Sudah tahun ke-5 saya melaksanakan Ramadhan di German, sejak tahun 2000 M (1421 H) yang lalu. Di tahun pertama datang dan Ramadhan kali ini saya sendiri tanpa kehadiran anak2, istri dan keluarga, sedangkan 3 tahun terakhir kita bersama-sama di Braunschweig menyambut kehadiran bulan penuh barokah ini. Wah sedih juga siiih, siapa yang ngga sedih.
Suasana Ramadhan? Tak ada lantunan azan yang menggema dan beduk dari masjid yang menandakan maghrib tiba dan saatnya menyantap hidangan buka puasa. Tak ada pula rombongan orang2 serta ceria anak2 berlari menunju masjid untuk menunaikan ibadah sholat taraweh. Apalagi pemandangan pasar kaget disepanjang pasar dan jalanan yang menjajakan kolak dan makanan khas bulan puasa. Pun tak terlihat kesibukan orang2 belanja dipasar mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut lebaran Idul Fitri. Apalagi suasana berdesakan di bus, kereta, kapal dan pesawat terbang masyarakat yang mau mudik lebaran untuk bertemu keluarga tercinta. Semua ini tak terlihat, sudah lima tahun sejak saya „nyantri“ di Braunschweig ini.
Bagaimana suasana puasanya, jika sendirian? Sesekali saya lihat jadwal buka puasa dari lembaran yang dibagikan dimasjid minggu yang lalu. Sekian menit lagi, dan tak lama kemudian terdengar suara azan berkumandang dari komputer kerja yang memang sudah diinstal program azan dari IslamicFinder , danke..thanks..terima kasih, IslamicFinder. Seteguk teh panas yang sudah disediakan 5 menit yang lalu saya teguk (tentunya setelah baca doa doong!), dan makan roti yang memang selalu ada di laci kantor. Kemudian pergi menuju toilet untuk berwuduk dan kemudian membentangkan sajadah disisi meja kantor yang berukuran sekitar 5x6 m, dan terus sholat maghrib. Kemudian saya melanjutkan pekerjaan (lagi), karena memang belum lapar sampai jam 8 malam, baru pulang ke guesthouse naik sepeda sekitar 5 menit. Baru kemudian mempersiapkan makan malam, lalu melaksanakan ibadah lainnya.
Lain cerita kalau ada acara buka puasa bersama dan undangan dari sahabat. Buka puasa bersama kita laksanakan sekali seminggu bersama muslim Indonesia dan Malaysia di kota ini, setelah buka puasa kita lanjutkan dengan sholat taraweh bersama. Makanannya?...Wow banyaak banget, karena ibu2nya rajin-rajin serta bergiliran membawa makanan, tentunya „selera nusantara“. Undangan dari teman, juga sering (bangeet), alhamdulillah rasa rindu sama keluarga sedikit banyak terobati dengan kehadiran saudara2 yang sudah kayak keluarga juga. Bagi bujangan, termasuk bulog (he..he..) enak juga diundang makan, jadi ngga perlu masak. Cuma saya juga sedih juga, tak bisa mengundang teman2 kayak tahun2 lalu karena saya ngga sempat masak, sementara istrikan sedang di Indonesia. Jadi kebalik, malah sering diundang…! Selamat menjalankan ibadah puasa. Udah dulu yaa, soalnya mau pergi buka puasa di rumah Pak Hendarko, danke Pak Hendarko (nah, undangan lagi kan??).
Samstag, Oktober 23, 2004
Dienstag, Oktober 12, 2004
Marhaban ya Ramadhan 1425
Tak ada gading yang tak retak...
Ramadhan 1425 H bakal menjelang, dengan segala kerendahan hati, kami sekeluarga (Imron, Eka, Dzakiyyah dan Fathur) mohon maaf kepada saudara2ku, jika ada perkataan, tulisan dan perbuatan yang kiranya menyakiti hati saudara2ku, selama berinteraksi baik lewat internet ataupun darat. Sekali lagi mohon maaf, dan selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga amal ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT hendaknya, amien.

salaman
Ramadhan 1425 H bakal menjelang, dengan segala kerendahan hati, kami sekeluarga (Imron, Eka, Dzakiyyah dan Fathur) mohon maaf kepada saudara2ku, jika ada perkataan, tulisan dan perbuatan yang kiranya menyakiti hati saudara2ku, selama berinteraksi baik lewat internet ataupun darat. Sekali lagi mohon maaf, dan selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga amal ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT hendaknya, amien.

