk+tengah+manis, so kalo empat mangkok plus kelingking. Dan pasti sudah jelas lima mangkok dengan semua jari. Ini yang saya tahu cara berhitung dan mengekspresikan angka dengan jemari.

Lain pula yang saya amati kalau di Jerman, angka 1 cukup diwakilkan dengan jempol. Saya berpikir kok dengan jempol sih, kenapa tidak dengan telunjuk aja ya...tapi entahlah apa jawabannya (mikir2 dulu..). Kalo jempol di Indonesiakan menandakan bagus, keren, ok dan sejenisnya. Udah ah pusing juga mikirinnya. Pokoknya kalau anak2 mau pesan 1 ice cream, saya tinggal bilang eine sambil melihatkan jempol keren. Dan lucunya juga, kalau 2 adalah jempol+telunjuk dan seterusnya. Coba bayangkan gimana susahnya kalau kita mau bilang 4, jempol+telunjuk+tengah+manis (kelingkingnya nunduk…sedikit kagok karena nggak biasa..he..he..). Padahal kalo pesan bakso 4 di Indonesia, kan minus jempol. Lebih gampang cara mesannya dan harganya murah lagi. Cuma satu yang sama, jangan coba2 menunjukkan angka satu dengan menggunakan jari tengah dimanapun juga..!! Bisi kena damprat ntar...hhehehehehe...cepet kabuuuurrrrr!!

Samstag, Mai 01, 2004

Lampu kuning

Coba tebak apa kira2 fungsi lampu kuning yang ada di setiap persimpangan jalan? Kenapa tidak cukup hanya dengan dua lampu saja, merah dan hijau? Kalau lampu merah tanda berhenti dan kalau lampu hijau kita jalan. Trus kalau udah gitu..fungsi lampu kuning buat ngapain donk ya…apakah pertanda setengah jalan atau setengah berhenti, nggak lucu kan?. Kalau secara matematis coba dihitung; ˝ berhenti = ˝ jalan; artinya berhenti = jalan (karena ˝ nya bisa dihilangkan). Memang susah juga untuk memahami arti lampu kuning di traffic light atau Die Ampel dalam bahasa Jermannya.

Source: fahrtipps.de

Teringat dulu waktu pergi ke Lembang dengan teman dan kita menerobos lampu kuning di jalan setia budi atas yang terkenal dengan “polisi lampu kuningnya”. Langsung saja kena priiiitt tiba2 entah dari mana? Karena merasa tidak bersalah langsung saja teman saya keluar dari mobil sambil membawa surat-menyurat mobil dan mengikuti pak polisi,sedangkan kita hanya menunggu di mobil sambil berharap moga2 tidak kena tilang. Hanya beberapa saat dalam hitungan 5 menit, teman tadi datang dengan tersenyum. “Bayar berapa Rudy?“, kata kita serentak. “nggaaakk?“ Lho kok bisa, biasanyakan kalau sudah masuk `warung` untuk urusan beginian pasti sudah kena denda/tilang. Ternyata pak polisi tadi lihat alamat teman saya, yang kebetulan tinggal di komplek kajati, Jakarta. Kontan saja nggak berani pak polisi mau ngasih denda, apalagi teman saya memang orang hukum, tentunya jago debat masalah kecil beginian.

Nah lain pula cerita teman saya di Hamburg, dia dipanggil oleh guru sekolah anaknya. Dia heran kenapa dipanggil.Apakah mungkin anaknya punya masalah di sekolah atau dengan teman2nya.Dengan rasa penasaran maka ditemuinya juga guru sekolah anaknya tersebut. Ternyata ceritanya begini…, Pada suatu hari anaknya ditanya oleh gurunya tentang perihal die Ampel. Dia bertanya tentang apa yang dilakukan kalau melihat lampu kuning? Anak teman saya ini langsung menjawab dengan suara keras dan cuek...tancaaaaappp gas. Tentu saja dia merasa yakin betul akan jawabannya ini? Tapi ternyata dengan jawaban seperti ini, akhirnya datanglah surat panggilan buat si orang tua untuk “diselidiki“. Setelah dijelaskan kenapa dipanggil, terus gurunya menanyakan apakah memang si anak diajarin begitu. Kontan saja teman saya yang juga dari Indonesia dengan sigap berdalih....., ya nggak mungkin donk anak saya diajarin begitu....sebetulnya saya tancap gas sewaktu lampu masih hijau..tapi dia nggak lihat sebelumnya lampu hijau itu..setelah lampu kuning baru dia lihat karena anak saya duduknya di belakang..dan bla..bla..berbagai alasan lainnya turut jadi pendukung. Entah itu benar atau salah, yang jelas intinya nggak mau disalahkan kan? he..he..Karena disini, salah mendidik seperti ini pun orang tua kena tegur/sanksi....!!

Makanya disamping harus hati2 dengan lampu kuning, sebaiknya memang nggak usah diterobos….lebih amankan? Nah pertanyaannya sebagai PR di rumah, apa yang anda lakukan ketika melihat lampu kuning, apakah tancaaaap gas atau berhenti perlahan???

Sonntag, April 25, 2004

Tersesat ke jalan yang benar

Jumat malam saya bersama dua orang teman pergi menuju dua kota, yang satunya kota bekas Jerman Timur, Magdeburg dan satunya lagi kota pelabuhan Hamburg. Dari kota tempat saya tinggal Braunschweig ke Magdeburg kita tempuh sekitar 1 jam. Dengan mobil sewaan untuk mengangkut barang pindahan yang akan dikirim ke Indonesia yang dikendarai oleh Pak Razwan (danke sehr Pak Razwan atas bantuannya) kemudian Pak Hendarko dan saya. Tujuan akhirnya sih ke Hamburg, karena kontainer memang udah nangkring di Hamburg, namun karena salah seorang teman juga akan kirim barang dari Magdeburg, maka kita samperin sekalian baru berangkat ke Hamburg. Nah, perjalanan di tengah malam menuju hamburg yang diiringi rasa kantuk kita selingi dengan bercengkrama ria biar rasa jenuh dan kantuk hilang. Setelah lama dalam perjalanan yang lebih dari 3 jam, terlihat jarak menuju Hamburg 30 km lagi berarti kalau kecepatan 120 km/jam maka perjalanan tinggal 15 menit kurang lebih. Saking senangnya kali yee, soalnya hampir nyampe tujuan...namun pada saat melewati persimpangan di autobahn (jalan tol) yang seharusnya ke kiri terus, eeehhh ternyata pak Razwan langsung banting stir ke kanan. Karena jalan tol yang nggak bisa mundur lagi, akhirnya kita terus jalan aja sambil mencari tempat istirahat sekalian tanya sama orang jalan lain menuju Hamburg. Alhasil jalan yang dikira salah tersebut, ternyata itulah yang benar...sambil tersenyum girang pak Razwan bilang, " kita tersesat ke jalan yang benar". Coba bayangkan kalau kita menuju arah ke kiri seperti yang dikira, malahan akan tersesat. Alhamdulillah perjalanan malam itu lancaaaarrr...! Intinya kalau kita itu lagi tersesat, nggak usah panik lho ya,..he..he..!!!

Dienstag, April 20, 2004

Serupa tapi tak sama

Kalau Dzakiyyah di lihatin fotonya waktu kecil dia akan bilang “adek Fatul....adek Fatul....“, maksudnya adek Fathur. Dia nggak tahu, padahal itu kan fotonya sendiri. Sepintas memang wajah mereka berdua mirip banget di waktu kecilnya. Foto di bawah ini pada saat mereka masing2 berumur sekitar 7 bulanan. Nah...!! Coba tebak mana yang adek Fathur dan mana yang ayuk Dzakiyyah…he..he..!!


