Freitag, Juli 23, 2004

DAA-DBL


Tatapan Dzakiyyah dan Fathur di bandara antar bangsa KL-Malaysia


Bagian keempat
„Pakcik ambil kursi tige saje kah?“, tanya seorang pramugari beberapa saat sebelum pesawat take-off. “Iya!” jawab saya pendek sambil melihat ke arah suara datang. Dengan sedikit berpikir dan tersenyum khas pramugari, “Oke lah, Pakcik! Nanti akan saye carikan bangku yang kosong, dan tak apa2kan nanti jaraknya berjauhan?”, tanyanya meyakinkan. “Nga! Ngga apa2”, jawab saya dengan bersemangat tentunya. Alhamdulillah ternyata setelah pintu pesawat ditutup yang menandakan ngga bakalan ada lagi penumpang yang akan masuk, pramugari tadi kembali mendatangai kami dan meyakinkan bahwa yang kosong itu pas disamping kita. Jadi, yang tadinya kita pesan 3 kursi (1 depan dan 2 dibelakangnya), ternyata kita dapat 6 kursi kosong. Kita sama2 mengucapkan alhamdulillah. Ternyata Allah sangat sayang sama kita.

Di saat pesawat perlahan2 meninggalkan bandara, saya mengeluarkan videocamera untuk mengabadikan detik2 berharga tsb. Moncong kamera saya arahkan ke salah satu jendela sebelah kanan yang kebetulan ada seorang kakek Jerman yang berumur sekitar 65 tahunan yang juga sedang asyik dengan videocameranya. Dia mengacungkan jari jempol sebari tersenyum sebagai ungkapan mari kita abadikan pemandangan ini, begitu kurang lebih. Dengan semangat saya memberitahukan Dzakiyyah proses take-off nya pesawat dan sekalian menunjukkan pemandangan indahnya kota Frankfurt yang dilihat dari ketinggian. Perlahan dan pasti pesawat bergerak menuju landasan pacu, putar haluan ke arah yang dituju, mulai cepat dan sangat cepat lalu terasa pesawat sudah mengarah menuju awan dan terbang, terus terbang. Dzakiyyah antara acuh dan tak acuh melihat rumah2 dan gedung2 tinggi di kota Frankfurt yang perlahan mulai mengecil. Terlihat juga dengan jelas kelokan2 sungai Main yang membela kota internasional ini dan salah satu aset yang menjadi objek wisata dan kebanggaan kota ini.

Saya perhatikan dalam2 Dzakiyyah dan Fathur, tak ada sedikitpun mereka takut dan juga tak ada sedih. Mulailah Dzakiyyah mengambil koran dan membukanya seperti orang2 yang duduk disamping. Tentunya hanya lihat dan belum mengerti isinya. Trus ambil lembaran petunjuk keselamatan penerbangan. Lalu ditaruhnya lagi, sampai akhirnya dia menemukan keasyikan sendiri dengan remote video/radio yang ada disisi kanan seatnya. Sementara Fathur sudah mulai bosan duduk sendirian. Sesekali dia berusaha melihat Ayuknya yang duduk dikursi depan. Sedangkan mama mereka memejamkan mata untuk menghindari mabuk penerbangan. Untuk Fathur inilah pertama kalinya terbang dengan pesawat, karena dia lahir di Jerman dan belum pernah pulang ke Indonesia.


Dzakiyyah lagi asyik mendengarkan musik


Setelah pesawat mencapai ketinggian tertentu, sekitar 8.000-10.000 feet mulai pramugari menyebarkan menu makanan yang ditawarkan ke penumpang. Tidak susah memilih makanan naik MAS ini, karena selera melayu dan juga ditulis halal. Tinggal memilih selera. Nah, pembagian makanan Dzakiyyah dan Fathur serta penumpang anak2 lainnya mendapatkan paket makanan paling duluan baru yang lainnya. “Selamat menjamu selera!”, itulah kata pramugari setelah menghidangkan makanan kepada kita. Wow enak bangeeet makanannya. Pokoknya nanti kalau mau terbang lagi naik MAS dech. Makanan dan minuman datang silih berganti sampai hari larut malam. Pesawat terus terbang menuju Kuala Lumpur. Dzakiyyah asyik dengan nonton video Tom & Jerry yang memang film kesukaannya. Fathurpun sudah beranjak ke tempat kita, sambil dia bolak balik jalan kesana-kemari. Akhirnya merekapun tertidur pulas dengan selimut warna ungu kotak2. Dzakiyyah tidur dengan dua bangku dan Fathur cukup dengan satu bangku saja. Sesekali video menayangkan arah Makkah (Kiblat) yang menunjukkan arah sholat bagi yang akan menunaikan sholat Magrib atau Isya.


Fathur mulai bosan duduk sendiri di seatnya


Duabelas setengah jam kurang lebih mendaratlah Boeing 777-200 yang kami tumpangi di Bandara Antar Bangsa KL. Waktu tempatan menunjukkan pukul 07.00 shubuh, tanggal 25 Juni. Alhamdulillah, satu estafet penerbangan telah kita lalui. Sambil mencari dan bertanya gate penerbangan tujuan Jakarta kamipun naik kereta listrik menuju lokasi pemberangkatan selanjutnya. Suasana masih sedikit gelap dan wajah2 melayu simpang siur dengan aktivitas masing2.