salaman

Sonntag, Oktober 10, 2004
Professor naik sepeda?
Beberapa minggu yang lalu saya janjian mau ketemu salah seorang professor di TU Braunschweig. Seperti biasa, sebelum bikin termin saya telpon dulu, kapan saya bisa bertemu dia. Ternyata, pas saya telpon dia sedang ngga ada diruangan, dan yang ngambil salah seorang studentnya di labour tsb. Dengan ramah dia bialang, professor sedang keluar dan tolong kasih nomor telefon anda biar dia nanti yang telefon balik. Ok, jawab saya dan saya tinggalkan nomor cuma saya pesan, telfon siang saja karena pagi ini saya ada termin lain. Prolog seperti ini selalu menjadi kebiasaan dalam membuat janji, dan waktu pertama berkenalan dengan tradisi janji-janjian di Jerman agak sungkan juga. Masak dia (professor) mau telfon balik kita. Tapi begitu lah adanya.
Setelah siangnya akhirnya kita bikin janji, saya akan ke tempat dia besoknya. Kata dia kalau dapat pagi dan mohon telfon lagi sebelumnya (kalau bisa), karena dia sedikit sibuk mempersiapkan seminar tahunan dan dia salah seorang komitenya. Karena saya belum pernah ke institutnya dia, maka saya nanyakan alamatnya, serta halte bus disana. Lalu dia menjelaskan, ternyata nama halte busnya dia ngga tahu. "Wah saya ngga hapal nama haltenya, soalnya saya ke kantor selalu naik sepeda", selanya. Profesor naik sepeda? Memang sih banyak profesor disini yang hobby naik sepeda, walau dia punya mobil. Coba kalau dikita professor naik sepeda??!!
Setelah siangnya akhirnya kita bikin janji, saya akan ke tempat dia besoknya. Kata dia kalau dapat pagi dan mohon telfon lagi sebelumnya (kalau bisa), karena dia sedikit sibuk mempersiapkan seminar tahunan dan dia salah seorang komitenya. Karena saya belum pernah ke institutnya dia, maka saya nanyakan alamatnya, serta halte bus disana. Lalu dia menjelaskan, ternyata nama halte busnya dia ngga tahu. "Wah saya ngga hapal nama haltenya, soalnya saya ke kantor selalu naik sepeda", selanya. Profesor naik sepeda? Memang sih banyak profesor disini yang hobby naik sepeda, walau dia punya mobil. Coba kalau dikita professor naik sepeda??!!
Sonntag, September 26, 2004
Jalan di mata Dzakiyyah
Ada kisah sedikit lucu dan menarik waktu baru di Indonesia dengan iklim yang tentu saja jauh berbeda dengan yang ada di Jerman. Sewaktu kita berkunjung ke rumah saudara di Riau (Kuansing) yang jaraknya tidak berapa jauh dari rumah orang tua sekitar 300 m, kita pergi dengan jalan kaki. Tidak seperti biasanya Dzakiyyah kalau lagi berjalan paling ngga mau di pegang tangannya dan dia lebih asyik berjalan sendiri. Tapi waktu itu Dzakiyyah berusaha menarik tangan saya untuk berjalan di pinggir jalan yang tidak beraspal. Semakin saya tarik ke jalan, tangan dia semakin kencang menarik saya ke pinggir jalan (ke saluran air, yang kebetulan lagi kering). Saya jadi penasaran, akhirnya dia menangis dan berucap, "Ayah, Mama!! Itu bukan jalan kita, itu jalan mobil....jangan disitu!!", ucapnya sambil berteriak ketakutan.
Baru kita sadar, ternyata dia mau mengikutin kebiasaan di Jerman, dimana kalau jalan mobil, sepeda dan jalan orang itu ada pemisahannya. Dan yang namanya jalan mobil yaa..jalan mobil. Dan sedikitpun dia ngga mau dan bahkan melarang kita untuk menginjakkan aspal. Akhirnya, saya gendong Dzakiyyah yang memang sangat ketakutan dan berjalan di saluran air tersebut. Dalam hati saya, ternyata susah juga memperkenalkan iklim baru ini buat anak seumur dia. Mungkin suatu saat semua jalan di Indonesia dipisahkan antara mobil, sepeda dan untuk orang berjalan. Jadi kita ngga perlu lagi berjalan di saluran air. Kapan yaa???
Baru kita sadar, ternyata dia mau mengikutin kebiasaan di Jerman, dimana kalau jalan mobil, sepeda dan jalan orang itu ada pemisahannya. Dan yang namanya jalan mobil yaa..jalan mobil. Dan sedikitpun dia ngga mau dan bahkan melarang kita untuk menginjakkan aspal. Akhirnya, saya gendong Dzakiyyah yang memang sangat ketakutan dan berjalan di saluran air tersebut. Dalam hati saya, ternyata susah juga memperkenalkan iklim baru ini buat anak seumur dia. Mungkin suatu saat semua jalan di Indonesia dipisahkan antara mobil, sepeda dan untuk orang berjalan. Jadi kita ngga perlu lagi berjalan di saluran air. Kapan yaa???
Donnerstag, September 23, 2004
DAA-DBL (bagian terakhir)
Dua bulan sudah saya tak mengupdate blog kesayangan ini dengan berbagai alasan (he..he..). Sejak keluarga "mondok" di Bandung dan saya balik kembali ke Braunschweig untuk melanjutkan draf dissertation yang kudu selesai secepatnya. Alhamdulillah hari ini dissertation tsb sudah saya hantarkan ke fakultas, alhamdulillah dan tinggal menunggu kabar dari universitas dan mempersiapkan ujian yang insyAllah dijadwalkan awal Desember ini. Semoga semuanya berjalan lancar, amien.
By the way, tulisan ini mencoba melanjutkan perjalanan pulang pada akhir Juni yang lalu. Setelah kita menunggu dua jam di Bandara International KL, akhirnya perjalanan menuju Cengkareng, Jakarta yang ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam 45 menit dengan pesawat airbus 330 (kalau ngga salah) mendaratlah di tanah air tercinta. Bertemulah kita dengan keluarga yang sejak pagi menuggu di Bandara. Alhamdulillah, langkah demi langkah dilalui. Mau kemana lagi? Nah, perjalanan domestik kita diteruskan menuju Pekanbaru dengan pesawat GIA. Dan kalau Dzakiyyah ditanya mau kemana? Dia mau menjawab mau ke Indonesia. Indonesia? Ngga tau kalau Jakarta itu juga Indonesia. Letih dan cape terasa hilang saat bertemu dengan keluarga. Sore harinya penerbangan menuju Pekanbaru kita lanjutkan. Welcome to Indonesia.....Panasnya bukan main....!!!
By the way, tulisan ini mencoba melanjutkan perjalanan pulang pada akhir Juni yang lalu. Setelah kita menunggu dua jam di Bandara International KL, akhirnya perjalanan menuju Cengkareng, Jakarta yang ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam 45 menit dengan pesawat airbus 330 (kalau ngga salah) mendaratlah di tanah air tercinta. Bertemulah kita dengan keluarga yang sejak pagi menuggu di Bandara. Alhamdulillah, langkah demi langkah dilalui. Mau kemana lagi? Nah, perjalanan domestik kita diteruskan menuju Pekanbaru dengan pesawat GIA. Dan kalau Dzakiyyah ditanya mau kemana? Dia mau menjawab mau ke Indonesia. Indonesia? Ngga tau kalau Jakarta itu juga Indonesia. Letih dan cape terasa hilang saat bertemu dengan keluarga. Sore harinya penerbangan menuju Pekanbaru kita lanjutkan. Welcome to Indonesia.....Panasnya bukan main....!!!
Freitag, Juli 23, 2004
DAA-DBL
Bagian keempat
„Pakcik ambil kursi tige saje kah?“, tanya seorang pramugari beberapa saat sebelum pesawat take-off. “Iya!” jawab saya pendek sambil melihat ke arah suara datang. Dengan sedikit berpikir dan tersenyum khas pramugari, “Oke lah, Pakcik! Nanti akan saye carikan bangku yang kosong, dan tak apa2kan nanti jaraknya berjauhan?”, tanyanya meyakinkan. “Nga! Ngga apa2”, jawab saya dengan bersemangat tentunya. Alhamdulillah ternyata setelah pintu pesawat ditutup yang menandakan ngga bakalan ada lagi penumpang yang akan masuk, pramugari tadi kembali mendatangai kami dan meyakinkan bahwa yang kosong itu pas disamping kita. Jadi, yang tadinya kita pesan 3 kursi (1 depan dan 2 dibelakangnya), ternyata kita dapat 6 kursi kosong. Kita sama2 mengucapkan alhamdulillah. Ternyata Allah sangat sayang sama kita.
Di saat pesawat perlahan2 meninggalkan bandara, saya mengeluarkan videocamera untuk mengabadikan detik2 berharga tsb. Moncong kamera saya arahkan ke salah satu jendela sebelah kanan yang kebetulan ada seorang kakek Jerman yang berumur sekitar 65 tahunan yang juga sedang asyik dengan videocameranya. Dia mengacungkan jari jempol sebari tersenyum sebagai ungkapan mari kita abadikan pemandangan ini, begitu kurang lebih. Dengan semangat saya memberitahukan Dzakiyyah proses take-off nya pesawat dan sekalian menunjukkan pemandangan indahnya kota Frankfurt yang dilihat dari ketinggian. Perlahan dan pasti pesawat bergerak menuju landasan pacu, putar haluan ke arah yang dituju, mulai cepat dan sangat cepat lalu terasa pesawat sudah mengarah menuju awan dan terbang, terus terbang. Dzakiyyah antara acuh dan tak acuh melihat rumah2 dan gedung2 tinggi di kota Frankfurt yang perlahan mulai mengecil. Terlihat juga dengan jelas kelokan2 sungai Main yang membela kota internasional ini dan salah satu aset yang menjadi objek wisata dan kebanggaan kota ini.
Saya perhatikan dalam2 Dzakiyyah dan Fathur, tak ada sedikitpun mereka takut dan juga tak ada sedih. Mulailah Dzakiyyah mengambil koran dan membukanya seperti orang2 yang duduk disamping. Tentunya hanya lihat dan belum mengerti isinya. Trus ambil lembaran petunjuk keselamatan penerbangan. Lalu ditaruhnya lagi, sampai akhirnya dia menemukan keasyikan sendiri dengan remote video/radio yang ada disisi kanan seatnya. Sementara Fathur sudah mulai bosan duduk sendirian. Sesekali dia berusaha melihat Ayuknya yang duduk dikursi depan. Sedangkan mama mereka memejamkan mata untuk menghindari mabuk penerbangan. Untuk Fathur inilah pertama kalinya terbang dengan pesawat, karena dia lahir di Jerman dan belum pernah pulang ke Indonesia.
Setelah pesawat mencapai ketinggian tertentu, sekitar 8.000-10.000 feet mulai pramugari menyebarkan menu makanan yang ditawarkan ke penumpang. Tidak susah memilih makanan naik MAS ini, karena selera melayu dan juga ditulis halal. Tinggal memilih selera. Nah, pembagian makanan Dzakiyyah dan Fathur serta penumpang anak2 lainnya mendapatkan paket makanan paling duluan baru yang lainnya. “Selamat menjamu selera!”, itulah kata pramugari setelah menghidangkan makanan kepada kita. Wow enak bangeeet makanannya. Pokoknya nanti kalau mau terbang lagi naik MAS dech. Makanan dan minuman datang silih berganti sampai hari larut malam. Pesawat terus terbang menuju Kuala Lumpur. Dzakiyyah asyik dengan nonton video Tom & Jerry yang memang film kesukaannya. Fathurpun sudah beranjak ke tempat kita, sambil dia bolak balik jalan kesana-kemari. Akhirnya merekapun tertidur pulas dengan selimut warna ungu kotak2. Dzakiyyah tidur dengan dua bangku dan Fathur cukup dengan satu bangku saja. Sesekali video menayangkan arah Makkah (Kiblat) yang menunjukkan arah sholat bagi yang akan menunaikan sholat Magrib atau Isya.
Duabelas setengah jam kurang lebih mendaratlah Boeing 777-200 yang kami tumpangi di Bandara Antar Bangsa KL. Waktu tempatan menunjukkan pukul 07.00 shubuh, tanggal 25 Juni. Alhamdulillah, satu estafet penerbangan telah kita lalui. Sambil mencari dan bertanya gate penerbangan tujuan Jakarta kamipun naik kereta listrik menuju lokasi pemberangkatan selanjutnya. Suasana masih sedikit gelap dan wajah2 melayu simpang siur dengan aktivitas masing2.
Donnerstag, Juli 15, 2004
DAA-DBL
Bagian ketiga
Bandara internasional Frankfurt, salah satu tempat yang menyimpan kenangan manis yang tak terlupakan. Pada tanggal 26 Mei 2001 tepatnya hari Sabtu pagi sekitar jam 07.00, 3 tahun yang lalu saya untuk pertama kalinya melihat si buah hati Dzakiyyah yang datang bersama istri tercinta dari tanah kelahiran, Indonesia. Sudahlah lahir tanpa kehadiran saya disisinya, karena pada saat dia dalam kandungan sekitar 6 bulan, Oktober 2000 saya harus memutuskan pergi melanjutkan pendidikan ke Jerman. Sulit memang pilihan pada saat itu, namun akhirnya dengan ketabahan hati pergi juga saya sendiri ke rantau orang. Entah Ayah apa namanya saya waktu itu, yang tega meninggalkan istri yang sedang hamil. Pesawat udara Singapore Airlines, Jakarta-Singapore-Frankfurt pada saat itu yang “memisahkan” kami. Tinggallah istri tercinta dan keluarga di Indonesia menunggu kelahiran sibuah hati untuk suatu saat sampai bisa terbang ke Jerman. Dan akhirnya, alhamdulillah Allah mempertemukan kami di Bandara internasional Franfurt di hari Sabtu itu setelah sibuah hati berumur 4 setengah bulan. Tak terasa ada tetes bening yang keluar dari pelupuk mata dan saya peluk dia erat2.