Samstag, April 17, 2004

Tulang ikan yang menyebalkan

Akhir tahun kemaren ada pengalaman sedikit menggelitik. Tersebutlah kisah (kayak mau mendogeng aja yaaa..), gulai ikan yang enak buatan istri yang baru belanja di Asianshop. Harga ikan enak tersebut sekitar 4 euro sekilo. Sambil sedikit bersila di atas kursi dengan lahapnya kita makan ikan gule yang ueenak tersebut. Saking asyiknya makan tanpa terasa ludes lah nasi yang cukup banyak dimasak tadi, maklum gule ikan...!

Nggak lama setelah makan, terasa dikerongkongan ada yang nyangkut. Tanpa mencari alasan lain, tertuduhlah tulang ikan tersebut yang nyangkut . Dilihat dikaca yaa nggak kelihatan, di bawa minum banyak...masih terasa ada yang nyangkut. Diambillah pisang dan ditelan tanpa dikunyah dengan harapan tulang ikan itu masuk ke perut. Hasilnya? Teteeeppp nyangkut!!. Jadi teringat pesan orang tua2, kalau ada tulang yang nyangkut dikerongkongan maka pukul pundak! Tapi itu nggak jadi dilaksanakan, takut nambah penyakit aja ntar leher yang jadi bengkok….ya nggak?

Sehari berlalu tulang ikan masih terasa. Kayaknya sih kecil, tapi yang namanya ada barang nyangkut susah kan? Sudahlah nggak enak makan dan minum, sedikit banyak menganggu aktivitas kerja juga. Setelah konsultasi sama istri, akhirnya diputuskan untuk pergi ke dokter. Tentunya ke dokter Hals-, Nasen-, Ohrenheilkunde (HNO) atau THT kalau di Indonesia. Kebetulan akhir tahun jadi susah mencari dokter karena kebanyakan urlaub/libur. Setelah dicari di gelbeseiten/buku kuning ditemukanlah salah seorang dokter HNO yang masih buka. Akhirnya baru esok harinya janji mau berobat.

Di tengah turunnya salju dan cuaca dingin yang menusuk tubuh pergilah menuju alamat dokter tersebut. Setelah giliran untuk diperiksa, saya ceritakan “tragedi“ tulang ikan tersebut. Lalu dengan dibantu seorang perawat dokter menyemprotkan entah obat apa hingga membuat mulut menjadi kering dan kaku,kemudian saya kembali disuruh menunggu. Saya pikir ini obat apa ya?? Kok tega banget itu dokter nyemprot sehingga mulut jadi kaku begini ? Ok lah, bisik hati saya yang penting cepat sembuh biar tulang hilang secepat mungkin. Sekitar 10 menit kemudian kembali dipanggil. Dengan peralatan lengkap kayak sendok dan garpu serta besi2 lainnya dilengkapi dengan lampu senter yang menempel dikening, kembali disuruh buka mulut dan dia mengamati ada apa dikerongkongan sana. Menit berlalu, mulut udah capek dibuka melulu lalu dengan wajah sedikit mengkerut dokter bilang, keine..keine aber gefaehrlich (ngga ada..ngga ada cuma berbahaya), terus dia menyarankan langsung pergi ke rumah sakit. Dengan cepat dia membuatkan resep/pengantar untuk segera ke rumah sakit karena katanya takut infeksi dan musti dikeluarkan segera.

Dengan lunglai dan perasaan sedikit ciut saya pun berlalu dari dokter tersebut dan langsung menuju rumah sakit yang berjarak sekitar 20 menit. Masih terbayang ucapan dokter tersebut, gefaehrlich... gefaehrlich..!! Setelah bertanya ke informasi di klinikum (rumah sakit) pemerintah tersebut akhirnya saya bertemu dengan dokter HNO. Saya ceritakan lagi apa yang terjadi dan sambil menunjukkan surat pengantar. Lalu dia mempersiapkan alat2 sedikit lebih canggih, cuma intinya tetap ngintip ada apa yang nyangkut dikerongkongan. Walhasil.....sama saja, dia bilang ngga ada. Terus dia memberi resep lagi, katanya bawa resep ini besok pagi, nanti kita akan periksa lagi dengan alat yang lebih canggih. Itu sih kalau anda mau, katanya. Dalam hati saya, sudahlah capek2 ngejar kesini sama juga hasilnya. Cuma yaa...karena rasa penasaran tadi, akhirnya kudatangi juga.

Dengan langkah gontai saya pulang dan menuju halte bus. Sambil memikirkan apa besok kembali kesitu atau tidak? Ditengah perjalanan saya telpon istri biar dia nggak kuatir pulang terlambat.

Setelah dipikir semalam, diputuskan nggak usah kembali ke klinikum, namun resep tersebut masih disimpan sampai kerongkongan terasa sembuh. Nah sekitar 2 hari berlalu....rasa nyangkut tersebut sudah nggak ada lagi, alias sembuh sendiri.....Wah senangnya bukan main, alhamdulillah. Sudah mau beli ikan lagi…he..he…nggak kapok!!enak sih..
Dua minggu kemudian datanglah rekening tagihan dari dokter tersebut, dokter pertama sekitar 70 euro dan dari klinikum sekitar 40 euro, jadilah total 110 euro hanya untuk ‘intip-mengintip’ kerongkongan doank, sementara tulangnya sudah hilang dengan sendirinya……! Syukur saja semuanya dibayar asuransi. Jadi pingin gule ikan lagi nih!!!siapa mauuu..??!!

Donnerstag, April 08, 2004

Cerita seputar nama panggilan

Nama panggilan ini terkadang sepele, bisa pula agak sepele, atau serius bahkan sampai derajat sangat serius. Saya teringat waktu dulu KKN, kuliah kerja nyata (bulan kanak-kanak nakal lho...) sepanjang jalan kita selalu dipanggil acep/cecep, karena lokasi KKN kita didaerah Garut. Sambil sedikit menunduk sebagai tanda hormat mereka menyapa kita dengan ramah, menurut pandangan saya sangat ramah. Karena begitulah adat kebiasaan mereka menghormati tamu/seseorang. Dan suatu kali saya pernah juga di panggil ujang sama seorang ibu dipinggir jalan sewaktu saya kuliah lapangan di daerah Banten.

Padahal kalau di rumah saya dipanggil abang, bang Iron itu panggilan untuk anak lelaki. Dan kalau saudara perempuan di panggil kakak. Sementara itu panggilan kakak diperuntukkan memanggil saudara laki2 dilingkungan keluarga istri saya karena dia dari Palembang. Sedangkan panggilan saudara perempuan adalah ayuk. Lain pula di Jawa, biasanya dipanggil Mas dan Mbak. Saking banyaknya cara dan ragam panggilan terkadang kita bisa ngga menoleh, kalau seseorang memanggil kita karena nama panggilan tersebut ngga familiar dengan telingga kita. Istilahnya, dimana kita berada disitu ada sebuah nama.....(maksudnya nama panggilan).

Lalu apa panggilan seseorang kalau di Jerman? Biasanya secara formal orang yang belum kenal dipanggil Herr (untuk laki2) dan Frau (untuk pr). Sebagai contoh Herr Rosyadi. Nah kenapa tidak Herr Imron? Di panggil Herr Rosyadi karena mereka selalu memanggil seseorang yang baru kenal atau di acara yang sifatnya resmi dengan nama family. Jadi kalau ada seseorang namanya Buku Tulis, dipanggil lah dia Herr Tulis. Kalau dijalan gimana? Karena pasti kita ngga taukan nama orang padahal kita mau bertanya (terumata kalau tersesat). Panggilan umumnya adalah Sie, artinya kurang lebih anda. Makanya pelajaran awal bhs Jerman selalu dengan kalimat: Wie heissen Sie (Siapa nama anda?), Woher kommen Sie (Dari mana anda datang?).

Kalau kita sudah kenal akrab dengan seseorang ngga kan pernah lagi dipanggil Sie, secara otomatis (kayak mesin aja..he..he..) akan dipanggil du. Artinya juga anda, atau bisa kamu, ente, loe. Sifatnya informal atau lebih dekeeet. Dan satu lagi saya takkan dipanggil lagi Herr Rosyadi atau Rosyadi, biasanya akan dipanggil nama awal, Imron. Panggilan ini juga bisa juga menjadikan indikator apakah kita sudah dianggap kolega dekat atau blon? (kadang2).

Lucunya juga, jika professor kita telah memanggil kita du dan nama awal, terus kita panggil dia apa? Ini agak susah juga. Karena yang namanya kita dari timur rasa2nya ngga sopan manggil dia dengan du atau nama awal, walaupun itu lumrah bagi mereka. Salah satu strategi berbincang, yaa ...hindari kalimat yang memakai kata Sie atau du..he..he...Cara ini mungkin banyak dipakai. Karena susah2 gampang, dipanggil Sie takut dibilang ngga akrab dan dipanggil du takut dibilang sok akrab. Atau bilang saja sekalian mein professor, alles klar....!!

Dulu pernah teman saya yang notabenenya seorang bapak dosen yang sedang menjadi mahasiswa doktor. Dia mengikuti kursus bahasa Jerman di Goethe-Institut. Suatu saat dia mau bertanya sama gurunya yang kebetulan perempuan. Dia dengan santainya memanggil Meine Lehrerin (artinya kurang lebih Ibu guruku). Spontan saja teman kursus lainnya ketawa, karena bagi mereka lucu. Karena biasanya kita cukup panggil nama saja, Gabriella dsb. Akhirnya teman saya menjelaskan, bahwa kalo di Indonesia kita manggil pengajar dengan panggilan Ibu guru atau Bapak guru. Nah susahkan merobah kebiasaan ini.....??? Karena sejak dari es de, es em pe, es em a sampai kuliah kita selalu memanggil dengan sebutan Ibu/Bapak Guru/Dosen.

Sonntag, April 04, 2004

Bahrain Formel1



1. Michael Schumacher[Ferrari]
2. Rubens Barrichello [Ferrari]
3. Jenson Button [BAR-Honda]
Sumber foto: RTL

Besok pemilu

Besok mau pemilu
Jangan gunakan hati nuraini untuk nyoblos
tapi gunakan paku yang sudah disediakan panitia..he..he..,
kalo pilihan?
jelas menggunakan hati nurani bukan hati nuraini.
Selamat pemilu, semoga berjalan lancar
Dan menghasilkan pemerintahan yang bersih

Freitag, April 02, 2004

Musim semi datang

Seminggu sudah pergantian waktu dari winter ke sommer, yang biasanya selisih waktu Jerman dan Indonesia (wib) 6 jam sekarang jadi 5 jam. Sementara suhu sudah mulai panas, hari ini mencapai 17 derajat. Jam 8 malam pun matahari masih ada, waktu siang jadi panjang. Asyyiiikk..., hari ini kita main ke fruehjahrsmesse, tempat permainan anak2. Di waktu musim dingin paling asyik main salju dan kalau musim panas enak jalan2. Apa lagi Dzakiyyah, winter senang...sommer ceria. Lihat saja foto waktu sommer tahun kemaren, senyuuummm..!



Dienstag, März 30, 2004

Cerita di hari sabtu

Seperti yang dilaporkan sebelumnya (he..he..kayak wartawan aja yaa), padahal cuma ingin menjelaskan sambungan cerita sebelumnya tentang acara perpisahan dengan tante Niknik dan selamatan anaknya Pakcik Razwan, Zahra. Ternyata tidak hanya gule kambing serta menu menarik lainnya, nasi kuning pun hadir ditengah2 undangan. Sudah lama ngga makan nasi kuning, akhirnya makan juga. Tentunya ada fotonya...selamat menikmati!



Ini adalah keluarga Rosyadi (Ayahnya anak2 lagi ngambil foto, kelihatan ngga?), sedangkan bayi cantik itu adalah Zahra anaknya Pakcik Razwan.



Inilah wajah2 yang lagi hajatan, dari kiri ke kanan terus mutar lagi ke kanan (bingung....) istrinya Pakcik Razwan, Pak Razwan, Eceu Musni (yang bikin nasi kuning) dan tante Niknik.



Foto yang satu ini adalah salah seorang warga merangkap relawan yang sedang mensosialisasikan pemilu kepada undangan. Acaranya jadi komplit, kan? Tanpa di bayar dan tanpa disuruh, Pak Hendarko yang merupakan salah seorang aktivis partai dakwah ini yang juga merupakan Partai Kesayangan Saya, dengan serius menjelaskan cara mengisi surat suara melalui pos tentunya. Terima kasih Pak Hendarko!


Freitag, März 26, 2004

Guten apetit! vs Mangga di leut!

Setengah jam menjelang pergantian hari mata belum juga terpejam. Disamping masih berkutat dengan pekerjaan rumah yang harus selesai hari senen ini, juga sedang menungguin mamanya Dzakiyyah&Fathur masak gehu. Karena besok ada party perpisahan dengan tante Niknik yang akan pulang ke Indonesia (abschied party) dan juga sekalian akikahnya anaknya Pakcik Razwan, "budak Malaysia". Menurut gosip sementara, makanan besok salah satu menu utamanya kambing guling...ehm nyam..nyam. Acara ini tentu tidak akan diikuti oleh kampanye partai,..lho kok (ngga nyambung ceritanya he..he..). Maklum sedang hangat2nya kampanye di Indonesia, jadi latah.

Kulturschock, satu judul surat dari salah satu milis yang saya ikuti. Isinya sih menanyakan adat istiadat di Jerman, karena dia baru saja beberapa bulan nge-kost di Jerman. Nah, teringat Kulturschock ini dan juga disaat menghirup wanginya gehu yang belum digoreng saya teringat sedikit tips tentang kebiasaan orang Jerman bila sedang makan. Kebiasaan yang bagi saya tidak biasa ini sempat juga membuat schock pada awalnya.

Kalau kita duduk dikantin sesama rekan kerja atau mahasiswa, biasanya mereka tidak akan basa-basi seperti ala di Indonesia malahan terjadi sebaliknya. Kalau ada teman kita yang sedang makan, kita biasanya akan mengucapkan Guten apetit! atau selamat makan, Enjoy your meal! (bhs Inggris), bon appétit (bhs Prancis). Aneh kan? Padahal kalau di Indonesia justru yang makan yang nawarin. Biasanya kalau sudah duduk di kantin atau yang suka nangkring di kedai kopi dan tiba2 ada teman yang lewat, langsung kita panggil " Hai Jo makan yuuuk!" Dan juga kalau kita nawarin tamu teringat kalau di Sunda mah pake bahasa "Mangga di leut!", itu pun sampai berkali-kali.

Dulu saya pikir, kok sudah teman dekat (bule) ngga pernah basa-basi dikit pun. Akhirnya saya tahu, ya itu tadi...justru kita yang melihat orang makan bilang "Guten apetit!". Asyiik besok kita bakalan party...guten apetit!...guten apetit! Wah hampir lupa, ada foto gehu yang sudah digoreng, ada yang mau? Mangga di leut sadayana!!!