Lain cerita di pagi Jumat, 24 Juni 2004. Saya dorong trolley yang memuat 4 koper dan Dzakiyyah berdiri didepannya, sementara istri tercinta mendorong trolley yang satunya bersama Fathur mencari counter Malaysia Airlines (MAS). Ternyata cukup jauh juga mendorong trolley sampai akhirnya kita temui counter MAS itu. Sudah ada juga wajah2 melayu yang antri untuk check in, dan kami antri dibelakang salah seorang bapak yang berkopiah dengan jenggot sedikit panjang. Untuk mengisi waktu antri, kami terlibat dalam obrolan ringan sampai akhirnya kita menuju meja antrian. Sedikit berbisik istri saya menyarankan untuk antri ke arah meja yang disebelah kiri, yang disitu pegawainya perempuan bule dan sebelah kanan perempuan wajah melayu. Yang menurut pengamatan singkat istri saya, yang sebelah kiri lebih ramah dan yang kanan cerewet. Saya berusaha mengiyakan, soalnya juga takut ketemu pegawai yang cerewet sementara barang bawaan maksimal cuma 100 kg. Alhamdulillah kita ketemu sama yang bule tersebut, cukup lama juga dia membereskan Gepaeck/baggage dan sambil menulis segala sesuatunya dia bertanya berapa jumlah Gepaeck, dan saya bilang “enam buah plus Kinderwagen dan 2 sisanya dibawa sendiri”. Setelah dia mengukur 3 Gepaeck besar besar langsung dia bilang, “Ok, semuanya bisa masuk!”. Alhamdulillah dia tak menimbang lagi sisanya, mungkin karena kasihan lihat kita dengan 2 anak kecil. Dan kamipun berlalu mencari gate pemberangkatan, kalau ngga salah gate D-7, sambil mempersiapkan pasport untuk pemeriksaan oleh imigrasi setempat. Tentunya kita duduk dulu sebentar sebelum menuju gate pemberangkatan, maklum cape juga antrinya dan waktupun masih cukup untuk istirahat. Kitapun sedikit terlibat dalam diskusi, tentunya soal toilet he..he.., mau cari toilet sekarang atau nanti diatas saja. Akhirnya kita putuskan di atas saja.
Beberapa pintu pemeriksaan kita lalui dan hampir semuanya berbunyi kalau saya yang masuk, seperti biasa pak pemeriksa mengeledah dengan tanggannya untuk memastikan ada apa yang berbunyi. Dan ternyata koin, celana, dan sepatupun berbunyi karena ada bahan logam juga. Dan akhirnya kita sampai ke pintu terakhir untuk pemeriksaan ke-imigrasian. Lama juga pak polisi itu membolak-balik pasport saya dan pasport istri saya. Dan sekali saat dia melihat istri saya dan lalu melihat pasport kembali. Dalam hati saya, pasti dia binggung karena di dalam pasport istri saya tidak berjilbab sedangkan sekarang berjilbab. Karena istri tercinta berjilbab saat setelah berada di Jerman. Akhirnya pak polisi mempersilakan kami masuk. Alhamdulillah.....! Kamipun langsung menuju arah kiri mencari gate D-7 yang ternyata masih kosong melompong. Dalam pikiran rasa terbersit, biar cepat dari pada telat. Dan jadilah kami orang pertamanya yang mengisi gate tersebut.
Dzakiyyah dan Fathur sudah mulai ceria dan mulai aktif kesana kemari, apalagi melihat pesawat yang datang dan pergi dibalik kaca sana. Dzakiyyahpun sering berucap, “Kita ke Indonesia....kita ke Indonesia....”, dengan wajah yang berseri2. Bayangan apa tentang Indonesia yang ada dalam pikirannya, sayapun ngga tahu. Memang sudah lebih dari sebulan sebelum pulang kita berusaha menjelaskan kepada dia bahwa Dzakiyyah, Fathur dan Mama akan diantar ke Indonesia dan Ayah akan kembali sendiri ke Jerman. Hampir tiap hari kita jelaskan kepadanya. Pernah suatu hari dia memergoki kita lagi sedih, dan Dzakiyyah bertanya, “Kok Ayah dan Mama menangis...? Pertanyaan lugu tersebut ngga bisa kita jawab. Langsung saya memeluk dia dan mengendongnya sambil berusaha tegar. Diapun hanya tersenyum senang saat itu. Tak ada sedikitpun air mata keluar, mungkin dia tidak sedih atau dia belum memahami apa yang sedang kami pikirkan. Kembali Dzakiyyah dan Fathur berlari2 kecil menyusuri bangku2 dan sesekali melihat pesawat yang datang dan pergi diluar sana.
“Mama mau beli kartu ngga? Kan kita belum punya kartu kota Frankfurt?”, sapa saya sama istri yang mulai agak siuman dari mabuk mobil. Langsung saja dia semangat mendengar kata kartu, karena dia paling senang mengumpulkan kartu pos kota2 di Jerman. Akhirnya dia minta izin pergi mencari kartu pos kota Frankfurt yang banyak dijual dikios2 didepan sana. Dan saya bermain serta membuat video bersama anak2 dan sekali2 menjempret digital camera ke arah mereka. Namun mereka ngga terlalu peduli karena asyik bermain.
Satu jam lagi, 50 puluh menit, 40 menit dan akhirnya gate D-7 sudah diisi banyak penumpang lain yang akan terbang dengan MAS tujuan Kuala Lumpur. Kitapun duduk dengan memandang ke arah luar dan menanti dipanggil untuk saat disuruh masuk pesawat tuk meninggalkan bandara internasional Frankfurt. Dengan bahasa melayu, Jerman dan Inggris akhirnya kita dipersilakan naik pesawat Boeing 777-200 dan yang paling duluan disuruh adalah yang mempunyai anak kecil. Dengan mengambil ransel yang kuning dan tas laptop hitam kamipun beranjak dari tempat duduk ke arah pintu pesawat. Pramugari dan pramugara dengan sigap menuntun kemi ke arah tempat duduk yang tertulis di boarding pass. Setelah berdoa, saya cium Dzakiyyah, Fathur dan istri tercinta beberapa menit sebelum pesawat meninggalkan bandara yang penuh kenangan ini. Auf Wiedersehen Jerman!!! Pesawat boeing 777-200 dengan gagah bersiap untuk lepas landas dan tidak perduli apa yang sedang kita pikirkan. Sembari memejamkan mata kita kembali berdoa untuk keselamatan dalam perjalanan. Lalu saya tatap mereka satu persatu, Dzakiyyah, Fathur dan istri tercinta. Dan pesawatpun tinggal landas.
Mittwoch, Juli 14, 2004
DAA-DBL
Bagian kedua
Minibus perlahan meninggalkan kota menuju arah Autobahn atau jalan tol. Fathur yang duduk sendiri di Kindersitz tak sedikitpun terganggu tidurnya walau hari sudah mulai beranjak siang. Dzakiyyahpun mulai teduh raut mukanya pertanda dia siap untuk melanjutkan tidur yang sempat terbangun saat digendong tadi. Sambil berkata manja pada mamanya dia minta disayang. “Mama... sayang ayuk!”, celetuknya sambil berusaha menggapai tangan mamanya yang terhalang oleh Fathur yang memisahkan mereka. Biasanya kalau minta disayang, maksudnya adalah dibelai dan cara ini sangat ampuh untuk membuatnya tidur. Namun mamanya tak menyanggupi karena disamping terhalang jarak, juga mamanya paling ngga fit kalau lagi dalam perjalanan dan dia juga berusaha tidur agar terhindar dari mabuk. Berulang kali Dzakiyyah mengharap, tapi tetap saja dibiarkan sampai dia tertidur dengan sendirinya. Mobil terus melaju dan tinggal saya dan pak sopir yang terbangun. Untuk menghilangkan kejenuhan dalam perjalanan saya buka tas video kamera dan mengeluarkan isinya untuk mengambil moment disepanjang jalan. Kota Hildesheim dan Goettingen sudah dilalui dan sebentar lagi akan memasuki Kassel. Tampak rerumputan dan pepohonan yang hijau serta tanaman gandum yang siap panen di sisi2 jalan. Dan jarak berselang terlihat dengan kokohnya baling2 pembangkit listrik tenaga udara yang memang banyak terlihat di tengah2 tanaman gandum. Ini menambah indahnya pemandangan ditengah kehijauan. Sesekali video kamera saya arahkan ke wajah kecil nan lugu Dzakiyyah dan Fathur yang duduk di bangku tengah bersama mamanya. Masih terlelap mereka dengan mimpi masing2. Dzakiyyah dengan kepala sedikit terkulai kekanan dan tangan bebas serta kali menjulur kedepan. Rambut panjangnya yang terikat sedikit menjadi bantal untuk tidurnya. Sementara Fathur dengan sigap berada dalam ikatan tempat duduk yang memang khusus buat anak seumurnya. Mamanya yang berjacke hitam memejamkam mata, entah tidur atau hanya memejamkan mata biar terhindar dari serangan pening dan mabuk perjalanan.
Setelah terlihat Dzakiyyah mulai membuka mata, langsung saja saya sapa, “Dzakiyyah mau minum atau mau roti?”, sambil menatap wajahnya dengan tersenyum. Dengan singkat dia menjawab, “Ayuk mau minum aja”. Langsung saya bukakan capri sonne kesukaannya yang memang sudah disiapkan untuk perjalanan ini dan memberikan padanya. Dengan sedikit membungkukkan badan dia berusaha menggapai minuman tersebut dan meraihnya. Satu sachet 200 ml tersebut langsung ludes dan bungkusnya dia berikan sama mamanya. Sekali lagi saya tawarkan roti buat dia dan mamanya, ternyata selera makan pagi mereka terganggu juga dengan perjalanan ini. Ok, lah..yang penting mereka mau minum itu sudah syukur. Sekedar pengisi perut kosong yang belum sempat makan pagi.
“Ayah..! itu bagus”, kata Dzakiyyah sambil menunjuk generator pembangkit listrik tenaga udara di kejauhan. Perlahan saya ikuti arah telunjuknya dan sama2 kita menatap generator yang rapi berdiri dan berputar perlahan diterpa angin ladang gandum. Memang Dzakiyyah paling senang kalau lihat pemandangan ini. Dengan sedikit berputar dia berusaha melihat tonggak tinggi tersebut sampai hilang diterkam tikungan jalan. “Nanti ada lagi Dzakiyyah!”, kata saya berusaha menghiburnya. Dan memang, tak lama kemudian pemandangan itu ada lagi walau dengan jumlah dan jarak yang berbeda. Dia terus mengamati, walau kantuknya kelihatan masih ada.
Sekali2 radio yang memonitor jalannya minibus terdengar. Sopirnya selalu menanyakan arah mana yang paling cepat dan supaya terhindar dari macet atau perbaikan jalan. Percakapan demi percakapan di radio terkadang jelas terdengar kadang hanya desahnya saja. Pertanyaanpun sering diulang2, karena kelihatannya diseberang sana agak lambat merespon. “Terus saja dan masuk dari arah selatan Frankfurt”, begitu kira2 suara dari seberang sana yang memberikan arah terbaik agar tidak macet. Mobil terus meluncur ke arah selatan. Kota Fuldapun sudah dilewati pertanda sebentar lagi akan memasuki kota Frankfurt (am Main).
Mulailah tampak arah jalan Flughafen (lapangan udara) yang menandakan tak lama lagi kita akan sampai ke pintu pesawat. “Mit welche Flugzeuge fahren Sie?”, tanya pak sopir sama saya. Dengan yakin saya bilang, “Dengan MAS dari terminal 2”. Langsung saja minibus diarahkan ke terminal 2. Dan berhenti di paling ujung diterminal tersebut. Waktu menunjukkan sekitar jam 09.30, berarti perjalanan sekitar 3 setengah jam. Sementara penerbangan dijadwalkan tepat pukul 12.30. Bearti kita masih punya cukup waktu untuk istirahat.
Setelah barang sebanyak 8 keping diturunkan dan bersalaman dengan sopir sambil mengucapkan danke...!! dankeschoen!! Dengan tersenyum pak sopir bilang “gute reise!”. Lalu saya masuk terminal untuk mencari trolley. Dua trolley yang dibawa. Cukup repot juga mengangkat koper2 tsb, dan sambil berpikir gimana cara mendorongnya, karena mamanya anak2 juga sedang menggendong Fathur. Akhirnya Fathur disuruh jalan, dan kita berdua mendorong trolley menuju terminal 2 dan langsung tujuan utama adalah tempat duduk untuk rehat sebentar.....
Montag, Juli 12, 2004
Di atas awan di bawah langit (DAA-DBL)
Bagian pertama
Jum’at pagi pukul 06.00 tgl 24 Juni 2004 sebuah minibus dari FAL telah menunggu di pelataran appartment Rebenring 63 untuk mengantarkan keluarga kecil kami menuju pintu penerbangan Frankfurt yang berjarak sekitar 3 jam dari Braunschweig. Terlalu pagi untuk ukuran anak2 bangun pada jam segini, dengan susah payah saya beserta istri tercinta memasang pakaian Dzakiyyah dan Fathur yang masih terlena dengan mimpi2 mereka, mungkin mimpi bermain dengan teman2nya. Karena waktu yang sedikit tak sempat pula kami berdiskusi tentang mimpi putra-putri kami ini. Padahal kalau waktu sedikit luang kita selalu berdiskusi dan terkadang ketawa dan tersenyum melihat mereka terlelap dan apa lagi saat bahagia menunggu mereka bangun dengan wajah tersenyum. Tapi tidak untuk pagi itu, semua harus serba cepat karena minibus yang sudah dipesan sebulan lalu sudah menunggu dibawah, begitu kata salah seorang teman yang sedang membantu membawa barang dari lt. 8 appartment kami tepatnya zimmer no. 30. Ada juga salah seorang teman baik dan sekalian tetangga dari Mesir yang sejak setengah jam lalu dengan setia membantu segala sesuatunya, namun tidak dengan istri dan anak2nya. Padahal istri dia adalah sohib istri saya yang setiap hari ketemu saat sama2 mengantarkan anak2 ke Kindergarten yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari appartment kami tinggal. Sambil kecapean mengangkut barang ke pintu lift teman tersebut bercerita bahwa istrinya ngga bisa ngantarin lantaran dia sekarang sedang sedih dan menangis. Yang menurut dia juga dia merasa kehilangan salah seorang teman baik yang akan pulang ke Indonesia dan entah kapan ketemu lagi, begitu tuturnya. Saya hanya tersenyum dan sambil berucap, semoga Allah bisa mempertemukan keluarga kita kembali. Segala kesan dan pesan dari istrinya tersebut langsung juga dceritakan pada kita yang membuat kita terharu dan kami juga menyampaikan ucapan terima kasih atas pertemanan baik yang selama ini terjalin. Tentunya tukar-menukar alamat kita lakukan sebagai alternatif silaturrahmi tentunya, walau itu nantinya hanya lewat internet.

Dzakiyyah bersama Frau Tifach dan Frau Gabe saat hari terakhir di KinderGarten

Fathur pun sempat berpose di KinderGartennya Dzakiyyah dengan latar belakang tempat tas dan Jacke
Empat koper besar ditambah 2 tas jinjing dan 2 tas ransel semua telah tersusun rapi di bagian belakang minibus. Setelah berdoa bersama keluarga demi keselamatan di perjalanan saya kembali melihat semua ruangan yang akan ditinggalkan, melihat apakah sudah semua barang terangkut dan kondisi rumah serta lampu dan juga untuk mengamati sudut2 rumah ukuran 33 meter kuadrat ini yang penuh dengan kenangan kita ber-empat. Tak ada secuil sudutpun terhindar dari tatapan, dan mereka hanya membisu melihat kepergian kami. Dalam hati kami bergejolak dan berusaha menahan rasa haru sambil melangkah dan terus melangkah meninggalkan ruangan dan pintu serta berlalu menuju lift. Tak ada kata diantara kita berempat, semua terhenyak dalam pikiran masing2. Dan sebelum sampai ke lantai dasar, Dzakiyyah terbangun dalam pelukan dan langsung tersenyum. Entah apa arti senyumnya itu, atau dia sudah paham arti pulang ke Indonesia yang sudah jauh2 hari kita katakan ini atau tidak. Namun dari mulut mungilnya dia berkata, ke Indonesia...pulang ke Indonesia...! Dari raut wajah yang belum 100% bangun dari tidur ini saya tatap dalam2 dan mencoba merasakan dan mencoba membayangkan apa yang dia bayangkan. Entahlah, sama atau tidak...Sementara si kecil Fathur masih melanjutkan mimpinya didalam gendongan mamanya sampai ke dalam mobil.
Setelah menyalami dan memeluk erat teman2 yang turut mengatar kami masuk ke dalam minibus sebagai tanda akan mengakhiri tapak kenangan di Braunschweig yang telah kami jalani bersama2 lebih dari 3 tahun lamanya. Baik dalam duka maupun dalam suka. Lambaian tangan masih juga mengantarkan sampai ke titik dimana kita tak bisa memandang teman2 setia tadi karena terhalang tembok appartment yang menjulang tinggi. Tak sempat saya melihat raut wajah istri saat detik2 terakhir meninggalkan Braunschweig karena saya pun larut dalam perasaan sedih dan sedih yang mendalam. Dan melajulah minibus menuju arah Frankfurt.
Jum’at pagi pukul 06.00 tgl 24 Juni 2004 sebuah minibus dari FAL telah menunggu di pelataran appartment Rebenring 63 untuk mengantarkan keluarga kecil kami menuju pintu penerbangan Frankfurt yang berjarak sekitar 3 jam dari Braunschweig. Terlalu pagi untuk ukuran anak2 bangun pada jam segini, dengan susah payah saya beserta istri tercinta memasang pakaian Dzakiyyah dan Fathur yang masih terlena dengan mimpi2 mereka, mungkin mimpi bermain dengan teman2nya. Karena waktu yang sedikit tak sempat pula kami berdiskusi tentang mimpi putra-putri kami ini. Padahal kalau waktu sedikit luang kita selalu berdiskusi dan terkadang ketawa dan tersenyum melihat mereka terlelap dan apa lagi saat bahagia menunggu mereka bangun dengan wajah tersenyum. Tapi tidak untuk pagi itu, semua harus serba cepat karena minibus yang sudah dipesan sebulan lalu sudah menunggu dibawah, begitu kata salah seorang teman yang sedang membantu membawa barang dari lt. 8 appartment kami tepatnya zimmer no. 30. Ada juga salah seorang teman baik dan sekalian tetangga dari Mesir yang sejak setengah jam lalu dengan setia membantu segala sesuatunya, namun tidak dengan istri dan anak2nya. Padahal istri dia adalah sohib istri saya yang setiap hari ketemu saat sama2 mengantarkan anak2 ke Kindergarten yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari appartment kami tinggal. Sambil kecapean mengangkut barang ke pintu lift teman tersebut bercerita bahwa istrinya ngga bisa ngantarin lantaran dia sekarang sedang sedih dan menangis. Yang menurut dia juga dia merasa kehilangan salah seorang teman baik yang akan pulang ke Indonesia dan entah kapan ketemu lagi, begitu tuturnya. Saya hanya tersenyum dan sambil berucap, semoga Allah bisa mempertemukan keluarga kita kembali. Segala kesan dan pesan dari istrinya tersebut langsung juga dceritakan pada kita yang membuat kita terharu dan kami juga menyampaikan ucapan terima kasih atas pertemanan baik yang selama ini terjalin. Tentunya tukar-menukar alamat kita lakukan sebagai alternatif silaturrahmi tentunya, walau itu nantinya hanya lewat internet.
Dzakiyyah bersama Frau Tifach dan Frau Gabe saat hari terakhir di KinderGarten
Fathur pun sempat berpose di KinderGartennya Dzakiyyah dengan latar belakang tempat tas dan Jacke
Empat koper besar ditambah 2 tas jinjing dan 2 tas ransel semua telah tersusun rapi di bagian belakang minibus. Setelah berdoa bersama keluarga demi keselamatan di perjalanan saya kembali melihat semua ruangan yang akan ditinggalkan, melihat apakah sudah semua barang terangkut dan kondisi rumah serta lampu dan juga untuk mengamati sudut2 rumah ukuran 33 meter kuadrat ini yang penuh dengan kenangan kita ber-empat. Tak ada secuil sudutpun terhindar dari tatapan, dan mereka hanya membisu melihat kepergian kami. Dalam hati kami bergejolak dan berusaha menahan rasa haru sambil melangkah dan terus melangkah meninggalkan ruangan dan pintu serta berlalu menuju lift. Tak ada kata diantara kita berempat, semua terhenyak dalam pikiran masing2. Dan sebelum sampai ke lantai dasar, Dzakiyyah terbangun dalam pelukan dan langsung tersenyum. Entah apa arti senyumnya itu, atau dia sudah paham arti pulang ke Indonesia yang sudah jauh2 hari kita katakan ini atau tidak. Namun dari mulut mungilnya dia berkata, ke Indonesia...pulang ke Indonesia...! Dari raut wajah yang belum 100% bangun dari tidur ini saya tatap dalam2 dan mencoba merasakan dan mencoba membayangkan apa yang dia bayangkan. Entahlah, sama atau tidak...Sementara si kecil Fathur masih melanjutkan mimpinya didalam gendongan mamanya sampai ke dalam mobil.
Setelah menyalami dan memeluk erat teman2 yang turut mengatar kami masuk ke dalam minibus sebagai tanda akan mengakhiri tapak kenangan di Braunschweig yang telah kami jalani bersama2 lebih dari 3 tahun lamanya. Baik dalam duka maupun dalam suka. Lambaian tangan masih juga mengantarkan sampai ke titik dimana kita tak bisa memandang teman2 setia tadi karena terhalang tembok appartment yang menjulang tinggi. Tak sempat saya melihat raut wajah istri saat detik2 terakhir meninggalkan Braunschweig karena saya pun larut dalam perasaan sedih dan sedih yang mendalam. Dan melajulah minibus menuju arah Frankfurt.
Mittwoch, Juni 23, 2004
Back to Indonesia
Sobat-sobat yang saya cintai, mohon maaf jika saya belum sempat bales shoutbox, dan juga mengunjungi blog teman2. Namun semuanya tetap saya sempatkan baca dan mengintip sebentar. Apa pasal? Karena bulan Juni ini kami disibukkan dengan peking barang kontainer, ngecat rumah, jalan2, persiapan pulang karena besok (24 Juni) kita mau pulang/liburan di Indonesia (Riau- Bandung) serta kesibukan mengejar target ujian di tahun ini. Saya libur selama 2 minggu (saja) dan balek lagi ke Jerman, sedangkan Dzakiyyah, Fathur dan Mamanya anak2 untuk sementara tinggal di Indonesia dulu.
Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan doa dari sobat? tercinta, semoga perjalan kami berjalan dengan lancar dan selalu dilindungi oleh Allah SWT, hendaknya, amien. Cerita selanjutnya insyAllah diminggu kedua Juli.
Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan doa dari sobat? tercinta, semoga perjalan kami berjalan dengan lancar dan selalu dilindungi oleh Allah SWT, hendaknya, amien. Cerita selanjutnya insyAllah diminggu kedua Juli.
Sonntag, Juni 13, 2004
Teknologi dan lidah
Teknologi terus berkembang seakan tak terbendung, ada aja penemuan baru yang memudahkan segala sesuatunya. Begitu juga dibidang komunikasi, ya ada telphon, HP, internet dengan segala fasilitasnya yang online. Terus bisakah kita terpaku sama satu teknologi saja? Dan apa bisa selalu menjamin "keakuratan pesan" yang disampaikan?
Dua minggu yang lalu saya punya sebuah cerita ringan. Salah seorang teman saya di Jambi kirim pesan lewat YM dan kebetulan saya memang lagi ngendon didepan komputer kantor yang emang selalu online dari pagi-petang. Dia mau tanyakan perubahan alamat surat dari Zav-Reintegration di Frankfurt, FedEx, karena dia mau kirim paket dari Indo ke Jerman. Kok FedEx tahu yaa alamat berubah? Saya mulanya ngga percaya juga sama FedEx tsb, saya check dari surat terakhir dari ZAV, alamatnya tetap sama dengan yang di onlinenya. Ok lah, dari pada pusing, mendingan tanya saja langsung sama ZAV di Frankfurt. Saya telphon ke salah seorang kontak person disana dan menanyakan masalah perubahan alamat tsb. Ternyata saudara? memang berubah, dalam hati saya hebat bener tu FedEx, kok dia tau he..he..
Ok lah, nah saya mau tau langsung pada saat itu juga alamat yang baru, karena teman yang di Jambi lagi online di YM, nunggu. Cuma saya sedikit ngga yakin kalau ntar yang di sono (wong Jerman) menyebutkan alamat jalan, nomor trus kode pos via telphon, takut salah denger, yang namanya alamatkan harus 100% betul kalau ngga ya nyasar. Dengan spontan saya bilang sama kontak person ZAV tsb, bisa kirim alamat barus lewat imel ngga?
Ternyata orang baik di sono mengatakan, tentu saja! Tentunya dia menanyakan alamat imel saya, dan langsung saya kasih tahu, itu pun dengan di eja...maklum lidah berbeda.
Tiga menit berlalu belon juga datang, 5 menit juga belon datang. Padahal dia bilang akan kirim segera, sofort. Saya mencoba mengingat lagi saat mengeja alamat imel. R (Russland), O (oval), S (sie), Y (yahoo), A (Atlantik), D (Deutschland) und I (instal) at FAL Punkt DE. Ngga ada yang musti salah dan itu pun dua kali di ulang, yakin bin yakin dech.
Teman saya kirim YM lagi, dan langsung saya jawab, ntar saya sedang tunggu imel dari mereka, ntar lagi datang, sabar yaa! Ok, jawab dari Indo.
Setelah 10 menit berlalu saya telpon ke Frankfurt lagi karena pasti ada apa?. Ternyata benar, ada satu huruf yang "salah ucap" dan "salah dengar", yakni huruf L, staf ZAV tersebut mengira FAR padahal FAL. Memang susah membedakan huruf L dan R versi Jerman, hampir mirip. Padahal R-nya versi Indonesich...eerrrr, kalau versi Deutsch, ya itu tadi hampir sama kedengarannya L dan R.
Ternyata tetap saja salah ...he..he.., padahal sudah pake YM, Imel, Telphon masih...aja.
Alhamdulillah juga prosesnya ngga lebih 15 menit, semuanya alles klar.
Dua minggu yang lalu saya punya sebuah cerita ringan. Salah seorang teman saya di Jambi kirim pesan lewat YM dan kebetulan saya memang lagi ngendon didepan komputer kantor yang emang selalu online dari pagi-petang. Dia mau tanyakan perubahan alamat surat dari Zav-Reintegration di Frankfurt, FedEx, karena dia mau kirim paket dari Indo ke Jerman. Kok FedEx tahu yaa alamat berubah? Saya mulanya ngga percaya juga sama FedEx tsb, saya check dari surat terakhir dari ZAV, alamatnya tetap sama dengan yang di onlinenya. Ok lah, dari pada pusing, mendingan tanya saja langsung sama ZAV di Frankfurt. Saya telphon ke salah seorang kontak person disana dan menanyakan masalah perubahan alamat tsb. Ternyata saudara? memang berubah, dalam hati saya hebat bener tu FedEx, kok dia tau he..he..
Ok lah, nah saya mau tau langsung pada saat itu juga alamat yang baru, karena teman yang di Jambi lagi online di YM, nunggu. Cuma saya sedikit ngga yakin kalau ntar yang di sono (wong Jerman) menyebutkan alamat jalan, nomor trus kode pos via telphon, takut salah denger, yang namanya alamatkan harus 100% betul kalau ngga ya nyasar. Dengan spontan saya bilang sama kontak person ZAV tsb, bisa kirim alamat barus lewat imel ngga?
Ternyata orang baik di sono mengatakan, tentu saja! Tentunya dia menanyakan alamat imel saya, dan langsung saya kasih tahu, itu pun dengan di eja...maklum lidah berbeda.
Tiga menit berlalu belon juga datang, 5 menit juga belon datang. Padahal dia bilang akan kirim segera, sofort. Saya mencoba mengingat lagi saat mengeja alamat imel. R (Russland), O (oval), S (sie), Y (yahoo), A (Atlantik), D (Deutschland) und I (instal) at FAL Punkt DE. Ngga ada yang musti salah dan itu pun dua kali di ulang, yakin bin yakin dech.
Teman saya kirim YM lagi, dan langsung saya jawab, ntar saya sedang tunggu imel dari mereka, ntar lagi datang, sabar yaa! Ok, jawab dari Indo.
Setelah 10 menit berlalu saya telpon ke Frankfurt lagi karena pasti ada apa?. Ternyata benar, ada satu huruf yang "salah ucap" dan "salah dengar", yakni huruf L, staf ZAV tersebut mengira FAR padahal FAL. Memang susah membedakan huruf L dan R versi Jerman, hampir mirip. Padahal R-nya versi Indonesich...eerrrr, kalau versi Deutsch, ya itu tadi hampir sama kedengarannya L dan R.
Ternyata tetap saja salah ...he..he.., padahal sudah pake YM, Imel, Telphon masih...aja.
Alhamdulillah juga prosesnya ngga lebih 15 menit, semuanya alles klar.
Dienstag, Juni 01, 2004
Dzakiyyah dan PHP
Pagi tadi saya cukup terkesima dengan pernyataan Dzakiyyah pada Mamanya yang sedang asyik di dapur mempersiapkan roti yang akan saya bawa ke institut. Memang sudah rutinitas saya yang lebih duluan berangkat ke institut, setelah itu baru Dzakiyyah. Dan tentunya roti untuk makan siang juga lebih duluan disiapkan. Setelah itu baru mempersiapkan makanan/roti untuk bekal Dzakiyyah di KinderGarten-nya.
Nah, sehabis mamanya menggoreng roti untuk saya, trus mamanya bilang sama Dzakiyyah, “Dzakiyyah bawa roti juga yaa!“, seru mamanya seperti biasa. Padahal memang selalu dibikinin roti goreng plus keju, mentega plus gula ataupun kue yang lainnya. Tapi sebelum dibekalin dia mesti dikasih tahu dulu apa makanan yang bakal dia bawa. Dengan spontan Dzakiyyah menjawab, “Iya mama, bawa roti, cuma jangan digoreng yaa! Jawaban ini yang membuat saya kaget, kenapa? Ya karena umurnya juga belum genap 3.5 tahun, namun dia sudah ada pilihan, harapan dan permintaan (PHP). Jadi PHP disini bukan program komputer itu lho he..he..
Sesampainya dikantor saya masih teringat ucapan itu. Ada juga hal2 lain yang membuat saya tertarik terhadap tingkah laku anak2, kalau dia tidak mau makan biasanya dia akan bilang, ”nggak, nggak, Dzakiyyah sudah kenyang!”. Wah kalau sudah begini repot jadinya. Salah satu caranya adalah dengan menawarkan dia dua jenis makanan. Tawarannya kira2 begini; “Dzakiyyah mau makan nasi apa makan roti?“. Lalu Dia akan menjawab satu diantaranya. Jadi lucu juga strategi ini. Atau kalau memang dia nggak mau makan atau barangkali memang sudah kenyang, dia sendiri biasanya akan mengajukan alternatif lain. “Dzakiyyah mau minum susu aja!, katanya sambil menghindari piring nasi.
Yang lucunya lagi, dulu pernah dibilangin kalau Dzakiyyah nggak mau makan, maka nggak akan diajak main ke zentrum/kota. Nah, tawaran ini ternyata cukup mujarab untuk menyuruh dia makan karena bayangan dia kalau sudah makan bakalan diajak main ke zentrum. Memang kalau sudah demikian kita selalu mengajak dia main ke sana(spiel platz di Zentrum). Tapi lambat laun cara ini jadi basi alias udah nggak mempan lagi. Pernah sekali waktu mamanya bawa nasi untuk makannya dan kelihatannya dia memang sedang nggak mau makan. Sebelum mamanya menawarkan makanan tersebut, dia sudah terlebih dahulu bilang, “Mama, Dzakiyyah nggak mau main ke kota”, celetuknya. Padahal ditawari makan saja belum, dia sudah antisipasi duluan he..he..
Ternyata kalau dilihat cases seperti ini, dari kecil pun tanpa disadari kitapun sudah belajar PHP (pilihan, harapan dan permintaan). Nah, ngomong2 sudah pada punya capres pilihan belum nih??! Air sawah air payau, ..nggak nyambung layawww…..!!!
Nah, sehabis mamanya menggoreng roti untuk saya, trus mamanya bilang sama Dzakiyyah, “Dzakiyyah bawa roti juga yaa!“, seru mamanya seperti biasa. Padahal memang selalu dibikinin roti goreng plus keju, mentega plus gula ataupun kue yang lainnya. Tapi sebelum dibekalin dia mesti dikasih tahu dulu apa makanan yang bakal dia bawa. Dengan spontan Dzakiyyah menjawab, “Iya mama, bawa roti, cuma jangan digoreng yaa! Jawaban ini yang membuat saya kaget, kenapa? Ya karena umurnya juga belum genap 3.5 tahun, namun dia sudah ada pilihan, harapan dan permintaan (PHP). Jadi PHP disini bukan program komputer itu lho he..he..
Sesampainya dikantor saya masih teringat ucapan itu. Ada juga hal2 lain yang membuat saya tertarik terhadap tingkah laku anak2, kalau dia tidak mau makan biasanya dia akan bilang, ”nggak, nggak, Dzakiyyah sudah kenyang!”. Wah kalau sudah begini repot jadinya. Salah satu caranya adalah dengan menawarkan dia dua jenis makanan. Tawarannya kira2 begini; “Dzakiyyah mau makan nasi apa makan roti?“. Lalu Dia akan menjawab satu diantaranya. Jadi lucu juga strategi ini. Atau kalau memang dia nggak mau makan atau barangkali memang sudah kenyang, dia sendiri biasanya akan mengajukan alternatif lain. “Dzakiyyah mau minum susu aja!, katanya sambil menghindari piring nasi.
Yang lucunya lagi, dulu pernah dibilangin kalau Dzakiyyah nggak mau makan, maka nggak akan diajak main ke zentrum/kota. Nah, tawaran ini ternyata cukup mujarab untuk menyuruh dia makan karena bayangan dia kalau sudah makan bakalan diajak main ke zentrum. Memang kalau sudah demikian kita selalu mengajak dia main ke sana(spiel platz di Zentrum). Tapi lambat laun cara ini jadi basi alias udah nggak mempan lagi. Pernah sekali waktu mamanya bawa nasi untuk makannya dan kelihatannya dia memang sedang nggak mau makan. Sebelum mamanya menawarkan makanan tersebut, dia sudah terlebih dahulu bilang, “Mama, Dzakiyyah nggak mau main ke kota”, celetuknya. Padahal ditawari makan saja belum, dia sudah antisipasi duluan he..he..
Ternyata kalau dilihat cases seperti ini, dari kecil pun tanpa disadari kitapun sudah belajar PHP (pilihan, harapan dan permintaan). Nah, ngomong2 sudah pada punya capres pilihan belum nih??! Air sawah air payau, ..nggak nyambung layawww…..!!!
Samstag, Mai 29, 2004
Jalan2 di zentrum Braunschweig
Suhu panas 20° C hari ini tentu saja tidak kita sia2kan, apa lagi hari Sabtu yang merupakan hari belanja dan hari keluarga. Jadi disamping kita pergi belanja tentunya juga ngajak anak2 ke supermarkt dan tempat rame lainnya. Pokoknya asyiik banget, apalagi Dzakiyyah keluar rumah cukup dengan T-shirt saja, yang selama ini harus berlapis2. Fathur, tak kalah senangnya disepanjang jalan dia berteriak huuu..huuu…huuu .. Karena Dzakiyyah nyanyi-in lagu kesenangannya: unsere liebe…unsere liebe..einmal …! Jawabnya huuu..huuu…(sambil kedua tangan diangkat). Wah pokoknya mereka kelihatan senang dech. Lihat saja fotonya!

[1] Ini adalah saat menunggu S-bahn (kereta kota) untuk menuju zetrum (pusat kota).

[2] Salah satu sudut kota Braunschweig, tentunya kita berpose ria. Mama Dzakiyyah & Fathur mana? Itu lagi cepret foto..he..he..

[3] Kalau yang ini, lagi istirahat di city point, ngga tahu apa bener ini yang titik kotanya

[4] Nah, inilah salah satu cara istirahat yang effective, masuk supermarkt yang ada tempat main anak2. Jadi mereka ngga bosankan? Sekalian istirahat….
[1] Ini adalah saat menunggu S-bahn (kereta kota) untuk menuju zetrum (pusat kota).
[2] Salah satu sudut kota Braunschweig, tentunya kita berpose ria. Mama Dzakiyyah & Fathur mana? Itu lagi cepret foto..he..he..
[3] Kalau yang ini, lagi istirahat di city point, ngga tahu apa bener ini yang titik kotanya
[4] Nah, inilah salah satu cara istirahat yang effective, masuk supermarkt yang ada tempat main anak2. Jadi mereka ngga bosankan? Sekalian istirahat….
Donnerstag, Mai 20, 2004
Grillen
Di tengah cuaca yang cukup panas, 18 derajat, Kita dan Kel. Pak Hendarko mengundang saudara2 warga Indonesia-Malaysia di Braunschweig dan sekitarnya mengadakan "grillen" alias bakar sate. Grillen memang selalu dinantikan kalau sudah memasuki musim sommer beginian. Semua jenis sate akan bisa dinikmati dibawah terik sinar matahari yang berlimpah. Terima kasih buat Mbak Mei, Mbak Helmi, Mbak Aida, Om Nadeem, Amru dan teman2 lain tim bakar sate yang telah banyak membantu acara ini, danke sehr noch mal. Di tunggu acara grillen selanjutnya, kapan yaa? Ada yang ulang tahun ngga?