Freitag, März 19, 2004

Mediamarkt

Minimal sekali sebulan Dzakiyyah dan Fathur diajak jalan-jalan ke Mediamarkt. Kalau udara cerah bisa tiap minggu main kesana. Mediamarkt ini adalah salah satu toko elektronik terbesar dan hampir selalu ada disetiap penjuru kota Jerman. Tentunya segala peralatan elektonik keluaran terbaru ada disini.



Dzakiyyah senang banget kalau sudah diajak main kesini, bisa nyobain laptop yang beraneka ragam modelnya atau game2 versi terbaru juga CD lagu. Kalau sudah capek coba-mencoba segala sesuatunya di kedua lantai supermaket ini, biasanya Dzakiyyah dan Fathur dengarin musik dulu sebelum pulang. Mendengarkan lagu anak2 kesukaan mereka.


Donnerstag, März 18, 2004

Ayahanda dan Ibunda.....

Pagi ini sejam lebih awal bangun dari biasanya, langsung diikuti oleh istri serta si kecil Dzakiyyah dan Fathur. Setelah sholat subuh saya kembali menggolerkan badan ke peraduan, namun ngga bisa tidur kembali. Pikiran teringat pada Ayanda yang hari ini menurut keluarga akan operasi kelenjar prostat. Yang menurut sebagian orang ini hanya merupakan “operasi kecil”, namun perasaan dan pikiran tetap tertuju ke Ayahanda yang jauh disana. Terbayang juga wajah Ibunda yang selalu setia menemaninya, bersama abang serta adek-adek tercinta.

Kehadapan Ayahanda dan Ibunda..., begitulah saya selalu menuliskan panggilan kesayangan buat mereka tatkala mengirim surat dari dulu, sejak mulai memasuki dunia perantauan. Padahal kalau berjumpa sehari-hari panggilan beliau adalah Bapak dan Omak. Ayahanda dan Ibunda merupakan ungkapan rasa rindu yang mendalam dan digoreskan dalam lembaran surat. Dan biasanya surat akan diakhiri dengan kalimat “sembah sujud ananda”. Biasanya kalau saya pulang yang biasanya sekali setahun (lebaran) Ayahanda akan memperlihatkan surat-surat yang pernah saya tulis, mulai dari awal dan yang terakhir. Suatu penyimpanan yang rapi. Dan saya biasanya kembali membaca surat2 tersebut, sambil terkadang tersenyum sendiri melihat apa yang telah ditulis.

Nah, pagi ini Ayahanda mau dioperasi. Ingin rasanya saya berada ditengah-tengah mereka. Menemani, menghibur, memeluk serta menyenangkan hati Ibunda yang sangat “kalut” pada saat seperti ini. Kalau Ayahanda, saya tahu betul dia akan tegar menghadapinya. Paling dia akan memanggil, “Iron! tolong dipijatin kaki Bapak yaa!”. Begitu biasanya Bapak memanggil saya, Iron dan bukan Imron, mungkin biar simple. Sekarang saya tidak bisa menemani dan tak bisa memijatin kaki Ayahanda yang pasti pegal setelah menjalani operasi.

Setengah jam berlalu, akhirnya saya telpon ke HP Irwan, salah seorang adek saya. Ternyata Allah mengabulkan doa kami, operasi alhamdulillah berjalan lancar. HP pun diberikan kepada Ayahanda yang suaranya sedikit tertahan, mungkin karena capek atau lemas setelah dibius. Waktu saya telpon, operasi baru saja selesai dan Ayahanda belum dibawa ke kamar di rumah sakit. Hanya sempat beberapa saat berbicara dengan Ayahanda, juga Ibunda yang kedengaran suaranya sedikit serak, dikarenakan mereka harus bergegas mengikuti perawat yang membawa Bapak menuju ke kamar.

Doa tulus kami; Ya Allah, semoga Ayahanda kami cepat sembuh dan kembali pulang ke rumah. Semoga Ibunda selalu tabah dan tegar menghadapi semua cobaan ini.

Sembah sujud Ananda & Cucunda
Braunschweig-Jerman

Mittwoch, März 17, 2004

"Molorlah" berjanji dan "ingkari"

Berjanji ini adalah pekerjaan gampang2 susah, dibilang gampang sebab bisa dalam hitungan detik terucap dan bila dibilang susah bisa ngacak2 buka agenda untuk mengatakannya. Susah juga saya membuat judul untuk tema janji ini, akhirnya keluar judul diatas.

Sering saya berjanji dengan kolega disini dan hampir tidak ada mereka telat atau mengingkarinya, baik itu janji untuk diskusi atau pun hanya sekedar bertanya sesuatu. Pernah saya (berkali2 malah) mendatangi teknisi komputer disebelah ruangan kerja saya dan menanyakan sesuatu. Ok, katanya besok pagi akan saya jawab. Mungkin kalau kita baru pertama kenal dengan sifat orang Jerman akan kaget. Kok nanya gitu saja sampai besok pagi. Dengan melapangkan dada saya masuk ruangan. Dan ternyata 15 minute kemudian dia menjelaskan apa yang saya tanyakan, ngga perlu sampi besok pagi rupanya. Ada juga kasus yang lain, dimana saya menanyakan harga laptop pada waktu itu dengen merek Satellite 1900-102 (online price) kepada salah seorang teman. Ok, ntar besok saya kasih tahu, katanya. Penyelesaiannya kurang lebih sama, sekitar 20 minute kemudian dia masuk keruangan saya lengkap dengan hasil print-out apa yang saya minta. Lain pula kalau berjanji dengan pemerintahan, sebagai contoh immigration office, sering saya alami. Sebulan yang lalu saya mengurus sebuah document. Dan setelah konsultasi, mereka bilang akan kita kirimkan ke alamat anda dalam jangka waktu 6 minggu. Pernyataan ini juga tertera dalam kertas pengumuman. Hanya berselang waktu 3 minggu surat yang saya minta tersebut sudah sampai ke tangan.

Kasus ini hampir saya temukan selalu, sehingga dalam pikiran saya berjanji itu lebih baik "dimolorkan". Dalam artian pikirkan keadaan yang paling lambat dari kemampuan kita. Hal ini juga akan mengurangi stress kita, jika kita yang telah berjanji padahal itu diluar kemampuan. Btw, "ingkari janji" tersebut dalam artian positif, yakni kerjakan atau selesaikan dalam waktu yang sesingkat2nya. Nah, dari sisi lain kita juga telah memberikan kejutan kepada orang lain dengan waktu yang lebih awal kita selesaikan. Sempat pula minum kopi dahulu..he..he..

Lain lubuk lain pula ikannya (ini sih pepatah). Kebanyakan kita (mungkin juga saya) biasanya berjanji ala calo. Besok bapak bias ambil dech!! Pas besoknya, kita bilang, wah sorry deh pak, habis yang menandatangai surat ini ngga datang lagi cuti. Coba ntar sore datang lagi. Atau ada nomor HP bapak yang bisa saya hubungi? Nanti kalau sudah selesai saya HP bapak. Ternyata dia nelpon seminggu kemudian. Wah jadi berabe kalo berjanji kayak ginian!!!

Montag, März 15, 2004

Beranda rumah kita

Banyak yang membedakan antara hidup di Indonesia tanah kelahiran dengan tinggal diluar negeri, seperti Jerman yang saya alami. Dari sekian banyak perbedaan, beranda menjadi tofik menarik untuk dibahas pada kesempatan ini. Ada apa dengan beranda?