Wajah cerah Ibu2/tante serta adek2

Tim kipas sate putra berpose

Evelyn, Dzakiyyah dan Sheila berpose menanti sate matang

Fathur digendong sama Tante Mimi dan sebelahnya Tante Eva

Nah, ini dia proses pembakaran satenya..cepetan..lapar!!

Fathur sedang minum susu, kehausan nungguin sate..he..he..(kanan, si Adek anak tante Mimi)
Freitag, Mai 14, 2004
Menghitung dengan jari
Bagaimana caranya kita kalau mau pesan bakso semangkok atau dua mangkok?. Biasanya kita akan mengacungkan jari telunjuk untuk memesan semangkok bakso, jari telunjuk+tengah untuk menyatakan dua mangkok, kemudian tiga mangkok jari telunjuk+tengah+manis, so kalo empat mangkok plus kelingking. Dan pasti sudah jelas lima mangkok dengan semua jari. Ini yang saya tahu cara berhitung dan mengekspresikan angka dengan jemari.
Lain pula yang saya amati kalau di Jerman, angka 1 cukup diwakilkan dengan jempol. Saya berpikir kok dengan jempol sih, kenapa tidak dengan telunjuk aja ya...tapi entahlah apa jawabannya (mikir2 dulu..). Kalo jempol di Indonesiakan menandakan bagus, keren, ok dan sejenisnya. Udah ah pusing juga mikirinnya. Pokoknya kalau anak2 mau pesan 1 ice cream, saya tinggal bilang eine sambil melihatkan jempol keren. Dan lucunya juga, kalau 2 adalah jempol+telunjuk dan seterusnya. Coba bayangkan gimana susahnya kalau kita mau bilang 4, jempol+telunjuk+tengah+manis (kelingkingnya nunduk…sedikit kagok karena nggak biasa..he..he..). Padahal kalo pesan bakso 4 di Indonesia, kan minus jempol. Lebih gampang cara mesannya dan harganya murah lagi. Cuma satu yang sama, jangan coba2 menunjukkan angka satu dengan menggunakan jari tengah dimanapun juga..!! Bisi kena damprat ntar...hhehehehehe...cepet kabuuuurrrrr!!
Lain pula yang saya amati kalau di Jerman, angka 1 cukup diwakilkan dengan jempol. Saya berpikir kok dengan jempol sih, kenapa tidak dengan telunjuk aja ya...tapi entahlah apa jawabannya (mikir2 dulu..). Kalo jempol di Indonesiakan menandakan bagus, keren, ok dan sejenisnya. Udah ah pusing juga mikirinnya. Pokoknya kalau anak2 mau pesan 1 ice cream, saya tinggal bilang eine sambil melihatkan jempol keren. Dan lucunya juga, kalau 2 adalah jempol+telunjuk dan seterusnya. Coba bayangkan gimana susahnya kalau kita mau bilang 4, jempol+telunjuk+tengah+manis (kelingkingnya nunduk…sedikit kagok karena nggak biasa..he..he..). Padahal kalo pesan bakso 4 di Indonesia, kan minus jempol. Lebih gampang cara mesannya dan harganya murah lagi. Cuma satu yang sama, jangan coba2 menunjukkan angka satu dengan menggunakan jari tengah dimanapun juga..!! Bisi kena damprat ntar...hhehehehehe...cepet kabuuuurrrrr!!
Samstag, Mai 01, 2004
Lampu kuning
Coba tebak apa kira2 fungsi lampu kuning yang ada di setiap persimpangan jalan? Kenapa tidak cukup hanya dengan dua lampu saja, merah dan hijau? Kalau lampu merah tanda berhenti dan kalau lampu hijau kita jalan. Trus kalau udah gitu..fungsi lampu kuning buat ngapain donk ya…apakah pertanda setengah jalan atau setengah berhenti, nggak lucu kan?. Kalau secara matematis coba dihitung; ˝ berhenti = ˝ jalan; artinya berhenti = jalan (karena ˝ nya bisa dihilangkan). Memang susah juga untuk memahami arti lampu kuning di traffic light atau Die Ampel dalam bahasa Jermannya.

Source: fahrtipps.de
Teringat dulu waktu pergi ke Lembang dengan teman dan kita menerobos lampu kuning di jalan setia budi atas yang terkenal dengan “polisi lampu kuningnya”. Langsung saja kena priiiitt tiba2 entah dari mana? Karena merasa tidak bersalah langsung saja teman saya keluar dari mobil sambil membawa surat-menyurat mobil dan mengikuti pak polisi,sedangkan kita hanya menunggu di mobil sambil berharap moga2 tidak kena tilang. Hanya beberapa saat dalam hitungan 5 menit, teman tadi datang dengan tersenyum. “Bayar berapa Rudy?“, kata kita serentak. “nggaaakk?“ Lho kok bisa, biasanyakan kalau sudah masuk `warung` untuk urusan beginian pasti sudah kena denda/tilang. Ternyata pak polisi tadi lihat alamat teman saya, yang kebetulan tinggal di komplek kajati, Jakarta. Kontan saja nggak berani pak polisi mau ngasih denda, apalagi teman saya memang orang hukum, tentunya jago debat masalah kecil beginian.
Nah lain pula cerita teman saya di Hamburg, dia dipanggil oleh guru sekolah anaknya. Dia heran kenapa dipanggil.Apakah mungkin anaknya punya masalah di sekolah atau dengan teman2nya.Dengan rasa penasaran maka ditemuinya juga guru sekolah anaknya tersebut. Ternyata ceritanya begini…, Pada suatu hari anaknya ditanya oleh gurunya tentang perihal die Ampel. Dia bertanya tentang apa yang dilakukan kalau melihat lampu kuning? Anak teman saya ini langsung menjawab dengan suara keras dan cuek...tancaaaaappp gas. Tentu saja dia merasa yakin betul akan jawabannya ini? Tapi ternyata dengan jawaban seperti ini, akhirnya datanglah surat panggilan buat si orang tua untuk “diselidiki“. Setelah dijelaskan kenapa dipanggil, terus gurunya menanyakan apakah memang si anak diajarin begitu. Kontan saja teman saya yang juga dari Indonesia dengan sigap berdalih....., ya nggak mungkin donk anak saya diajarin begitu....sebetulnya saya tancap gas sewaktu lampu masih hijau..tapi dia nggak lihat sebelumnya lampu hijau itu..setelah lampu kuning baru dia lihat karena anak saya duduknya di belakang..dan bla..bla..berbagai alasan lainnya turut jadi pendukung. Entah itu benar atau salah, yang jelas intinya nggak mau disalahkan kan? he..he..Karena disini, salah mendidik seperti ini pun orang tua kena tegur/sanksi....!!
Makanya disamping harus hati2 dengan lampu kuning, sebaiknya memang nggak usah diterobos….lebih amankan? Nah pertanyaannya sebagai PR di rumah, apa yang anda lakukan ketika melihat lampu kuning, apakah tancaaaap gas atau berhenti perlahan???
Teringat dulu waktu pergi ke Lembang dengan teman dan kita menerobos lampu kuning di jalan setia budi atas yang terkenal dengan “polisi lampu kuningnya”. Langsung saja kena priiiitt tiba2 entah dari mana? Karena merasa tidak bersalah langsung saja teman saya keluar dari mobil sambil membawa surat-menyurat mobil dan mengikuti pak polisi,sedangkan kita hanya menunggu di mobil sambil berharap moga2 tidak kena tilang. Hanya beberapa saat dalam hitungan 5 menit, teman tadi datang dengan tersenyum. “Bayar berapa Rudy?“, kata kita serentak. “nggaaakk?“ Lho kok bisa, biasanyakan kalau sudah masuk `warung` untuk urusan beginian pasti sudah kena denda/tilang. Ternyata pak polisi tadi lihat alamat teman saya, yang kebetulan tinggal di komplek kajati, Jakarta. Kontan saja nggak berani pak polisi mau ngasih denda, apalagi teman saya memang orang hukum, tentunya jago debat masalah kecil beginian.
Nah lain pula cerita teman saya di Hamburg, dia dipanggil oleh guru sekolah anaknya. Dia heran kenapa dipanggil.Apakah mungkin anaknya punya masalah di sekolah atau dengan teman2nya.Dengan rasa penasaran maka ditemuinya juga guru sekolah anaknya tersebut. Ternyata ceritanya begini…, Pada suatu hari anaknya ditanya oleh gurunya tentang perihal die Ampel. Dia bertanya tentang apa yang dilakukan kalau melihat lampu kuning? Anak teman saya ini langsung menjawab dengan suara keras dan cuek...tancaaaaappp gas. Tentu saja dia merasa yakin betul akan jawabannya ini? Tapi ternyata dengan jawaban seperti ini, akhirnya datanglah surat panggilan buat si orang tua untuk “diselidiki“. Setelah dijelaskan kenapa dipanggil, terus gurunya menanyakan apakah memang si anak diajarin begitu. Kontan saja teman saya yang juga dari Indonesia dengan sigap berdalih....., ya nggak mungkin donk anak saya diajarin begitu....sebetulnya saya tancap gas sewaktu lampu masih hijau..tapi dia nggak lihat sebelumnya lampu hijau itu..setelah lampu kuning baru dia lihat karena anak saya duduknya di belakang..dan bla..bla..berbagai alasan lainnya turut jadi pendukung. Entah itu benar atau salah, yang jelas intinya nggak mau disalahkan kan? he..he..Karena disini, salah mendidik seperti ini pun orang tua kena tegur/sanksi....!!
Makanya disamping harus hati2 dengan lampu kuning, sebaiknya memang nggak usah diterobos….lebih amankan? Nah pertanyaannya sebagai PR di rumah, apa yang anda lakukan ketika melihat lampu kuning, apakah tancaaaap gas atau berhenti perlahan???
Sonntag, April 25, 2004
Tersesat ke jalan yang benar
Jumat malam saya bersama dua orang teman pergi menuju dua kota, yang satunya kota bekas Jerman Timur, Magdeburg dan satunya lagi kota pelabuhan Hamburg. Dari kota tempat saya tinggal Braunschweig ke Magdeburg kita tempuh sekitar 1 jam. Dengan mobil sewaan untuk mengangkut barang pindahan yang akan dikirim ke Indonesia yang dikendarai oleh Pak Razwan (danke sehr Pak Razwan atas bantuannya) kemudian Pak Hendarko dan saya. Tujuan akhirnya sih ke Hamburg, karena kontainer memang udah nangkring di Hamburg, namun karena salah seorang teman juga akan kirim barang dari Magdeburg, maka kita samperin sekalian baru berangkat ke Hamburg. Nah, perjalanan di tengah malam menuju hamburg yang diiringi rasa kantuk kita selingi dengan bercengkrama ria biar rasa jenuh dan kantuk hilang. Setelah lama dalam perjalanan yang lebih dari 3 jam, terlihat jarak menuju Hamburg 30 km lagi berarti kalau kecepatan 120 km/jam maka perjalanan tinggal 15 menit kurang lebih. Saking senangnya kali yee, soalnya hampir nyampe tujuan...namun pada saat melewati persimpangan di autobahn (jalan tol) yang seharusnya ke kiri terus, eeehhh ternyata pak Razwan langsung banting stir ke kanan. Karena jalan tol yang nggak bisa mundur lagi, akhirnya kita terus jalan aja sambil mencari tempat istirahat sekalian tanya sama orang jalan lain menuju Hamburg. Alhasil jalan yang dikira salah tersebut, ternyata itulah yang benar...sambil tersenyum girang pak Razwan bilang, " kita tersesat ke jalan yang benar". Coba bayangkan kalau kita menuju arah ke kiri seperti yang dikira, malahan akan tersesat. Alhamdulillah perjalanan malam itu lancaaaarrr...! Intinya kalau kita itu lagi tersesat, nggak usah panik lho ya,..he..he..!!!
Dienstag, April 20, 2004
Serupa tapi tak sama
Kalau Dzakiyyah di lihatin fotonya waktu kecil dia akan bilang “adek Fatul....adek Fatul....“, maksudnya adek Fathur. Dia nggak tahu, padahal itu kan fotonya sendiri. Sepintas memang wajah mereka berdua mirip banget di waktu kecilnya. Foto di bawah ini pada saat mereka masing2 berumur sekitar 7 bulanan. Nah...!! Coba tebak mana yang adek Fathur dan mana yang ayuk Dzakiyyah…he..he..!!

Samstag, April 17, 2004
Tulang ikan yang menyebalkan
Akhir tahun kemaren ada pengalaman sedikit menggelitik. Tersebutlah kisah (kayak mau mendogeng aja yaaa..), gulai ikan yang enak buatan istri yang baru belanja di Asianshop. Harga ikan enak tersebut sekitar 4 euro sekilo. Sambil sedikit bersila di atas kursi dengan lahapnya kita makan ikan gule yang ueenak tersebut. Saking asyiknya makan tanpa terasa ludes lah nasi yang cukup banyak dimasak tadi, maklum gule ikan...!
Nggak lama setelah makan, terasa dikerongkongan ada yang nyangkut. Tanpa mencari alasan lain, tertuduhlah tulang ikan tersebut yang nyangkut . Dilihat dikaca yaa nggak kelihatan, di bawa minum banyak...masih terasa ada yang nyangkut. Diambillah pisang dan ditelan tanpa dikunyah dengan harapan tulang ikan itu masuk ke perut. Hasilnya? Teteeeppp nyangkut!!. Jadi teringat pesan orang tua2, kalau ada tulang yang nyangkut dikerongkongan maka pukul pundak! Tapi itu nggak jadi dilaksanakan, takut nambah penyakit aja ntar leher yang jadi bengkok….ya nggak?
Sehari berlalu tulang ikan masih terasa. Kayaknya sih kecil, tapi yang namanya ada barang nyangkut susah kan? Sudahlah nggak enak makan dan minum, sedikit banyak menganggu aktivitas kerja juga. Setelah konsultasi sama istri, akhirnya diputuskan untuk pergi ke dokter. Tentunya ke dokter Hals-, Nasen-, Ohrenheilkunde (HNO) atau THT kalau di Indonesia. Kebetulan akhir tahun jadi susah mencari dokter karena kebanyakan urlaub/libur. Setelah dicari di gelbeseiten/buku kuning ditemukanlah salah seorang dokter HNO yang masih buka. Akhirnya baru esok harinya janji mau berobat.
Di tengah turunnya salju dan cuaca dingin yang menusuk tubuh pergilah menuju alamat dokter tersebut. Setelah giliran untuk diperiksa, saya ceritakan “tragedi“ tulang ikan tersebut. Lalu dengan dibantu seorang perawat dokter menyemprotkan entah obat apa hingga membuat mulut menjadi kering dan kaku,kemudian saya kembali disuruh menunggu. Saya pikir ini obat apa ya?? Kok tega banget itu dokter nyemprot sehingga mulut jadi kaku begini ? Ok lah, bisik hati saya yang penting cepat sembuh biar tulang hilang secepat mungkin. Sekitar 10 menit kemudian kembali dipanggil. Dengan peralatan lengkap kayak sendok dan garpu serta besi2 lainnya dilengkapi dengan lampu senter yang menempel dikening, kembali disuruh buka mulut dan dia mengamati ada apa dikerongkongan sana. Menit berlalu, mulut udah capek dibuka melulu lalu dengan wajah sedikit mengkerut dokter bilang, keine..keine aber gefaehrlich (ngga ada..ngga ada cuma berbahaya), terus dia menyarankan langsung pergi ke rumah sakit. Dengan cepat dia membuatkan resep/pengantar untuk segera ke rumah sakit karena katanya takut infeksi dan musti dikeluarkan segera.
Dengan lunglai dan perasaan sedikit ciut saya pun berlalu dari dokter tersebut dan langsung menuju rumah sakit yang berjarak sekitar 20 menit. Masih terbayang ucapan dokter tersebut, gefaehrlich... gefaehrlich..!! Setelah bertanya ke informasi di klinikum (rumah sakit) pemerintah tersebut akhirnya saya bertemu dengan dokter HNO. Saya ceritakan lagi apa yang terjadi dan sambil menunjukkan surat pengantar. Lalu dia mempersiapkan alat2 sedikit lebih canggih, cuma intinya tetap ngintip ada apa yang nyangkut dikerongkongan. Walhasil.....sama saja, dia bilang ngga ada. Terus dia memberi resep lagi, katanya bawa resep ini besok pagi, nanti kita akan periksa lagi dengan alat yang lebih canggih. Itu sih kalau anda mau, katanya. Dalam hati saya, sudahlah capek2 ngejar kesini sama juga hasilnya. Cuma yaa...karena rasa penasaran tadi, akhirnya kudatangi juga.
Dengan langkah gontai saya pulang dan menuju halte bus. Sambil memikirkan apa besok kembali kesitu atau tidak? Ditengah perjalanan saya telpon istri biar dia nggak kuatir pulang terlambat.
Setelah dipikir semalam, diputuskan nggak usah kembali ke klinikum, namun resep tersebut masih disimpan sampai kerongkongan terasa sembuh. Nah sekitar 2 hari berlalu....rasa nyangkut tersebut sudah nggak ada lagi, alias sembuh sendiri.....Wah senangnya bukan main, alhamdulillah. Sudah mau beli ikan lagi…he..he…nggak kapok!!enak sih..
Dua minggu kemudian datanglah rekening tagihan dari dokter tersebut, dokter pertama sekitar 70 euro dan dari klinikum sekitar 40 euro, jadilah total 110 euro hanya untuk ‘intip-mengintip’ kerongkongan doank, sementara tulangnya sudah hilang dengan sendirinya……! Syukur saja semuanya dibayar asuransi. Jadi pingin gule ikan lagi nih!!!siapa mauuu..??!!
Nggak lama setelah makan, terasa dikerongkongan ada yang nyangkut. Tanpa mencari alasan lain, tertuduhlah tulang ikan tersebut yang nyangkut . Dilihat dikaca yaa nggak kelihatan, di bawa minum banyak...masih terasa ada yang nyangkut. Diambillah pisang dan ditelan tanpa dikunyah dengan harapan tulang ikan itu masuk ke perut. Hasilnya? Teteeeppp nyangkut!!. Jadi teringat pesan orang tua2, kalau ada tulang yang nyangkut dikerongkongan maka pukul pundak! Tapi itu nggak jadi dilaksanakan, takut nambah penyakit aja ntar leher yang jadi bengkok….ya nggak?
Sehari berlalu tulang ikan masih terasa. Kayaknya sih kecil, tapi yang namanya ada barang nyangkut susah kan? Sudahlah nggak enak makan dan minum, sedikit banyak menganggu aktivitas kerja juga. Setelah konsultasi sama istri, akhirnya diputuskan untuk pergi ke dokter. Tentunya ke dokter Hals-, Nasen-, Ohrenheilkunde (HNO) atau THT kalau di Indonesia. Kebetulan akhir tahun jadi susah mencari dokter karena kebanyakan urlaub/libur. Setelah dicari di gelbeseiten/buku kuning ditemukanlah salah seorang dokter HNO yang masih buka. Akhirnya baru esok harinya janji mau berobat.
Di tengah turunnya salju dan cuaca dingin yang menusuk tubuh pergilah menuju alamat dokter tersebut. Setelah giliran untuk diperiksa, saya ceritakan “tragedi“ tulang ikan tersebut. Lalu dengan dibantu seorang perawat dokter menyemprotkan entah obat apa hingga membuat mulut menjadi kering dan kaku,kemudian saya kembali disuruh menunggu. Saya pikir ini obat apa ya?? Kok tega banget itu dokter nyemprot sehingga mulut jadi kaku begini ? Ok lah, bisik hati saya yang penting cepat sembuh biar tulang hilang secepat mungkin. Sekitar 10 menit kemudian kembali dipanggil. Dengan peralatan lengkap kayak sendok dan garpu serta besi2 lainnya dilengkapi dengan lampu senter yang menempel dikening, kembali disuruh buka mulut dan dia mengamati ada apa dikerongkongan sana. Menit berlalu, mulut udah capek dibuka melulu lalu dengan wajah sedikit mengkerut dokter bilang, keine..keine aber gefaehrlich (ngga ada..ngga ada cuma berbahaya), terus dia menyarankan langsung pergi ke rumah sakit. Dengan cepat dia membuatkan resep/pengantar untuk segera ke rumah sakit karena katanya takut infeksi dan musti dikeluarkan segera.
Dengan lunglai dan perasaan sedikit ciut saya pun berlalu dari dokter tersebut dan langsung menuju rumah sakit yang berjarak sekitar 20 menit. Masih terbayang ucapan dokter tersebut, gefaehrlich... gefaehrlich..!! Setelah bertanya ke informasi di klinikum (rumah sakit) pemerintah tersebut akhirnya saya bertemu dengan dokter HNO. Saya ceritakan lagi apa yang terjadi dan sambil menunjukkan surat pengantar. Lalu dia mempersiapkan alat2 sedikit lebih canggih, cuma intinya tetap ngintip ada apa yang nyangkut dikerongkongan. Walhasil.....sama saja, dia bilang ngga ada. Terus dia memberi resep lagi, katanya bawa resep ini besok pagi, nanti kita akan periksa lagi dengan alat yang lebih canggih. Itu sih kalau anda mau, katanya. Dalam hati saya, sudahlah capek2 ngejar kesini sama juga hasilnya. Cuma yaa...karena rasa penasaran tadi, akhirnya kudatangi juga.
Dengan langkah gontai saya pulang dan menuju halte bus. Sambil memikirkan apa besok kembali kesitu atau tidak? Ditengah perjalanan saya telpon istri biar dia nggak kuatir pulang terlambat.
Setelah dipikir semalam, diputuskan nggak usah kembali ke klinikum, namun resep tersebut masih disimpan sampai kerongkongan terasa sembuh. Nah sekitar 2 hari berlalu....rasa nyangkut tersebut sudah nggak ada lagi, alias sembuh sendiri.....Wah senangnya bukan main, alhamdulillah. Sudah mau beli ikan lagi…he..he…nggak kapok!!enak sih..
Dua minggu kemudian datanglah rekening tagihan dari dokter tersebut, dokter pertama sekitar 70 euro dan dari klinikum sekitar 40 euro, jadilah total 110 euro hanya untuk ‘intip-mengintip’ kerongkongan doank, sementara tulangnya sudah hilang dengan sendirinya……! Syukur saja semuanya dibayar asuransi. Jadi pingin gule ikan lagi nih!!!siapa mauuu..??!!
Donnerstag, April 08, 2004
Cerita seputar nama panggilan
Nama panggilan ini terkadang sepele, bisa pula agak sepele, atau serius bahkan sampai derajat sangat serius. Saya teringat waktu dulu KKN, kuliah kerja nyata (bulan kanak-kanak nakal lho...) sepanjang jalan kita selalu dipanggil acep/cecep, karena lokasi KKN kita didaerah Garut. Sambil sedikit menunduk sebagai tanda hormat mereka menyapa kita dengan ramah, menurut pandangan saya sangat ramah. Karena begitulah adat kebiasaan mereka menghormati tamu/seseorang. Dan suatu kali saya pernah juga di panggil ujang sama seorang ibu dipinggir jalan sewaktu saya kuliah lapangan di daerah Banten.
Padahal kalau di rumah saya dipanggil abang, bang Iron itu panggilan untuk anak lelaki. Dan kalau saudara perempuan di panggil kakak. Sementara itu panggilan kakak diperuntukkan memanggil saudara laki2 dilingkungan keluarga istri saya karena dia dari Palembang. Sedangkan panggilan saudara perempuan adalah ayuk. Lain pula di Jawa, biasanya dipanggil Mas dan Mbak. Saking banyaknya cara dan ragam panggilan terkadang kita bisa ngga menoleh, kalau seseorang memanggil kita karena nama panggilan tersebut ngga familiar dengan telingga kita. Istilahnya, dimana kita berada disitu ada sebuah nama.....(maksudnya nama panggilan).
Lalu apa panggilan seseorang kalau di Jerman? Biasanya secara formal orang yang belum kenal dipanggil Herr (untuk laki2) dan Frau (untuk pr). Sebagai contoh Herr Rosyadi. Nah kenapa tidak Herr Imron? Di panggil Herr Rosyadi karena mereka selalu memanggil seseorang yang baru kenal atau di acara yang sifatnya resmi dengan nama family. Jadi kalau ada seseorang namanya Buku Tulis, dipanggil lah dia Herr Tulis. Kalau dijalan gimana? Karena pasti kita ngga taukan nama orang padahal kita mau bertanya (terumata kalau tersesat). Panggilan umumnya adalah Sie, artinya kurang lebih anda. Makanya pelajaran awal bhs Jerman selalu dengan kalimat: Wie heissen Sie (Siapa nama anda?), Woher kommen Sie (Dari mana anda datang?).
Kalau kita sudah kenal akrab dengan seseorang ngga kan pernah lagi dipanggil Sie, secara otomatis (kayak mesin aja..he..he..) akan dipanggil du. Artinya juga anda, atau bisa kamu, ente, loe. Sifatnya informal atau lebih dekeeet. Dan satu lagi saya takkan dipanggil lagi Herr Rosyadi atau Rosyadi, biasanya akan dipanggil nama awal, Imron. Panggilan ini juga bisa juga menjadikan indikator apakah kita sudah dianggap kolega dekat atau blon? (kadang2).
Lucunya juga, jika professor kita telah memanggil kita du dan nama awal, terus kita panggil dia apa? Ini agak susah juga. Karena yang namanya kita dari timur rasa2nya ngga sopan manggil dia dengan du atau nama awal, walaupun itu lumrah bagi mereka. Salah satu strategi berbincang, yaa ...hindari kalimat yang memakai kata Sie atau du..he..he...Cara ini mungkin banyak dipakai. Karena susah2 gampang, dipanggil Sie takut dibilang ngga akrab dan dipanggil du takut dibilang sok akrab. Atau bilang saja sekalian mein professor, alles klar....!!
Dulu pernah teman saya yang notabenenya seorang bapak dosen yang sedang menjadi mahasiswa doktor. Dia mengikuti kursus bahasa Jerman di Goethe-Institut. Suatu saat dia mau bertanya sama gurunya yang kebetulan perempuan. Dia dengan santainya memanggil Meine Lehrerin (artinya kurang lebih Ibu guruku). Spontan saja teman kursus lainnya ketawa, karena bagi mereka lucu. Karena biasanya kita cukup panggil nama saja, Gabriella dsb. Akhirnya teman saya menjelaskan, bahwa kalo di Indonesia kita manggil pengajar dengan panggilan Ibu guru atau Bapak guru. Nah susahkan merobah kebiasaan ini.....??? Karena sejak dari es de, es em pe, es em a sampai kuliah kita selalu memanggil dengan sebutan Ibu/Bapak Guru/Dosen.
Padahal kalau di rumah saya dipanggil abang, bang Iron itu panggilan untuk anak lelaki. Dan kalau saudara perempuan di panggil kakak. Sementara itu panggilan kakak diperuntukkan memanggil saudara laki2 dilingkungan keluarga istri saya karena dia dari Palembang. Sedangkan panggilan saudara perempuan adalah ayuk. Lain pula di Jawa, biasanya dipanggil Mas dan Mbak. Saking banyaknya cara dan ragam panggilan terkadang kita bisa ngga menoleh, kalau seseorang memanggil kita karena nama panggilan tersebut ngga familiar dengan telingga kita. Istilahnya, dimana kita berada disitu ada sebuah nama.....(maksudnya nama panggilan).
Lalu apa panggilan seseorang kalau di Jerman? Biasanya secara formal orang yang belum kenal dipanggil Herr (untuk laki2) dan Frau (untuk pr). Sebagai contoh Herr Rosyadi. Nah kenapa tidak Herr Imron? Di panggil Herr Rosyadi karena mereka selalu memanggil seseorang yang baru kenal atau di acara yang sifatnya resmi dengan nama family. Jadi kalau ada seseorang namanya Buku Tulis, dipanggil lah dia Herr Tulis. Kalau dijalan gimana? Karena pasti kita ngga taukan nama orang padahal kita mau bertanya (terumata kalau tersesat). Panggilan umumnya adalah Sie, artinya kurang lebih anda. Makanya pelajaran awal bhs Jerman selalu dengan kalimat: Wie heissen Sie (Siapa nama anda?), Woher kommen Sie (Dari mana anda datang?).
Kalau kita sudah kenal akrab dengan seseorang ngga kan pernah lagi dipanggil Sie, secara otomatis (kayak mesin aja..he..he..) akan dipanggil du. Artinya juga anda, atau bisa kamu, ente, loe. Sifatnya informal atau lebih dekeeet. Dan satu lagi saya takkan dipanggil lagi Herr Rosyadi atau Rosyadi, biasanya akan dipanggil nama awal, Imron. Panggilan ini juga bisa juga menjadikan indikator apakah kita sudah dianggap kolega dekat atau blon? (kadang2).
Lucunya juga, jika professor kita telah memanggil kita du dan nama awal, terus kita panggil dia apa? Ini agak susah juga. Karena yang namanya kita dari timur rasa2nya ngga sopan manggil dia dengan du atau nama awal, walaupun itu lumrah bagi mereka. Salah satu strategi berbincang, yaa ...hindari kalimat yang memakai kata Sie atau du..he..he...Cara ini mungkin banyak dipakai. Karena susah2 gampang, dipanggil Sie takut dibilang ngga akrab dan dipanggil du takut dibilang sok akrab. Atau bilang saja sekalian mein professor, alles klar....!!
Dulu pernah teman saya yang notabenenya seorang bapak dosen yang sedang menjadi mahasiswa doktor. Dia mengikuti kursus bahasa Jerman di Goethe-Institut. Suatu saat dia mau bertanya sama gurunya yang kebetulan perempuan. Dia dengan santainya memanggil Meine Lehrerin (artinya kurang lebih Ibu guruku). Spontan saja teman kursus lainnya ketawa, karena bagi mereka lucu. Karena biasanya kita cukup panggil nama saja, Gabriella dsb. Akhirnya teman saya menjelaskan, bahwa kalo di Indonesia kita manggil pengajar dengan panggilan Ibu guru atau Bapak guru. Nah susahkan merobah kebiasaan ini.....??? Karena sejak dari es de, es em pe, es em a sampai kuliah kita selalu memanggil dengan sebutan Ibu/Bapak Guru/Dosen.
Montag, April 05, 2004
Perhitungan suara pemilu 2004
[1] Komisi Pemilihan Umum, KPU
[2] DetikCom
[3] EraMuslim
[4] Republika
[5] PPLN-Hamburg
Sonntag, April 04, 2004
Bahrain Formel1
2. Rubens Barrichello [Ferrari]
3. Jenson Button [BAR-Honda]
Sumber foto: RTL
Besok pemilu
Besok mau pemilu
Jangan gunakan hati nuraini untuk nyoblos
tapi gunakan paku yang sudah disediakan panitia..he..he..,
kalo pilihan?
jelas menggunakan hati nurani bukan hati nuraini.
Selamat pemilu, semoga berjalan lancar
Dan menghasilkan pemerintahan yang bersih
Jangan gunakan hati nuraini untuk nyoblos
tapi gunakan paku yang sudah disediakan panitia..he..he..,
kalo pilihan?
jelas menggunakan hati nurani bukan hati nuraini.
Selamat pemilu, semoga berjalan lancar
Dan menghasilkan pemerintahan yang bersih
Freitag, April 02, 2004
Musim semi datang
Seminggu sudah pergantian waktu dari winter ke sommer, yang biasanya selisih waktu Jerman dan Indonesia (wib) 6 jam sekarang jadi 5 jam. Sementara suhu sudah mulai panas, hari ini mencapai 17 derajat. Jam 8 malam pun matahari masih ada, waktu siang jadi panjang. Asyyiiikk..., hari ini kita main ke fruehjahrsmesse, tempat permainan anak2. Di waktu musim dingin paling asyik main salju dan kalau musim panas enak jalan2. Apa lagi Dzakiyyah, winter senang...sommer ceria. Lihat saja foto waktu sommer tahun kemaren, senyuuummm..!