Pengertian beranda itu kurang lebih adalah pelataran depan rumah yang berfungsi sebagai awal masuknya ke sebuah rumah sebelum pintu. Jadi kalau kita akan memasuki rumah seseorang terlebih dahulu akan melalui pagar (jika dipagar)--halaman--beranda--pintu--ruang tamu dst. Itu kondisi umum yang kita temui dalam konteks pe-rumah-an di Indonesia.

Konsidi ini tidak saya temui saat pertama kali menginjakkan kaki di Jerman ini. Rumah orang kebanyakan adalah appartment yang tentunya takkan pernah ada dilengkapi dengan beranda, apa lagi pagar dan halaman. Milik kita hanya mulai dari pintu dst. Terkadang rindu akan keberadaan beranda rumah ini menginggatkan keluarga dirumah. Karena biasanya setiap sore, beranda menjadi ajang dan tempat bercengkrama sesama anggota keluarga dan juga tetangga, bahkan tamu sekalipun. Makanya tatkala saya mengenal Beranda rumah kita pertama kali di dunia maya, dengan headernya lengkap dengan gambar beranda yang sesungguhnya, jadi betah bertandang kesana. Suasana keakrapan sudah terasa saat klik menuju kesana, montreal Canada tempatnya. Banyak yang dapat kita temui dan baca disana dan dilengkapi lagi dengan kehadiran BloggerFamily yang merupakan ajang diskusi mengenai berbagai topik, iya itu dunia per-blog-an, dunia anak2, dunia masak-memasak, tempat jualan bahkan ada juga tempat untuk sekedar curhat. Lengkaplah sudah, sekarang blogger family menurut laporan Maknyak sudah berumur 4 bulan.

Nah, rasa rindu akan keberadaan beranda ini sedikit banyak akan terobati dengan kehadiran BerandaRumahKita dan BloggerFamily ini. Walau itu hanya didunia maya, selamat Maknyak dan kru BloggerFamily...!

500 rupiah

Tiga hari yang lalu teman saya diledekin sama koleganya. Laptop dia diinstall-in program adobe oleh temannya tersebut. Pas sudah selesai diinstall, teman saya bilang "danke sehr". Koleganya bilang "Yaa, aber du must bezahlen"; Kamu harus bayar 500 rupiah, karena program ini saya beli 500 euro. Teman saya ngakak mendengar 500 rupiah, "benar nih...saya langsung bayar kontan", katanya. Mungkin kolega teman saya tadi ngga tahu berapa harganya 500 rupiah, padahal kan hanya seharga 5 cent euro. Alamak...!!!

Freitag, März 12, 2004

Ueberweisung

Hari yang cukup cerah, suhu sekitar 7 derajat, tak ada hujan dan tak ada salju. Biasanya cuaca begini menandakan akan berakhirnya musim dingin dan menjelang musim sommer yang sebelumnya akan dihiasi dengan musim semi yang indah dengan bunga2nya dimana2. Dari beberapa aktivitas hari ini, ada satu yang menarik untuk ditulis diblogger ini, yakni ueberweisung.

Kemaren sore saya dapat paket dari teman saya (senior) yang barusan telah menjadi doktor baru dibidang pertanian juga, khususnya budidaya pertanian. Dia memperoleh gelar doktor (Dr. sc.agr.) dengan mempertahankan disertasinya dengan judul "Cultivation status and genetic diversity of yam been (Pachyrhizus erosus (L.) Urban) in Indonesia", bahasa kerennya yaa..sekitar per-bengkuang-an di Indonesia. Ujiannya dilaksanakan Februar 2004 di Uni goettingen tepatnya Fakultaet fuer Agrarwissenschaften. Ok deh, selamat sekali lagi buat Kang Agung Karuniawan dengan titel barunya ini, semoga makin memajukan dunia perbengkuangan kita.

Alih cerita, saya hari ini mau bantuin legalisir ijazah yang dipaketkannya itu di Regierung atau dipemerintahan yang kebetulan adanya dikota saya. Nah, pagi sekitar jam 09.30 saya menuju gedung pemerintah yang telah ditulis alamatnya dengan jelas, dan sebelumnya saya lihat dulu di internet lokasinya sebelah mana, eh..ternyata pas didepan citibank. Gedung tua, tinggi dan terletak dipersimpangan jalan utama kota. Kalau ngga salah Dzakiyyah dan Fathur sudah pernah berfoto ria disebelah gedung ini. Saya sampai keliling mencari pintu utamanya karena pintunya ada setiap sudut dan besar2 banget pintunya. Setelah mutar satu keliling, dengan yakin bin yakin masuklah ke salah satu pintu besar. Melangkah kedalam juga ngga ada seorangpun orang yang kelihatan, dalam hati saya pikir ini kantor atau gedung doang.

Terbayang kalau di Indonesia, kalau ada kantor pemerintahan dan apa lagi tempat urusan surat menyurat, sejak dari halte sudah ada yang menyapa ramah dan tersenyum "pagi pak!", "ada urusan apa pak", "bisa saya bantu", ramah dan ramah. Cuma jangan salah, bisa2 itu calo yang menawarkan jasa. Nah balik ke cerita diatas, setelah ngga ketemu satu orang pun pegawai, saya ketok saja salah satu pintu "guten tag!", saya masuk sedikit dan menjelaskan mau ketemu frau yang ngurus legalisir ijazah. Dengan sopan pegawai yang tadinya sibuk telpon2an mencari data frau tersebut dikomputer dan setelah itu langsung menuliskan ruangan bagian urusan itu, wow serba online. Dia menunjukkan kurang lebih dimana letak ruangan tersebut, dilantai 3. Setelah ketemu ruangannya, wah ada tulisan harus ke ruangan sebelahnya. Berjalan menuju ruangan sebelah, ketok dan masuk. Ketemulah saya dengan pegawai pemerintahan yang berdasi rapi plus dasi sedang duduk didepan komputer, dan sebelah kanannya ada kopi masih panas, ngebul. Kebayang gimana enaknya minum kopi itu, dasar lagi haus kali yee.

Saya utarakan maksud kedatangan, walau dia kelihatannya sudah tahu. Menit2 dia bekerja, saya perhatikan ruangan kerjanya, persi sama saja dengan dikita. Ada file, komputer, telepon, alat tulis dan tentunya lembaran kertas diatas meja. Nah setelah urusan hampir selesai, saya mengeluarkan uang untuk pembayaran legalisir ijazah tersebut. Karena menurut informasi dari teman saya harus bayar 15 euro perlembar, jadi totalnya 30 euro untuk 2 lembar. Dengan sopan dia menjelaskan bahwa pembayarannya ueberweisung atau tranfer lewat bank. Sambil dia memberikan lembaran tranfer dengan nomor konto dan nomor lainnya yang ditujukan konto pemerintah.

Jadi teringat tema diskusi disalah satu milis, bahwa cara tranfer atau tidak menggunakan uang kontan dalam transaksi apa lagi dilingkungan pemerintahan akan bisa menghindari praktek korupsi. Percaya atau tidak, cuma saya sangat percaya. Itulah salah satu contoh yang menarik di Jerman ini, jarang urusan dibayar dengan uang kontan (kecuali taksi kali yee).

Disamping bisa menghindari penyalahgunaan uang, cara ini juga mengurangi pekerjaan kita. Coba bayangkan, kalau selesai kerja ..masak kita harus menghitung kembali uangnya cukup apa ngga? Terus uangnya mau ditarok dimana? Toh itukan bulan uang pribadi. Enakkan cara tranfer ini!!! Nah satunya lagi, berkas yang dilegalisir sudah bisa langsung dibawa pulang tanpa harus menunjukkan bukti pembayaran. Malahan disurat keterangan yang dia berikan, bisa dibayar sampai tenggang waktu 30 hari. Tanpa menghiraukan tenggang waktu yang ada, dengan bergegas saya langsung pergi ke bank dan langsung tranfer, biar semuanya bereeeeeessss!!!

Mittwoch, März 10, 2004

Achtung! Kunci jangan ketinggalan

Minggu kemaren dan minggu ini benar2 lembur dan juga minggu depan, datang jam 7 pagi pulang jam 8 malam. Kaki jadi kepala eh kepala jadi kaki (gaya bahasanya hyperbola), biasa lah ngejar target alias borongan (emangnya project). Ngelihat blog pun harus diiwakilkan sama ibunya anak2, dan terpaksa baru sekarang bisa ngeblog. Cuma kalo jawab shoutbox masih disempatkan dijawab kalau sudah selesai makan malam, di rumah tentunya. Oh yaa, kalo ngomong2 masalah kaki dan kepala, jadi teringat waktu kecil. Dulu saya, Bapak, adek dan abang (kayak iklan toyota kijang aja..) pergi sekolah dengan jalan kaki, biasanya sih pergi pakai vespa. Nah, ada seseorang yang nanya sama Bapak," Pak guru, kok jalan kaki sih", katanya. Dengan sigap bapak menjawab "ya kan ngga bisa jalan kepala". Orang yang nanya tersebut cengar-cengir saja.

Sebenarnya banyak sih ide yang ngocor untuk dituliskan diblog ini, cuma ya itu tadi cibuuuuk. Sebagai oleh2, saya hanya cerita yang ringan2 saja tapi bukan pula tentang kerupuk. Ada pepatah tetua yang mengatakan: terhimpit mau diatas dan terkurung mau diluar, ngga tahu deh artinya apa. Kata sih mengambarkan orang "cerdik". Nah yang namanya terkurung ya ngga ada yang enak kan? Diluar kek..di dalam kek semuanya kekkek.

Pintu rumah atau appartment di Jerman yang saya temui termasuk aneh dan belum pernah saya temui sebelumnya, atau bisa saja saya memang baru tahu. Sistem perkuncian alias perpintuan ini, kalau pintu ditutup otomatis ngga bisa lagi dibuka dari luar (terkunci), jadi musti dibuka dengan kunci. Kalo dari dalam tentu bisa dooong dibuka. Nah apa yang terjadi kalau kita keluar lalu tutup pintu..., terus kunci lupa dibawa? Kalo disini bisa berabe, alias terkurung diluar tadi. Makanya sewaktu kita baru nyampe di Jerman didepan pintu dituliskan Achtung! Kunci jangan ketinggalan. Kalau di Indo si gampang, bisa panjat dinding, bisa lewat jendela atau jurus terakhir dobrak. Itu pun jarang terjadi karena pintu tidak otomatis terkunci. Ada pengalaman tetangga yang terkurung diluar ini. Dua cerita ini adalah keluarga yang baru nyampe dari Indo dan belum tahu dengan perkuncian ini. Pertama sih ngga terlalu berabe, karena pintu terkunci dan ngga bisa masuk, nah kebetulan ada tetangga orang Indo juga dan kunci doublenya dibawah sama saudaranya. Otomatis tinggal nunggu saja, walaupun beberapa jam. Nah cerita yang kedua, sedikit panic dech! Pintu terkunci, dan anak ketinggalan didalam. Satu jam kemudian baru bisa dibuka karena menunggu salah seorang anggota keluarga pulang dari kerja. Nah, oleh sebab itu hati2 kunci jangan sampai ketinggalan........!!! Kalau perlu gantung dileher, cuma trendy kok gantung dileher...

Dienstag, März 02, 2004

Wissenschaftliche Beirat

Pernah baca dongeng bahasa Jerman? Hampir semua dongeng didahului dengan kalimat; Es war einmal.......dst, ini sama juga dengan dongeng dalam bahasa Indonesia yang selalu diantarkan dengan kalimat; Konon khabarnya disebuah desa....dst. But, sekarang saya memulai tulisan ini bukan dengan es war einmal, berarti bukan dongeng kan? (bisa aja yaa..!?). Pengalaman ini adalah sambungan dua cerita sebelumnya mengenai ketok meja. Nah, sore sekitar pukul 17.30 sore kembali menuju Institute setelah menghadiri acara disputation. Sekitar 20 minute dengan bus nomor 433, cuaca diluar dingin karena salju masih turun. Kalau bukan karena salah seorang professor saya nelpon untuk datang dalam acara dinner, mungkin saya ngga kan datang. Tapi berhubung dia telpon, yaa ngga enakkan ngga datang. Padahal biasanya pulang dari institut jam seginian, atau paling telat jam 19.00. Nah kalau acara dinner dimulai jam 18.30-selesai?? (ngga tahu kan). Ok lah.....tancap saja datang!!. Sesampainya diinstitut, Flur atau hall yang tadinya leer/kosong ternyata sudah disulap menjadi "restaurant kilat". Sambil lewat menuju ruangan kerja saya lihat banyak banget makanan (dasar mata kali yeee). Melihat persiapan ini, kayaknya bukan sembarangan acara dinner malam ini. Terus saya baca lagi undangan via imel dengan subjek Wissenschaftliche Beirat, apa yaaa? Penasaran juga ..benar2 penasaran....!!

Tepat jam 18.30 saya perlahan menuju "restaurant kilat", dan ternyata sudah banyak tetamu yang datang, dan hampir separohnya wajah baru yang belum pernah saya lihat batang hidungnya. Cuma lihat dari gayanya...ehmm ini gaya2 tukang seminar atau professor. Sudah menjadi adat istiadat setiap acara, pertamanya adalah begruessung atau kata sambutan (address of welcome). Malam ini seorang yang kelihatannya lebih muda dari yang lainnya dan berpenampilan necis membuka kata perkenalan; wer, woher, warum, wie dll...(standar aja kan?). Dan selanjutnya dia memperkenalkan belasan anggota rombongan lainnya satu persatu sambil mereka yang disebut namanya berdiri, dan tak lupa bidang keahlian masing2. Begruessung dari tamu selesai, serentak meja diketuk..tok..tok..tok...(nah tradisi ketok meja lagi kan?) sebagai apresiasi buat pembuka acara tadi. Dan selanjutnya Leiter/chief institut saya memberikan kata sambutan sebagai balasan dari tamu tadi. Dia juga menjelaskan "sangat jelas" semua nama kita (sekitar 20 orang), dari mana, bidang penelitian apa. Tentunya saya juga berdiri saat nama Imron Rosyadi diperkenalkan, sama dengan saat nama lain disebutkan..mata memandang kepada saya jadi grogi juga, cuma ngga sampai pingsan kok...he..he..