Dienstag, März 30, 2004
Cerita di hari sabtu
Seperti yang dilaporkan sebelumnya (he..he..kayak wartawan aja yaa), padahal cuma ingin menjelaskan sambungan cerita sebelumnya tentang acara perpisahan dengan tante Niknik dan selamatan anaknya Pakcik Razwan, Zahra. Ternyata tidak hanya gule kambing serta menu menarik lainnya, nasi kuning pun hadir ditengah2 undangan. Sudah lama ngga makan nasi kuning, akhirnya makan juga. Tentunya ada fotonya...selamat menikmati!

Ini adalah keluarga Rosyadi (Ayahnya anak2 lagi ngambil foto, kelihatan ngga?), sedangkan bayi cantik itu adalah Zahra anaknya Pakcik Razwan.

Inilah wajah2 yang lagi hajatan, dari kiri ke kanan terus mutar lagi ke kanan (bingung....) istrinya Pakcik Razwan, Pak Razwan, Eceu Musni (yang bikin nasi kuning) dan tante Niknik.

Foto yang satu ini adalah salah seorang warga merangkap relawan yang sedang mensosialisasikan pemilu kepada undangan. Acaranya jadi komplit, kan? Tanpa di bayar dan tanpa disuruh, Pak Hendarko yang merupakan salah seorang aktivis partai dakwah ini yang juga merupakan Partai Kesayangan Saya, dengan serius menjelaskan cara mengisi surat suara melalui pos tentunya. Terima kasih Pak Hendarko!

Ini adalah keluarga Rosyadi (Ayahnya anak2 lagi ngambil foto, kelihatan ngga?), sedangkan bayi cantik itu adalah Zahra anaknya Pakcik Razwan.
Inilah wajah2 yang lagi hajatan, dari kiri ke kanan terus mutar lagi ke kanan (bingung....) istrinya Pakcik Razwan, Pak Razwan, Eceu Musni (yang bikin nasi kuning) dan tante Niknik.
Foto yang satu ini adalah salah seorang warga merangkap relawan yang sedang mensosialisasikan pemilu kepada undangan. Acaranya jadi komplit, kan? Tanpa di bayar dan tanpa disuruh, Pak Hendarko yang merupakan salah seorang aktivis partai dakwah ini yang juga merupakan Partai Kesayangan Saya, dengan serius menjelaskan cara mengisi surat suara melalui pos tentunya. Terima kasih Pak Hendarko!
Freitag, März 26, 2004
Guten apetit! vs Mangga di leut!
Setengah jam menjelang pergantian hari mata belum juga terpejam. Disamping masih berkutat dengan pekerjaan rumah yang harus selesai hari senen ini, juga sedang menungguin mamanya Dzakiyyah&Fathur masak gehu. Karena besok ada party perpisahan dengan tante Niknik yang akan pulang ke Indonesia (abschied party) dan juga sekalian akikahnya anaknya Pakcik Razwan, "budak Malaysia". Menurut gosip sementara, makanan besok salah satu menu utamanya kambing guling...ehm nyam..nyam. Acara ini tentu tidak akan diikuti oleh kampanye partai,..lho kok (ngga nyambung ceritanya he..he..). Maklum sedang hangat2nya kampanye di Indonesia, jadi latah.
Kulturschock, satu judul surat dari salah satu milis yang saya ikuti. Isinya sih menanyakan adat istiadat di Jerman, karena dia baru saja beberapa bulan nge-kost di Jerman. Nah, teringat Kulturschock ini dan juga disaat menghirup wanginya gehu yang belum digoreng saya teringat sedikit tips tentang kebiasaan orang Jerman bila sedang makan. Kebiasaan yang bagi saya tidak biasa ini sempat juga membuat schock pada awalnya.
Kalau kita duduk dikantin sesama rekan kerja atau mahasiswa, biasanya mereka tidak akan basa-basi seperti ala di Indonesia malahan terjadi sebaliknya. Kalau ada teman kita yang sedang makan, kita biasanya akan mengucapkan Guten apetit! atau selamat makan, Enjoy your meal! (bhs Inggris), bon appétit (bhs Prancis). Aneh kan? Padahal kalau di Indonesia justru yang makan yang nawarin. Biasanya kalau sudah duduk di kantin atau yang suka nangkring di kedai kopi dan tiba2 ada teman yang lewat, langsung kita panggil " Hai Jo makan yuuuk!" Dan juga kalau kita nawarin tamu teringat kalau di Sunda mah pake bahasa "Mangga di leut!", itu pun sampai berkali-kali.
Dulu saya pikir, kok sudah teman dekat (bule) ngga pernah basa-basi dikit pun. Akhirnya saya tahu, ya itu tadi...justru kita yang melihat orang makan bilang "Guten apetit!". Asyiik besok kita bakalan party...guten apetit!...guten apetit! Wah hampir lupa, ada foto gehu yang sudah digoreng, ada yang mau? Mangga di leut sadayana!!!

Kulturschock, satu judul surat dari salah satu milis yang saya ikuti. Isinya sih menanyakan adat istiadat di Jerman, karena dia baru saja beberapa bulan nge-kost di Jerman. Nah, teringat Kulturschock ini dan juga disaat menghirup wanginya gehu yang belum digoreng saya teringat sedikit tips tentang kebiasaan orang Jerman bila sedang makan. Kebiasaan yang bagi saya tidak biasa ini sempat juga membuat schock pada awalnya.
Kalau kita duduk dikantin sesama rekan kerja atau mahasiswa, biasanya mereka tidak akan basa-basi seperti ala di Indonesia malahan terjadi sebaliknya. Kalau ada teman kita yang sedang makan, kita biasanya akan mengucapkan Guten apetit! atau selamat makan, Enjoy your meal! (bhs Inggris), bon appétit (bhs Prancis). Aneh kan? Padahal kalau di Indonesia justru yang makan yang nawarin. Biasanya kalau sudah duduk di kantin atau yang suka nangkring di kedai kopi dan tiba2 ada teman yang lewat, langsung kita panggil " Hai Jo makan yuuuk!" Dan juga kalau kita nawarin tamu teringat kalau di Sunda mah pake bahasa "Mangga di leut!", itu pun sampai berkali-kali.
Dulu saya pikir, kok sudah teman dekat (bule) ngga pernah basa-basi dikit pun. Akhirnya saya tahu, ya itu tadi...justru kita yang melihat orang makan bilang "Guten apetit!". Asyiik besok kita bakalan party...guten apetit!...guten apetit! Wah hampir lupa, ada foto gehu yang sudah digoreng, ada yang mau? Mangga di leut sadayana!!!
Freitag, März 19, 2004
Mediamarkt
Minimal sekali sebulan Dzakiyyah dan Fathur diajak jalan-jalan ke Mediamarkt. Kalau udara cerah bisa tiap minggu main kesana. Mediamarkt ini adalah salah satu toko elektronik terbesar dan hampir selalu ada disetiap penjuru kota Jerman. Tentunya segala peralatan elektonik keluaran terbaru ada disini.

Dzakiyyah senang banget kalau sudah diajak main kesini, bisa nyobain laptop yang beraneka ragam modelnya atau game2 versi terbaru juga CD lagu. Kalau sudah capek coba-mencoba segala sesuatunya di kedua lantai supermaket ini, biasanya Dzakiyyah dan Fathur dengarin musik dulu sebelum pulang. Mendengarkan lagu anak2 kesukaan mereka.

Dzakiyyah senang banget kalau sudah diajak main kesini, bisa nyobain laptop yang beraneka ragam modelnya atau game2 versi terbaru juga CD lagu. Kalau sudah capek coba-mencoba segala sesuatunya di kedua lantai supermaket ini, biasanya Dzakiyyah dan Fathur dengarin musik dulu sebelum pulang. Mendengarkan lagu anak2 kesukaan mereka.
Donnerstag, März 18, 2004
Ayahanda dan Ibunda.....
Pagi ini sejam lebih awal bangun dari biasanya, langsung diikuti oleh istri serta si kecil Dzakiyyah dan Fathur. Setelah sholat subuh saya kembali menggolerkan badan ke peraduan, namun ngga bisa tidur kembali. Pikiran teringat pada Ayanda yang hari ini menurut keluarga akan operasi kelenjar prostat. Yang menurut sebagian orang ini hanya merupakan “operasi kecil”, namun perasaan dan pikiran tetap tertuju ke Ayahanda yang jauh disana. Terbayang juga wajah Ibunda yang selalu setia menemaninya, bersama abang serta adek-adek tercinta.
Kehadapan Ayahanda dan Ibunda..., begitulah saya selalu menuliskan panggilan kesayangan buat mereka tatkala mengirim surat dari dulu, sejak mulai memasuki dunia perantauan. Padahal kalau berjumpa sehari-hari panggilan beliau adalah Bapak dan Omak. Ayahanda dan Ibunda merupakan ungkapan rasa rindu yang mendalam dan digoreskan dalam lembaran surat. Dan biasanya surat akan diakhiri dengan kalimat “sembah sujud ananda”. Biasanya kalau saya pulang yang biasanya sekali setahun (lebaran) Ayahanda akan memperlihatkan surat-surat yang pernah saya tulis, mulai dari awal dan yang terakhir. Suatu penyimpanan yang rapi. Dan saya biasanya kembali membaca surat2 tersebut, sambil terkadang tersenyum sendiri melihat apa yang telah ditulis.
Nah, pagi ini Ayahanda mau dioperasi. Ingin rasanya saya berada ditengah-tengah mereka. Menemani, menghibur, memeluk serta menyenangkan hati Ibunda yang sangat “kalut” pada saat seperti ini. Kalau Ayahanda, saya tahu betul dia akan tegar menghadapinya. Paling dia akan memanggil, “Iron! tolong dipijatin kaki Bapak yaa!”. Begitu biasanya Bapak memanggil saya, Iron dan bukan Imron, mungkin biar simple. Sekarang saya tidak bisa menemani dan tak bisa memijatin kaki Ayahanda yang pasti pegal setelah menjalani operasi.
Setengah jam berlalu, akhirnya saya telpon ke HP Irwan, salah seorang adek saya. Ternyata Allah mengabulkan doa kami, operasi alhamdulillah berjalan lancar. HP pun diberikan kepada Ayahanda yang suaranya sedikit tertahan, mungkin karena capek atau lemas setelah dibius. Waktu saya telpon, operasi baru saja selesai dan Ayahanda belum dibawa ke kamar di rumah sakit. Hanya sempat beberapa saat berbicara dengan Ayahanda, juga Ibunda yang kedengaran suaranya sedikit serak, dikarenakan mereka harus bergegas mengikuti perawat yang membawa Bapak menuju ke kamar.
Doa tulus kami; Ya Allah, semoga Ayahanda kami cepat sembuh dan kembali pulang ke rumah. Semoga Ibunda selalu tabah dan tegar menghadapi semua cobaan ini.
Sembah sujud Ananda & Cucunda
Braunschweig-Jerman
Kehadapan Ayahanda dan Ibunda..., begitulah saya selalu menuliskan panggilan kesayangan buat mereka tatkala mengirim surat dari dulu, sejak mulai memasuki dunia perantauan. Padahal kalau berjumpa sehari-hari panggilan beliau adalah Bapak dan Omak. Ayahanda dan Ibunda merupakan ungkapan rasa rindu yang mendalam dan digoreskan dalam lembaran surat. Dan biasanya surat akan diakhiri dengan kalimat “sembah sujud ananda”. Biasanya kalau saya pulang yang biasanya sekali setahun (lebaran) Ayahanda akan memperlihatkan surat-surat yang pernah saya tulis, mulai dari awal dan yang terakhir. Suatu penyimpanan yang rapi. Dan saya biasanya kembali membaca surat2 tersebut, sambil terkadang tersenyum sendiri melihat apa yang telah ditulis.
Nah, pagi ini Ayahanda mau dioperasi. Ingin rasanya saya berada ditengah-tengah mereka. Menemani, menghibur, memeluk serta menyenangkan hati Ibunda yang sangat “kalut” pada saat seperti ini. Kalau Ayahanda, saya tahu betul dia akan tegar menghadapinya. Paling dia akan memanggil, “Iron! tolong dipijatin kaki Bapak yaa!”. Begitu biasanya Bapak memanggil saya, Iron dan bukan Imron, mungkin biar simple. Sekarang saya tidak bisa menemani dan tak bisa memijatin kaki Ayahanda yang pasti pegal setelah menjalani operasi.
Setengah jam berlalu, akhirnya saya telpon ke HP Irwan, salah seorang adek saya. Ternyata Allah mengabulkan doa kami, operasi alhamdulillah berjalan lancar. HP pun diberikan kepada Ayahanda yang suaranya sedikit tertahan, mungkin karena capek atau lemas setelah dibius. Waktu saya telpon, operasi baru saja selesai dan Ayahanda belum dibawa ke kamar di rumah sakit. Hanya sempat beberapa saat berbicara dengan Ayahanda, juga Ibunda yang kedengaran suaranya sedikit serak, dikarenakan mereka harus bergegas mengikuti perawat yang membawa Bapak menuju ke kamar.
Doa tulus kami; Ya Allah, semoga Ayahanda kami cepat sembuh dan kembali pulang ke rumah. Semoga Ibunda selalu tabah dan tegar menghadapi semua cobaan ini.
Sembah sujud Ananda & Cucunda
Braunschweig-Jerman
Mittwoch, März 17, 2004
"Molorlah" berjanji dan "ingkari"
Berjanji ini adalah pekerjaan gampang2 susah, dibilang gampang sebab bisa dalam hitungan detik terucap dan bila dibilang susah bisa ngacak2 buka agenda untuk mengatakannya. Susah juga saya membuat judul untuk tema janji ini, akhirnya keluar judul diatas.
Sering saya berjanji dengan kolega disini dan hampir tidak ada mereka telat atau mengingkarinya, baik itu janji untuk diskusi atau pun hanya sekedar bertanya sesuatu. Pernah saya (berkali2 malah) mendatangi teknisi komputer disebelah ruangan kerja saya dan menanyakan sesuatu. Ok, katanya besok pagi akan saya jawab. Mungkin kalau kita baru pertama kenal dengan sifat orang Jerman akan kaget. Kok nanya gitu saja sampai besok pagi. Dengan melapangkan dada saya masuk ruangan. Dan ternyata 15 minute kemudian dia menjelaskan apa yang saya tanyakan, ngga perlu sampi besok pagi rupanya. Ada juga kasus yang lain, dimana saya menanyakan harga laptop pada waktu itu dengen merek Satellite 1900-102 (online price) kepada salah seorang teman. Ok, ntar besok saya kasih tahu, katanya. Penyelesaiannya kurang lebih sama, sekitar 20 minute kemudian dia masuk keruangan saya lengkap dengan hasil print-out apa yang saya minta. Lain pula kalau berjanji dengan pemerintahan, sebagai contoh immigration office, sering saya alami. Sebulan yang lalu saya mengurus sebuah document. Dan setelah konsultasi, mereka bilang akan kita kirimkan ke alamat anda dalam jangka waktu 6 minggu. Pernyataan ini juga tertera dalam kertas pengumuman. Hanya berselang waktu 3 minggu surat yang saya minta tersebut sudah sampai ke tangan.
Kasus ini hampir saya temukan selalu, sehingga dalam pikiran saya berjanji itu lebih baik "dimolorkan". Dalam artian pikirkan keadaan yang paling lambat dari kemampuan kita. Hal ini juga akan mengurangi stress kita, jika kita yang telah berjanji padahal itu diluar kemampuan. Btw, "ingkari janji" tersebut dalam artian positif, yakni kerjakan atau selesaikan dalam waktu yang sesingkat2nya. Nah, dari sisi lain kita juga telah memberikan kejutan kepada orang lain dengan waktu yang lebih awal kita selesaikan. Sempat pula minum kopi dahulu..he..he..
Lain lubuk lain pula ikannya (ini sih pepatah). Kebanyakan kita (mungkin juga saya) biasanya berjanji ala calo. Besok bapak bias ambil dech!! Pas besoknya, kita bilang, wah sorry deh pak, habis yang menandatangai surat ini ngga datang lagi cuti. Coba ntar sore datang lagi. Atau ada nomor HP bapak yang bisa saya hubungi? Nanti kalau sudah selesai saya HP bapak. Ternyata dia nelpon seminggu kemudian. Wah jadi berabe kalo berjanji kayak ginian!!!
Sering saya berjanji dengan kolega disini dan hampir tidak ada mereka telat atau mengingkarinya, baik itu janji untuk diskusi atau pun hanya sekedar bertanya sesuatu. Pernah saya (berkali2 malah) mendatangi teknisi komputer disebelah ruangan kerja saya dan menanyakan sesuatu. Ok, katanya besok pagi akan saya jawab. Mungkin kalau kita baru pertama kenal dengan sifat orang Jerman akan kaget. Kok nanya gitu saja sampai besok pagi. Dengan melapangkan dada saya masuk ruangan. Dan ternyata 15 minute kemudian dia menjelaskan apa yang saya tanyakan, ngga perlu sampi besok pagi rupanya. Ada juga kasus yang lain, dimana saya menanyakan harga laptop pada waktu itu dengen merek Satellite 1900-102 (online price) kepada salah seorang teman. Ok, ntar besok saya kasih tahu, katanya. Penyelesaiannya kurang lebih sama, sekitar 20 minute kemudian dia masuk keruangan saya lengkap dengan hasil print-out apa yang saya minta. Lain pula kalau berjanji dengan pemerintahan, sebagai contoh immigration office, sering saya alami. Sebulan yang lalu saya mengurus sebuah document. Dan setelah konsultasi, mereka bilang akan kita kirimkan ke alamat anda dalam jangka waktu 6 minggu. Pernyataan ini juga tertera dalam kertas pengumuman. Hanya berselang waktu 3 minggu surat yang saya minta tersebut sudah sampai ke tangan.
Kasus ini hampir saya temukan selalu, sehingga dalam pikiran saya berjanji itu lebih baik "dimolorkan". Dalam artian pikirkan keadaan yang paling lambat dari kemampuan kita. Hal ini juga akan mengurangi stress kita, jika kita yang telah berjanji padahal itu diluar kemampuan. Btw, "ingkari janji" tersebut dalam artian positif, yakni kerjakan atau selesaikan dalam waktu yang sesingkat2nya. Nah, dari sisi lain kita juga telah memberikan kejutan kepada orang lain dengan waktu yang lebih awal kita selesaikan. Sempat pula minum kopi dahulu..he..he..
Lain lubuk lain pula ikannya (ini sih pepatah). Kebanyakan kita (mungkin juga saya) biasanya berjanji ala calo. Besok bapak bias ambil dech!! Pas besoknya, kita bilang, wah sorry deh pak, habis yang menandatangai surat ini ngga datang lagi cuti. Coba ntar sore datang lagi. Atau ada nomor HP bapak yang bisa saya hubungi? Nanti kalau sudah selesai saya HP bapak. Ternyata dia nelpon seminggu kemudian. Wah jadi berabe kalo berjanji kayak ginian!!!
Montag, März 15, 2004
Beranda rumah kita
Banyak yang membedakan antara hidup di Indonesia tanah kelahiran dengan tinggal diluar negeri, seperti Jerman yang saya alami. Dari sekian banyak perbedaan, beranda menjadi tofik menarik untuk dibahas pada kesempatan ini. Ada apa dengan beranda?
Pengertian beranda itu kurang lebih adalah pelataran depan rumah yang berfungsi sebagai awal masuknya ke sebuah rumah sebelum pintu. Jadi kalau kita akan memasuki rumah seseorang terlebih dahulu akan melalui pagar (jika dipagar)--halaman--beranda--pintu--ruang tamu dst. Itu kondisi umum yang kita temui dalam konteks pe-rumah-an di Indonesia.
Konsidi ini tidak saya temui saat pertama kali menginjakkan kaki di Jerman ini. Rumah orang kebanyakan adalah appartment yang tentunya takkan pernah ada dilengkapi dengan beranda, apa lagi pagar dan halaman. Milik kita hanya mulai dari pintu dst. Terkadang rindu akan keberadaan beranda rumah ini menginggatkan keluarga dirumah. Karena biasanya setiap sore, beranda menjadi ajang dan tempat bercengkrama sesama anggota keluarga dan juga tetangga, bahkan tamu sekalipun. Makanya tatkala saya mengenal Beranda rumah kita pertama kali di dunia maya, dengan headernya lengkap dengan gambar beranda yang sesungguhnya, jadi betah bertandang kesana. Suasana keakrapan sudah terasa saat klik menuju kesana, montreal Canada tempatnya. Banyak yang dapat kita temui dan baca disana dan dilengkapi lagi dengan kehadiran BloggerFamily yang merupakan ajang diskusi mengenai berbagai topik, iya itu dunia per-blog-an, dunia anak2, dunia masak-memasak, tempat jualan bahkan ada juga tempat untuk sekedar curhat. Lengkaplah sudah, sekarang blogger family menurut laporan Maknyak sudah berumur 4 bulan.
Nah, rasa rindu akan keberadaan beranda ini sedikit banyak akan terobati dengan kehadiran BerandaRumahKita dan BloggerFamily ini. Walau itu hanya didunia maya, selamat Maknyak dan kru BloggerFamily...!
Pengertian beranda itu kurang lebih adalah pelataran depan rumah yang berfungsi sebagai awal masuknya ke sebuah rumah sebelum pintu. Jadi kalau kita akan memasuki rumah seseorang terlebih dahulu akan melalui pagar (jika dipagar)--halaman--beranda--pintu--ruang tamu dst. Itu kondisi umum yang kita temui dalam konteks pe-rumah-an di Indonesia.
Konsidi ini tidak saya temui saat pertama kali menginjakkan kaki di Jerman ini. Rumah orang kebanyakan adalah appartment yang tentunya takkan pernah ada dilengkapi dengan beranda, apa lagi pagar dan halaman. Milik kita hanya mulai dari pintu dst. Terkadang rindu akan keberadaan beranda rumah ini menginggatkan keluarga dirumah. Karena biasanya setiap sore, beranda menjadi ajang dan tempat bercengkrama sesama anggota keluarga dan juga tetangga, bahkan tamu sekalipun. Makanya tatkala saya mengenal Beranda rumah kita pertama kali di dunia maya, dengan headernya lengkap dengan gambar beranda yang sesungguhnya, jadi betah bertandang kesana. Suasana keakrapan sudah terasa saat klik menuju kesana, montreal Canada tempatnya. Banyak yang dapat kita temui dan baca disana dan dilengkapi lagi dengan kehadiran BloggerFamily yang merupakan ajang diskusi mengenai berbagai topik, iya itu dunia per-blog-an, dunia anak2, dunia masak-memasak, tempat jualan bahkan ada juga tempat untuk sekedar curhat. Lengkaplah sudah, sekarang blogger family menurut laporan Maknyak sudah berumur 4 bulan.
Nah, rasa rindu akan keberadaan beranda ini sedikit banyak akan terobati dengan kehadiran BerandaRumahKita dan BloggerFamily ini. Walau itu hanya didunia maya, selamat Maknyak dan kru BloggerFamily...!
Abonnieren
Posts (Atom)