Ternyata rombongan itu adalah Wissenschaftliche Beirat dari kementrian pertanian Jerman BMVEL yang sedang mengadakan kunjungan kerja selama dua hari di FAL. Mereka mendiskusikan atau mencari masukan mengenai sektor pertanian aktuel dengan professor2 dilingkungan FAL. Belasan wajah2 tersebut adalah professor pilihan semua bidang pertanian terkait dari universitas terkemuka di seluruh Jerman, dimana mereka itu adalah advisory committee untuk menteri pertanian. Alamak..., kaget juga saya. Alhamdulillilah saya datang, minimal bisa ketemu pejabat dan juga professor yang menurut pandangan saya berpenampilan sederhana dan dengan santai mereka juga bisa berbincang2 dengan yang bukan professor, saya sebagai contoh. Kebetulan yang duduk disamping saya adalah ahli dibidang marine toxicology, dia bercerita tentang minyak kelapa sawit dari Indonesia dan Malaysia yang sedang didiskusikan tentang efek pencemarannya, karena dibawa pakai tangker. Katanya sih mau ada pajaknya juga kayak minyak mentah und bla..bla...(sensor). Point lainnya yang saya lihat adalah mereka aktif mendatangi institusi terkait/lembaga penelitian untuk menggali hal2 yang baru. Dan profesional. Wah saya ngga bakalan bisa dinner dan bincang2 dengan "penasehat mentri" kalo di Indonesia. Why???

Freitag, Februar 27, 2004

Sambungan tiga kali ketok meja

Cerita ini adalah sambungan dari cerita dua hari yang lalu dengan tiga acara yang berkesan yang saya lewati dalam sehari yang kebetulan hari itu salju masih turun, yaa lumayan tebal dan tentunya dinggin banget. Ketok pertama, adalah seminar kecil walau persiapannya sedikit dadakan, karena kebetulan ada gast datang berkunjung ke Institute. Gast inilah yang memberikan seminar. Saya perhatikan, rasa2nya pernah melihat professor ini sebelumnya, benar!! Ternyata dia adalah Prof. Dr. Dr. H. c. W. Werner dari Uni Bonn yang merupakan salah seorang pakar dibidang soil science terutama phosphate yang juga merupakan tema disertasi yang saya tekuni. Senang banget, sudah dua kali bertatap muka dengan professor ini. Akhirnya saya minta bahan seminarnya serta mohon kirimkan bahan2 tentang tema penelitian saya yang berbahasa inggris, semua ini atas bantuan pembimbing saya, Prof. J. Rogasik, danke sehr.... Ketok yang kedua adalah disputation dari saudari N. Nurhayati di Institut fuer Pharmazeutische Biologie, TU Braunschweig. Wah kalo temanya mengenai gene, scattered occurrence of PAs, synthesize PAs, HSS, enzyme of PA biosynthesis, evolution of HSS in angiosperms...de.el..el wah susah bageet bagi saya, dari dulu pusing kalau belajar ini. Alhamdulillah hasil yang dia peroleh sangat bagus, akhirnya bukan ketok meja lagi oleh Publikum, tepuk tangan pun bergema sebagai appresiasi buat doktor muda dari BPPT ini. Tiga professor pengujinya pun bergantian bersalaman, dan salah seorang professor tidak hanya mengucapkan selamat buat dia tapi keluar juga kata Indonesia. Senang juga saya sebagai anak bangsa mendengar ucapan dan doa untuk kemajuan Indonesia, semoga dech! Tak kala serunya lagi saat hidangan ala Indonesia keluar dan bau khas menyengat memenuhi ruangan, ada gehu, martabak telor, martabak manis, sambal tentu tidak ketinggalan, lemper, dadar gulung...wah katanya sih banyak yang nanya resep makanan itu. Btw, kami sekeluarga mengucapkan selamat buat tante Niknik atas keberhasilan memperoleh gelar Dr. rer.nat, semoga ilmu yang diperoleh bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun ummat. Ketok ketiga, sudah terlalu malam juga untuk sebuah tulisan, weiter......insyaallah.

Mittwoch, Februar 25, 2004

Tiga kali ketuk meja hari ini

Susah juga musti nulis judul apa hari ini, ya akhirnya diberi judul tiga kali ketuk meja dari pada tanpa judul. Pernahkan anda nonton film di "bioskop"nya ITB ngga? Kalau yaa, pasti tahu apa yang terdengar kalau tiba2 film yang diputar tiba2 terhenti. Bunyi meja dipukul dengan alunan tak beraturan akan terdengar sampai film tersebut dilanjutkan, waah jadi teringat cara nonton ala semasa di ITB dulu..murah meriah. Nah judul ini kalau dihubung2kan ada hubungannnya juga, sebenarnya sih ngga nyambung. Ada kebiasaan atau tradisi (akademik kali yaa he..he..).. di Jerman sehabis kuliah diberikan, secara spontan student akan mengetuk meja beberapa kali dengan sebelah tangan pertanda kuliah sudah selesai. Nah ini juga berlaku kalau nara sumber seminar atau pidato dsb selesai juga diberikan apresiasi ala demikian dengan mengetokkan sebelah tangan diatas meja. Jadilah bunyi meja yang cukup beraturan..tok..tok..tok...karena ngga dipukulkan seperti seperti film putus di bioskop yang diceritakan tadi (ngga nyambungkan??). Dulu pernah ada salah seorang professor yang dari Indonesia memberikan semacam seminar kecil/perkenalan kepada kita di Uni Goettingen sekitar tahun 2001. Setelah dia memberikan kata sambutan, secara spontan kita melakukan tradisi mengetok meja...Tak lama kemudian dia ngomong lagi sambil tersenyum, dan bertanya "Tahu kah kalian mengapa kalau di Jerman sehabis kuliah mengetok meja dengan sebelah tangan? Tanpa menunggu jawaban dia menjelaskan. Karena kebanyakan student masih sibuk menulis sementara dosen sudah mengakhiri perkuliahan, jadi dipakailah tangan sebelah sebagai appresiasi dan tangan sebelah sibuk menyelesaikan tulisan. Terusnya lagi kalau ngga salah di Amerika (saya lupa) kalau dosen bilang kuliah selesai dan student menghentakkan kakinya ke lantai, mengapa? Yaa..karena kedua tangan mereka masih sibuk membereskan segala perlengkapan kuliah sementara dosen sudah selesai memberikan pelajaran. Terus dia nanya? Apa yang terjadi kalau dosen di Indonesia mengakhiri perkuliahan.......??? Semua terdiam dan sambil menunggu jawaban professor yang tergolong kocak tersebut. Apa coba..yaaa tepuk tangan!!! Dasar....!!! Karena, katanya lagi..mulai dari kuliah sampai akhir kuliah kedua tangan tidak pernah dipakai untuk mengikuti kuliah dan hanya menunggu kapan berakhirnya perkuliahan. Dan tatkala dosen bilang kuliah selesai!! Spontan semua mahasiswa tepuk tangan...., peralatan kuliah??? Yaa ngga pernah dibuka kan?? Betul juga....
Sehubungan dengan ketok meja ini ada yang menarik untuk diceritan, cuma keburu sudah malam yaa besok lagi biar agak konsentrasi. Ada dua seminar (2) dan satu dinner (1) yang menarik untuk saya ceritakan (total 3 kali ketok meja).....bis morgen oder uber morgen...

Dienstag, Februar 24, 2004

Dzakiyyah kommt in den Kindergarten

Heute, bulan baik hari baik buat Dzakiyyah, kenapa? Tepat jam sepuluh kurang seperempat Ich, meine Frau, Dzakiyyah und Fathur bersiap menuju Kindergarten yang akan menjadi tempat bermainnya mulai Senin, 1 Maerz minggu depan. Termin dengan Leiterin Kindergarten yang dibuat seminggu yang lalu jam 10, 24 Februar 04. Itu sudah tertulis di agenda harian saya. Alhamdulillah senang mendapat panggilan untuk mengunjungi Kindergarten, karena sekalian mengurus proses pendaftaran Dzakiyyah. Betapa tidak, untuk bisa masuk Kindegarten ini, kita sudah melden sejak setahun yang lalu. Namun setiap saya telpon dan terkadang datang kesana belum ada tempat dan juga umur harus ab 3 Jahr. Begitu jawaban yang selalu saya terima. Itulah Jerman, kalau peraturan begitu..ya begitu. Pernah saya bilang bahwa Dzakiyyah sudah bisa ke toilet sendiri, sudah ngga pakai pempers, dan dia sudah mau pulang ke Indonesia. Tetaaap, peraturan begitu yaa begitu!!. Nah, betapa senang Dzakiyyah, tentu juga mamanya mendengar Dzakiyyah minggu depan sudah bisa masuk TK. Saya masih teringat sewaktu interview di majalah Wissenschaft erleben, FAL, pertanyaan terakhirnya Was koennte noch besser sein? Kurang lebih artinya, apa harapan anda kedepan? Es waere schoen, wenn wir fuer unsere Tochter in der FAL oder sonst irgendwo in Braunschweig einen Kinderkrippenplatz bekommen koennten, damit sie Kontakt mit deutschen Kindern in ihrer Altersgruppe hat. Vielleicht klappt es ja in diesem Jahr: Saya pingin Dzakiyyah dapat Kinderkrippe/kindergarten und bla..bla...
Nah hari ini kita berkunjung, Frau Lindemann, Leiterinnya langsung membukakan pintu gerbang sambil tersenyum mempersilahkan kami masuk. Pertama dia menjelaskan formular isian dan perangkat formular lainnya yang perlu ditandatangani. Selanjutnya Dzakiyyah diajak mengunjungi ruangan atau bakalan gruppenya nanti, ternyata Dzakiyyah masuk blaue Gruppe. Semuanya ada 4 gruppe: blaue, gelbe, rote dan gruene. Terus ditunjukkan mana tempat gantungan baju, tempat minuman, toilet, dll. Seperempat jam berlalu selesai sudah dan kami berempat langsung pulang dengan perasaan gembira. Minggu depan Dzakiyyah sudah masuk Kindergarten.....!!! Hallo Dzakiyyah "Minggu depan bangun harus pagi-pagi yaa......!!!"

Sonntag, Februar 22, 2004

Karneval



Walau suhu antara -3 sampai 3 derajat menusuk tubuh, namun semangat untuk melihat karneval tahunan di penghujung musim dingin di kota Braunschweig tak juga surut. Selepas sholat Dzuhur berangkatlah kita jalan kaki menuju Stadt, karena jalur bus dan strassenbahn (S Bahn) dipindahkan menghindari parade Karneval. Dari pada berdesakan di S bahn dan juga jarak hanya dua halte kita berjalan disela2 rombongan penonton yang lainnya. Fathur tentunya naik kinderwagen dan Dzakiyyah lebih menikmati jalan kaki sambil sesekali melihat orang2 bertopeng atau berpakaian aneh dijalanan. Kurang lebih 15 menute, kita sudah sampai kelokasi yang akan dilalui Karneval. Sambil menunggu parade datang, kita mencari tempat yang strategi (photo-1). Photo-2, kelihatan Dzakiyyah sedang asyiik melihat anak2 yang sedang memainkan musik. Photo-3, menit2 terakhir parade karneval akan berakhir sambil Dzakiyyah menikmati jalan2 yang kadang kosong menunggu grueppe selanjutnya. Nah, apa yang kita dapatkan?? photo terakhir Dzakiyyah dan Fathur sedang melihat hasil tangkapan mereka, ada permen, ada coklat, ada buku agenda, dan juga ada boneka, asyiiik. Sudah tradisi juga, setiap rombongan yang lewat baik itu pakai mobil hias atau traktor...., mereka membagi-bagikan permen dan makanan kecil lainnya. Tentunya kita rebutan dengan penonton lainnya. Hasil tangkapan Dzakiyyah dan Fathur dibantuin sama Mama dan Ayahnya...rebutaaan...rebutaaan, sampai kantong jacke penuh. Dan sekarang mereka sedang makan permen..."Nanti gosok gigi yaaa!!!"

Dienstag, Februar 17, 2004

Senyuman hari ini

Senyuman adalah alat yang ampuh untuk menunjukkan kesenangan perasaan seseorang. Dengan seuntai senyum akan tergambar sedikit perasaan hati si-senyum-er, walau dalam jenis2 senyum ada juga yang menggambarkan ketidaksengan, senyum sinis contohnya. Mungkin pagi ini saya tidak akan menulis macam2 senyum dan pembagiannya, namun hanya menceritakan sekelumit senyum pagi ini yang sangat berarti bagi kerjaan saya selama ini. Kemaren saya memberikan draft dissertasi saya ke professor pembimbing lapangan/betreuer, yaa taroklah namanya pembimbing kedua. "Senen pagi saya berikan!", begitulah janji saya sebelumnya dengan dia. Nah, terpaksa sabtu dan minggu saya musti lembur kerja dirumah dan sedikit berbagi waktu dengan anak2 bermain. Alhamdulillah, akhir minggu berlalu...walau tidak seindah akhir minggu biasanya, yang selalu diisi dengan jalan2 ke zentrum atau spielplatz dengan keluarga. Tepat senin pagi saya berikan lembaran2 kerja tersebut ke professor. Karena dia lagi rapat, jadi saya letakkan saja dibriefkastennya (kotak surat). Lalu saya berlalu menuju ruangan..dan membayangkan kapan mau diambil itu draft sama prof. Ah.., susah2 amat mikirin...yang penting janji sudah saya tepati janji to, dan setelah rapat dia musti lihat itu kertas2 kerja saya tersebut, jawab bathin saya. Nachmittag, sekitar jam 13, ada telephon dan tertulis nama dia. Waoow, ada apa pula yang musti secepat ini musti diperbaiki, bathin saya. "Kannts du zu mir kommen?", terdengar suara dari telephon. "Ya..! Ich komme gleich...und Tschuess", jawab saya sambil menaroh gagang telphon dan sedikit pikiran berkecamuk...Sambil berlari2 kecil saya menuju ruaangannya. Alhamdulillah ternyata dia acc draft dissertasi saya (yang sudah beberapa kali sebelumnya dia koreksi) dan disuruh antarkan ke doktorvater, sebutan untuk pembimbing utama mahasiswa doktoran. Dengan senang saya berlalu dan menuju ruangan doktorvater, dan sebelumnya saya harus melalui sekretarisnya dulu yang ada 3 orang. Ok, silakan masuk katanya. Lalu saya ketok ruangannya, dan memberikan tumpukan lembaran kalau ngga salah sekitar 150pp. Sedikit basa-basi, lalu saya berlalu meninggalkan ruanggannya. Sambil bernapas lega langsung saya menuju ruangan kerja lagi, ngapai-in? Yah, tentunya isi blog dulu..he..he..(biar ngga stress). Nah, heute morgen habe ich mit Sie (die zweite prof.) getroffen....dan dia bilang, kemaren saya sudah ketemu dia (doktovater) dan dia bilang "lumayan....". Wooow, dia tersenyum senang dan saya tentunya jauh lebih senang. Disamping itu, termin untuk draft ke doktorvater sebenarnya kan akhir maerz..jauh lebih cepatkan??. Terasa pekerjaan yang bertahun2 itu ngga sia2 hanya dengan perkataan tersebut. Walau nanti mau diobrak-abrik lagi perbaikin, ngga masalah...namanya juga koreksian too..."belajar lagi aahhh!!!" Wah gara2 dibilang "lumayan" jadi gr niiih, belajarnya tambah semangaaaaat....he...he..he..